Renungan Harian, Kamis 8 Juni 2017

4114907217_46841b3106_z

Kamis Biasa IX

Bacaan: Markus 12:28-34

Hukum yang terutama

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” 12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Masih dalam rangkaian pengajaran, hari ini Yesus menjelaskan tentang hukum yang utama. Hukum yang utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Semakin banyak orang yang bertanya, semakin leluasa Yesus menjelaskan dengan tepat. Semakin banyak pula kita juga mengetahui apa yang menjadi inti dari pengajaran Yesus. Penjelasan dan jawaban-Nya menjadi bagian konkret dalam hidup kita setiap hari sebagai orang yang bersinggungan dengan oran lain.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak mungkin lepas dari orang lain. Sekecil apapun, orang lain mempunyai pengaruhnya pada kita. Sebesar apapun kita, belum tentu mempunyai pengaruh yang besar bagi orang lain. Yang jelas bahwa kita masing-masing mempunyai pengaruh pada lingkungan sekitar kita.

“Kasihilah sesamu manusia” menjadi klausul yang sangat penting dalam hukum yang utama ini. Kata Yesus adalah ‘sesamu manusia’, bukan kasihilah orang yang mengasihi kamu. Maka hukum kasih kepada sesama menjadi universal, bagi semua jenis manusia, tanpa terkecuali. Demikian juga dengan kasih kepada Tuhan. Tidak jarang kita akan mampu mengasihi Tuhan ketika Dia ‘menuruti’ apa yang menjadi kehendak kita. Tetapi ketika apa yang kita mohonkan terasa tidak dikabulkan, seketika itu juga dengan mudah kita menghojat, bahkan lari dari Tuhan.

Mempunyai sikap kasih yang tulus berarti kita juga mengakui bahwa Tuhan itu Esa. Ukuran yang paling jelas ketika kita mengatakan mengasihi Tuhan adalah ketika kita juga berani mengasihi sesama dengan apa adanya, tanpa syarat apapun.

Mari terus menerus mohon rahmat Tuhan agar kita juga mempunyai kasih yang demikian. Tidak banyak artinya jika kita berani mencintai alam sampai berdarah-darah, namun ketika melihat sesama manusia yang berdarah-darah justru tidak tergerak sama sekali.

Kasih di dalam segalanya. In necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas. Dalam kehendak, kesatuan; dalam keraguan, merdeka; dalam segalanya, kasih.

Berkah Dalem…

 

96 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *