Tiga Buah Batu, Seni Perlawanan Bung Karno di Benteng Marlborough

Seorang pengunjung sedang menyaksikan diorama patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di Benteng Marlborough, Kota Bengkulu.(KOMPAS.COM/FIRMANSYAH)

Seorang pengunjung sedang menyaksikan diorama patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di Benteng Marlborough, Kota Bengkulu.(KOMPAS.COM/FIRMANSYAH)

ENGKULU, RADIO SUARA WAJAR – Benteng Marlborough di Kota Bengkulu berusia lebih dari tiga abad. Ini merupakan benteng terbesar di Asia Tenggara dibangun pada 1714 hingga 1741 oleh Inggris.

Dibangun untuk menguasai perdagangan pala, lada, kopi di bawah perusahaan dagang Inggris, East Indian Company (EIC), dan pusat pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.

Benteng yang jika dilihat dari udara ini berbentuk kura-kura dalam beberapa bulan terakhir mengalami pengayaan kisah sejarah. Terdapat beberapa diorama, patung, dan catatan ilmu pengetahuan ditambahkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Salah satu diorama yang cukup memukau ribuan pengunjung yakni patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier. Keduanya dipisahkan oleh satu meja terdapat dua buah kursi. Kursi tersebut tidak digunakan duduk oleh kedua tokoh itu.

Di atas meja terdapat tiga buah batu yang disusun oleh Bung Karno. Diorama menggambarkan Bung Karno menunjuk batu yang disusun bertumpuk, sementara Maier tampak melipat kedua tangan di depan dada.

Diorama tersebut cukup memukau. Diorama semakin memiliki aura karena dilatari beberapa keterangan di antaranya dikutip dari buku karya Cindy Adams berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

Dalam buku karangan Cindy Adams disebutkan kisah tersebut terjadi saat Bung Karno diinterogasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membuat sebuah tugu peringatan akibat serangan Jerman ke Belanda pada Mei 1940.

Namun dari beberapa literatur lain Bung Karno membantah jika ia diinterogasi dalam perkara itu. Saat itu Bung Karno berada dalam pengasingan di Bengkulu. Terdapat pula keterangan Bung Karno ditulis dalam diorama itu.

“Pada Mei 1940 Hitler menyerbu Negeri Belanda. Pemerintah kolonial Belanda segera memanggilku ke kantor mereka di Fort Marlborough, sebuah benteng dari batu dan besi berhadapan dengan sebuah tebing yang curam, wajah-wajah mereka kelihatan murung”.

Tulisan di diorama berlanjut, “Ir Soekarno… mereka berkata, Kami ingin memperingati peristiwa yang tidak menyenangkan ini. Sebagai satu-satunya seniman Bengkulu, anda ditunjuk untuk membuat sebuah tugu peringatan”.

Dalam diorama Bung Karno menjawab, “Maksud anda, setelah menghukumku karena aku menghendaki kemerdekaan untuk rakyatku, tiba-tiba sekarang anda meminta kepadaku, tahanan anda, untuk membuat sebuah tugu karena bangsa lain merebut kemerdekaan negeri anda?”

“Meski aku ingin memuaskan selera seniku, apa yang kulakukan hanyalah menumpukkan tiga buah batu, yang satu di atas yang lain. Dari itulah semua yang kukerjakan. Sebetulnya mereka ketakutan. Tetapi aku justru tidak punya perasaan seperti itu dalam menciptakan sesuatu yang indah bagi mereka,” tulisan diorama berakhir hingga kalimat ini.

Beberapa pengunjung Benteng Marlborough mengaku terharu setelah melihat dan membaca diorama tersebut.

Bung Karno merupakan seorang seniman, namun ia tahu seninya hanya untuk pembebasan dan keadilan.

“Saya merasa terharu dan bangga mengetahui kisah tiga buah batu Bung Karno ini. Ia merupakan seniman yang sungguh menjunjung tinggi idealisme, seni bagi dia merupakan pembebasan. Ia menolak permintaan Belanda untuk membuat tugu peringatan, namun ia ganti dengan tiga tumpuk batu. Ini keberanian bagi Bung Karno dan penghinaan untuk Belanda,” kata Tara, salah seorang pengunjung.

Tara melanjutkan, tindakan Bung Karno menolak membuat tugu peringatan lalu mengganti dengan menumpuk tiga buah batu adalah bentuk perlawanan khas seniman sekaligus pemimpin pergerakan kemerdekaan. Keberanian tersebut sulit didapat pada manusia Indonesia saat ini.

“Ini bentuk keberanian melawan penindasan, padahal saat itu Bung Karno adalah tahanan Belanda, di bawah tekanan, namun ia tetap melawan dengan gaya khas seniman. Saya bangga, semoga diorama ini membuka idealisme kebangsaan generasi muda,” ujar Tara.***

Editor        : Robert

Sumber     : KOMPAS.com

45 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *