Renungan Harian, Jumat 16 Juni 2017

Ilustrasi Bejana Tanah Liat

Jumat Biasa X

Bacaan: 2 Korintus 4:7-15

Bejana Tanah Liat

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. 4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Renungan

Baru-baru ini menteri Pendidikan RI hendak menerapkan full day school bagi seluruh sekolah di Indonesia, mulai hari Senin sampai Jumat. Sementara Sabtu dan Minggu menjadi hari keluarga, anak-anak dididik oleh keluarga. Ada banyak komentar dan tanggapan berkaitan dengan itu. Ada juga yang mengajukan keberatan dan peninjauan kembali. Tidak semua daerah di Indonesia siap dengan sistem seperti itu. Masih banyak anak yang harus menempuh jarak yang jauh dan medan yang tidak ideal untuk menujuk ke sekolah.

Kiranya rancangan tujuan dari sistem full day school itu adalah untuk semakin meningkatkan kualitas para siswa. Selain itu ada hari untuk keluarga juga bertujuan untuk mendekatkan anak dengan keluarga. Mencetak peserta didik yang tangguh dan hebat adalah kemauan dari orang tua dan mereka yang terlibat dalam sistem pendidikan.

Salah satu bahaya yang paling besar berkaitan dengan target itu adalah kenyataan bahwa tidak semua peserta didik mampu sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pengertian tertentu, ada banyak peserta didik yang gagal. Pertanyaannya adalah apakah setiap peserta didik juga sudah disiapkan dengan kegagalan-kegagalan yang sangat mungkin terjadi?

Target yang tinggi mempunyai efek kajatuhan yang tinggi juga, demikian juga dengan efek frustasinya.

St. Paulus mengingatkan kepada jemaatnya untuk selalu sadar bahwa mereka adalah bejana tanah liat. Bukan mau mengatakan bahwa mereka itu lemah adanya, tidak mempunyai daya juang dan daya tahan. Tetapi bejana tanah liat itu hendak menunjukkan siapa jati diri manusia dihadapan Allah. Manusia tidak ada apa-apanya dihadapan Allah. Manusia dengan segala kelemahannya tidak berdaya dihadapan Allah.

Tetapi bejana tanah liat itu menjadi kuat dan elok karena di dalamnya ada Kristus yang hadir. Meski mudah hancur namun tidak mengalami putus asa, meski gagal tidak mengalami kesedihan, meski buta tapi tetap punya harapan. Itu semua karena Kristus, Sang Perancang bejana tanah liat. “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.”

Kehebatan dan kekuatan kita terletak di dalam proses pembentukan bejana tanah liat. Semakin dimurnikan dalam Kristus, bejana itu akan menjadi semakin kuat dan indah, meskipun hanya terbuat dari tanah liat. Prestasi boleh saja bergudang-gudang, namun hati kita tetap kokoh kuat di dalam Kristus.

 

104 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *