Kinerja Pembangunan Pemerintah Provinsi Lampung Tahun 2016

Presiden RI Joko Widodo (kiri) saat menyerahkan penghargaan kepada Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo (kanan) pada puncak Peringatan Hari Pramuka ke-55 dan Pembukaan Jambore Nasional Ke-X 2016, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta.
Presiden RI Joko Widodo (kiri) saat menyerahkan penghargaan kepada Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo (kanan) pada puncak Peringatan Hari Pramuka ke-55 dan Pembukaan Jambore Nasional Ke-X 2016, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta.

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR — Provinsi Lampung pada tahun 2016 mampu memperbaiki ranking kinerja keseluruhan bidang dalam hal daya saing dari peringkat 25 pada tahun 2015 ke peringkat 18 pada tahun 2016.

Kekuatan Lampung dapat dilihat dalam hal ini kualitas kehidupan, pendidikan, dan stabilitas sosial, fleksibilitas pasar tenaga kerja dan kemampuan finansial dan efisiensi bisnis.

Demikian terungkap pada refleksi akhir tahun 2016 yang disampaikan oleh Gubernur Lampung M Ridho Ricardo beberapa waktu lalu.

Selanjutnya Gubernur mengatakan bahwa Indeks Ketahanan Nasional ( IKN) Provinsi Lampung dengan skor 2,86 menempati urutan tertinggi di Sumatera dan urutan ke 6 Nasional. Skor IKN Nasional saat ini 2,66.

“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2016 tercatat 5,26% ( yoy ) diatas rata rata sumatera (3,88%) juga diatas nasional (5,4%),” kata Gubernur.

Menurut Gubernur, perekonomian Lampung didominasi oleh tiga faktor utama yaitu pertanian, perikanan, kehutanan menyumbang 33,30%, industri pengolahan 18,20%, perdagangan dan reparasi kendaraan menyumbang pertumbuhan ekonomi Lampung sebanyak 11,15%.

“Di bidang investasi pada triwulan III- 2016, nilai investasi PMA tercatat Rp. 939,33 milyard atau mengalami peningkatan sebesar 115% dibandingkan periode yang sama tahun 2015,” bebernya.

Nilai investasi PMDM triwulan III-2016 dijelaskannya mencapai 859,13 milyard atau meningkat 160% dibandingkan triwulan III-2016.

“Neraca perdagangan luar negeri periode Januari – November 2016 mengalami surplus. Nilai total ekspor lebih besar US$ 644,74 juta dari nilai total import,” jelasnya.

Dikatakan Ridho nilai ekspor pada November 2016 mencapai US$ 375,32 juta sehingga mengalami kenaikan 0,81% dibandingkan ekspor pada Oktober 2016.

“Dibandingkan pada November tahun 2015 ekspor Lampung mengalami kenaikan 26,54%, dimana pada saat itu nilai ekspor tercatat US$ 296,61 juta,”.

“Sedangkan nilai nonmigas pada November 2016 mencapai US$ 224,41 juta mengalami kenaikan 11,69% dibandingkan Oktober 2016. Nilai import November 2016 naik 14,42% jika dibandingkan pada November 2015,” lanjutnya.

Masih menurut Ridho, secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) triwulan III di Provinsi Lampung tercatat sebesar 2,47% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,15% (yoy).

“Secara kumulatif, inflasi di Provinsi Lampung juga tercatat masih di bawah 2% atau sebesar 1,19%(ytd). Inflasi yang relatif rendah dan terkendali tersebut bersumber dari masih terkendalinya inflasi pada kelompok pangan (volatile food) khususnya pada komoditas bawang merah, cabai rawit dan telur ayam ras,” beber Ridho.

Meskipun demikian, ditambahkan Ridho, di saat yang sama terdapat peningkatan harga pada kelompok inti (core) akibat kenaikan biaya pendidikan di Kota Bandar Lampung dan meningkatnya inflasi pada kelompok administered prices (AP) seiring dengan kenaikan harga rokok sehingga mendorong laju inflasi menjadi lebih tinggi.

“Di sisi lain, ekspektasi masyarakat terhadap inflasi menunjukkan adanya peningkatan seiring dengan mulai masuknya musim penghujan, harga minyak dunia yang mulai meningkat serta nilai tukar Rupiah yang terus menguat,” katanya.

Menurut Gubernur Lampung, peningkatan investasi, nilai ekspor dan juga tingkat inflasi yang terkendali berdampak kepada Nilai Tukar Petani (NTP).

“NTP Provinsi Lampung merupakan yang tertinggi di wilayah Sumatera. Hanya Lampung dan Bangka Belitung yang memiliki NTP diatas 100 yang berarti tingkat kesejahteraan petani Lampung mengalami peningkatan dibandingkan periode tahun dasar (tahun 2012),” katanya.

“Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia ( IPM)/Iman Development Index ( HDI) yakni dengan pengukuran perbandingan dari angka harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup yang berlaku untuk Negara di seluruh dunia merupakan salah satu indikator maju atau mundurnya suatu daerah ataupun negara,” bebernya kemudian.

Disamping itu juga menurut Gubernur, merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan pemimpin daerah atau negara dalam mensejahterakan masyarakatnya.

Di tempat yang sama Kepala Dinas Komunikasi dan Infomatika Sumarju Saeni mengatakan IPM Lampung terus mengalami peningkatan mulai tahun 2011 sebesar 64,20 kemudian meningkat menjadi 66,42 pada tahun 2014 dan tahun 2015 menjadi 66,95 atau meningkat 0,53 poin dibandingkan dengan IPM Lampung pada 2014.

“Angka ini masih jauh dari indeks nasional yang mencapai 69,55,” katanya.

Menurut Sumarju Saeni pada tahun 2015, pembangunan manusia di Lampung masih berstatus “sedang” sama dengan statusnya pada tahun 2014, pengeluaran per kapita disesuaikan (harga konstan 2012) masyarakat telah mencapai 8,729 juta rupiah pada tahun 2015, meningkat 253 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya.***

Reporter : Robert

119 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *