Renungan Harian, Rabu 28 Juni 2017

Ilustrasi buah tidak sesuai pohonnya

Ilustrasi buah tidak sesuai pohonnya

Rabu Biasa XII, Pw. St. Irenus, Uskup dan Martir

Bacaan: Matius 7:15-20

Hal pengajaran yang sesat

7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Renungan

Menunggu pohon berbuah berarti membiarkan pohon itu berproses. Menunggu berarti mau terlibat dalam sebuah proses, tidak instan dan spontan, juga tidak reaktif, tetapi aktif. Pohon anggur sesuai dengan prosesnya akan menghasilkan buah anggur. Pohon duri sesuai dengan prosesnya akan menghasilkan duri. Dalam proses, setiap dinamika hidup artinya diuji dalam waktu. Dalam bahasa kita sering kali terdengar “biar seleksi alam yang memprosesnya”.

Yesus mengingatkan kiat tentang nabi yang teruji oleh waktu atau tidak. Ada nabi yang begitu berkobar-kobar, namun tidak bertahan lama. Buahnyapun juga tidak sesuai. Ada pula nabi yang bahkan tidak terdengar suaranya, namun teruji oleh waktu, buahnya sangat bagus dan berdaya guna. Dari buahnyalah kita melihat sang nabi.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil menjadi nabi-nabi cinta kasih dan pelayan perdamaian dan rekonsiliasi. Memang menjadi nabi sering kali tidak mudah, bahkan mungkin juga tidak enak dalam ukuran manusia. Menjadi nabi berarti siap untuk dicap macam-macam, ditolak banyak pihak bahkan dengan yang seiman, dikucilkan dan dimusuhi. Menjadi nabi berarti siap untuk sampai pada kemartiran seperti yang diteladankan st Ireneus, menumpahan darah karena mempertahankan iman.

Tidak jarang dari kita ada yang sudah merasa demikian, memperjuangkan iman sampai berdarah-darah. Tapi mudah putus asa karena tidak dipandang orang, tidak mendapat pengargaan. St. Ireneus mendapat ‘gelar’ jauh setelah kematiannya. Imannya tahan waktu dan berbuah kebaikan.

Pertanyaan bagi kita, setelah kita memperjuangkan iman, buah apa yang mampu kita hasilkan? Seberapa tahan kita berhadapan dengan ujian waktu?

Apakah konsisten disatu sisi mengajarkan kasih, namun disisi lain membenci orang yang tidak sepandangan atau tidak menyenangkan?

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka”. Tuhan memberkati.

 

66 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *