Uskup Kesukupan Tanjungkarang Mgr Yohanes Harun Yuwono

KEUSKUPAN SUFRAGAN TANJUNGKARANG

 

surat gembala paskah 2017:

 

KELUARGAKU BANGKIT BERSAMA KRISTUS

 

Saudara-saudari terkasih,

Kembali kita sampai pada pesta Paskah – Hari Raya Kebangkitan Tuhan – setelah kita melalui masa pra-Paskah dengan permenungan Pepasgelar III. Ada banyak pelajaran yang dalam dan mungkin juga sulit selama pendalaman iman. Namun kita meyakini bahwa kita disemangati oleh sejarah masa lampau Gereja kita dan didorong untuk merencanakan harapan baik bagi perjalanan Gereja kita ke depan. Semoga kita bisa bangkit bersama Kristus dan dengan semangat yang berkobar menghidupi hidup yang baru.

Seperti yang telah kita jalani bersama dalam persiapan Perpasgelar III di lingkungan-lingkungan di Paroki kita masing-masing, kita ingin bersyukur atas iman saudara-saudari para pendahulu kita dan kita ingin meneladani iman mereka untuk kehidupan kita sekarang dan ke depan. Transfer iman tersebut yang telah tidak kenal lelah dijalankan oleh para pendahulu kita, baik imam, suster, maupun para awam, bahkan mungkin para kakek-nenek dan orang tua kita sendiri; hendak kita lanjutkan ke generasi sesudah kita, agar keselamatan Allah merangkul sebanyak mungkin manusia. Sungguh hakekat Gereja adalah Katolik dan Apostolik, yang berarti bagi semua orang dan berdasarkan ajaran para Rasul yang terus diwariskan turun-temurun.

 

Paskah adalah Kebangkitan Tuhan

Yesus bangkit. Dia mengalahkan kematian. Penderitaan berat yang dialami Yesus tidak menjadikan Dia putus asa dan berhenti menunaikan tugas luhur menyelamatkan manusia. Yesus mempunyai semangat pantang mundur dalam melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Dia sungguh percaya bahwa Bapa ada di pihak-Nya sebab Dia dan Bapa adalah satu (Yoh 10: 30). Maka Yesus berani menanggung penderitaan-Nya dengan rela. Dia tetap penuh semangat menyelesaikan perutusan-Nya sampai akhir, sampai selesai (Yoh 19: 30).

Mencermati semangat Yesus kita menjadi mengerti bahwa putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup bukanlah sikap kristiani. Setiap zaman sesungguhnya mempunyai kesulitannya sendiri. Kemanusiaan kita justru menjadi semakin tangguh dan beradab melalui kesulitan dan tantangan yang kita hadapi. Kesulitan dan tantangan selalu mempunyai jalan keluar yang semakin memanusiawikan kita. Tuhan meyakinkan kita bahw tidak seluruh hidup kita akan berkubang dalam kesulitan, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat 6: 34).

Yesus yang mati dengan wajah yang tidak menyerupai manusia lagi (bdk. Hamba Tuhan yang  menderita, Maz 52: 14), menjadi mulia dalam kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya mengatasi keterbatasan kemanusiaan-Nya. Dalam kebangkitan-Nya Yesus menghidupi hidup yang baru. Yesus memasuki kembali secara penuh kehidupan Allah. Hanya Allah yang mempunyai kehidupan dalam Diri-Nya sendiri. Allah adalah sumber dan tujuan hidup manusia. Karena Yesus satu dengan Bapa maka Dia juga mempunyai kehidupan yang tidak bisa dikalahkan oleh kematian (Yoh 1: 4-5). Yesus adalah Sabda Allah yang sejak semula bersama dengan Allah (Yoh 1: 1).

 

Paskah Adalah Kebangkitan Kita Semua

Kebangkitan Yesus menunjukkan kepada kita sebesar dan seberat apapun penderitaan kita dalam hidup ini tidak pernah boleh menjadikan kita berpaling dari Allah. Kita harus yakin bahwa Allah bukanlah sumber penderitaan. Kita tidak boleh mempersalahkan Allah dalam penderitaan manusiawi kita. Allah justru menginginkan kebaikan dan kesejahteraan kita. Yesus, sebagai ungkapan penuh pewahyuan Allah, dalam hidup-Nya di dunia ini berkali-kali menyembuhkan orang dari berbagai penderitaan dan penyakit. Dia bahkan menghidupkan orang-orang mati (lih Luk 7: 11 – 17;  8: 49 – 56; Yoh 11: 1 – 44). Allah dalam diri Yesus adalah Allah yang maha baik dan penuh kerahiman. Allah yang maha baik itu menghadiahi kita kehidupan yang merupakan milik-Nya. Manusia hidup karena nafas Allah (Kej 2: 7). Karena kita ambil bagian dalam kehidupan Allah, maka seperti Yesus, kita tidak akan mati sia-sia setelah mengarungi kehidupan di dunia ini.

Karena Yesus yang bangkit menghidupi hidup yang baru maka setiap perayaan Paskah adalah perayaan sukacita sekaligus undangan untuk pembaharuan hidup. Kita bersyukur karena ditebus dan kita diundang untuk hidup baru bersama Kristus.

 

Keluargaku Bangkit Bersama Kristus

Selain transfer iman dari generasi terdahulu, dalam pendalaman Perpasgelar III kita juga telah merenungkan pentingnya memelihara keluarga kita masing-masing. Keluarga adalah sel inti kehidupan masyarakat kita. Dalam segala kelemahan dan kerapuhan kita, kita ingin tetap mempertahankan keluarga kita utuh, harmonis dan sejahtera. Oleh karena itu segala usaha baik hendaklah kita tempuh untuk menghidupi keluarga kita sehingga menjadi keluarga yang baik.

Seperti para pendahulu kita, marilah kita mengusahakan transfer iman kepada generasi muda dalam keluarga kita. Untuk itu para orang tua mempunyai tanggung jawab mulia sebagai katekis pertama dalam hidup anak-anak. Jadikanlah anak-anak Anda bangga mempunyai Anda sebagai orang tua mereka, sebagai pengajar dan panutan dalam menghidupi iman, sebagai teladan dalam bertingkah laku jujur dan benar, sebagai contoh nyata dalam mengamalkan kasih dan toleransi, dan dalam hidup sehat bermartabat. Sungguh, keluarga adalah sekolah kemanusiaan tempat menyemai benih-benih iman dan peradaban luhur kemanusiaan.

Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, karena setiap keluarga terdiri dari anggota-anggota yang tidak sempurna. Ketidak sempurnaan ini mengundang kita untuk hidup rendah hati dengan terus menerus membaharui diri sambil menaruh belas kasih dan kesabaran suka rela terhadap kelemahan orang lain. Sungguh kita diciptakan oleh Allah untuk saling melengkapi dan bukan untuk saling mengkhianati. Hanya dengan melakukan tindakan kasih yang memungkinkan kita bisa menerima kekurangan orang lain dan melengkapinya sehingga menyembuhkan kekurangan itu. Setiap orang akan merasa bahagia dan bersyukur karena merasa beruntung jika menjadi bagian dari keluarga yang bisa mengasihi tanpa pamrih, mengampuni tanpa merasa terhina, berbagi tanpa merasa rugi, dan mau berkorban dengan suka rela tanpa mengharapkan balas jasa.

Marilah kita menyadari sungguh-sungguh bahwa keluarga-keluarga masa kini mendapatkan ancaman gaya hidup negatif yang bisa meruntuhkan nilai-nilai luhur keluarga kita. Gaya hidup negatif itu seumpama “penyakit” yang menggerogoti dan mengancam kesehatan keluarga. Gaya hidup negatif yang dimaksudkan adalah: sikap permisif yang mengabaikan iman, moral dan kesusilaan. Generasi muda kita tidak mempunyai iman semilitan iman para pendahulu kita walaupun mungkin pengetahuannya lebih baik dari pendahulunya. Generasi sekarang mempunyai kecenderungan memiliki mentalitas hidup materialis, komsumeris, hedonis, dan mentalitas instan. Orang bangga disebut orang sukses jika memiliki barang-barang material yang mewah. Hati nurani tidak diasah dan karena itu menjadi tumpul. Karena tumpul hati nurani tidak terusik oleh tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat merugikan kesejahteraan kehidupan bersama bangsa kita. Penyalahgunaan narkoba yang diiringi dengan maraknya tindak kejahatan, human traficking, seks bebas, perselingkuhan dan bahkan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur dari orang-orang dekatnya hampir setiap hari menghiasi media massa. Ketidakmatangan dalam membentuk rumah tangga melahirkan perbudakan dan KDRT yang bisa berujung pada keretakan dan menimbulkan luka batin permanen. Ajakan beradab secara publik melalui habitus baru (SAGKI 2005) dan ajakan revolusi mental dari pemerintah kita (sejak 2014)  tidak membekas dan seperti angin lalu. Apakah kita memang tidak bisa berubah menjadi baik?

Dalam konteks Paskah – Kebangkitan Tuhan – marilah kita mengajak semua anggota keluarga kita untuk hidup secara baru. Marilah sungguh-sungguh menyadari bahwa keluarga adalah ecclesia domestica (gereja kecil) dan sekolah kemanusiaan yang dikehendaki dan diberkati oleh Allah (bdk. Kej 1: 28). Marilah kita tetap bangga sebagai orang Katolik dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur keluarga kristiani. Kita tidak perlu minder walau kita minoritas di tengah masyarakat lain yang mungkin mempunyai pemikiran yang berbeda tentang nilai-nilai luhur keluarga, kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan sejati. Tetaplah teguh mengimani kehendak Allah bahwa keluarga yang harmonis, yang menghidupi cinta kasih tak kenal lelah, akan melahirkan generasi muda yang beradab dan manusiawi.

Semoga Perpasgelar kita yang kita jalankan thaun ini akan membawa kita ke dalam kesegaran menghidupi iman kristiani kita. Selamat Paskah 2017.

 

 

Tanjungkarang, 15 Maret 2017

Salam dan berkatku,

 

 

Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Uskup Keuskupan Tanjungkarang

 

 

 

140 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *