Radio di Era Media Sosial

Ilustrasi. Foto : https://www.marriottonthefalls.com
Ilustrasi. Foto : https://www.marriottonthefalls.com

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR — PASANG naik dan surut sebuah organisasi merupakan hal yang lumrah dan biasa. Dinamika yang ditimbulkan perkembangan eksternal dan internal selalu terjadi. Terkini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mengakibatkan perubahan drastis dalam perilaku publik memperoleh hiburan dan informasi. Merebaknya media sosial dan media daring menimbulkan tanda tanya apakah media radio masih relevan. Lebih jauh apakah radio siaran masih mampu bertahan dan bersaing.

Menurut sebuah survei, masyarakat masih memerlukan media radio. Selain biaya mengaksesnya relatif murah, radio mampu menjangkau jutaan pendengar yang tersebar di berbagai tempat dengan kondisi geografis beragam.

Dalam konteks itulah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) yang genap berusia 42 tahun pada 17 Desember 2016 punya peran penting. Organisasi yang telah memasuki usia hampir setengah abad itu punya 770 anggota tersebar dari Sabang sampai Papua. Di sisi lain peran sertanya dalam pembangunan nasional tidak diragukan lagi. Agar tetap mendapat tempat di kancah persaingan media, setidaknya ada tiga hal yang perlu dikembangkan anggota PRSSNI saat ini. Pertama, PRSSNI harus tetap konsisten sebagai wadah bagi cagar budaya bangsa. Dengan jangkauan siar yang mampu membelah khatulistiwa Nusantara, eksistensi PRSSNI sebagai organisasi cukup tangguh untuk nguri-nguri (menjaga dan menghidupkan) kearifan budaya.

Ketika media sosial kontemporer justru menjadi wahana efektif untuk menyebarluaskan budaya yang tidak selaras dengan jati diri bangsa, radio harus bisa menjadi tempat kembali dan menjawab hal tersebut. Dalam sebuah kesempatan belum lama ini, Presiden Joko Widodo mempertanyakan kecenderungan yang berkembang di media sosial. Di sana muncul hujatan, cacian, fitnah, menebar kebencian, dan menyebarluaskan berita palsu (hoax). Tanpa mengabaikan manfaat positifnya, media sosial punya andil besar dalam percepatan degradasi jati diri bangsa.

Dalam konteks yang lebih besar, pudarnya jati diri bangsa itu terefleksikan dari maraknya pola hidup individualis, materialistis, dan hedonis. Karena itu, instruksi Presiden untuk membentuk satuan tugas pemberantasan pungli semestinya diikuti dengan upaya komprehensif untuk membangkitkan kembali jati diri bangsa. Presiden dan jajarannya perlu segera merumuskan strategi kebudayaan guna membangun fondasi yang kukuh untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Radio bisa turut andil secara signifikan dalam upaya strategis tersebut.

Kita bisa merujuk pada success story kampanye Keluarga Berencana (KB) di era Orde Baru. Radio memainkan fungsi yang sangat strategis untuk menunjang keberhasilan kampanye tersebut. Radio akan bisa sangat elastis menyesuaikan dengan tuntutan zaman sehingga kontribusinya bisa sangat signifikan. Kedua, PRSSNI harus terus mengedepankan komitmen untuk menjaga NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai komponen bangsa, anggota PRSSNI yang tersebar di seluruh Indonesia bisa dijadikan ujung tombak dalam membangun dan memperkuat nasionalisme serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI.

Dalam sistem Hankamrata dan Wawasan Nusantara, pengamanan sebuah wilayah bukan saja tanggung jawab negara dan TNI, melainkan juga harus melibatkan semua unsur masyarakat. Dalam sejarah perang dunia kedua, peran dan fungsi radio sebagai media propaganda berandil besar dalam memenangkan peperangan. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno pertama kali disebarluaskan melalui radio. Hal itu langsung berimbas pada bangkitnya kesadaran dan semangat masyarakat sebagai sebuah bangsa dengan negara merdeka dan berdaulat.

Peduli lingkungan

Karena itu, tidak berlebihan kalau siaran radio saat ini harus mampu menjadi sarana untuk menanamkan dan memperkuat keindonesiaan. Radio harus menjadi bagian dari arus besar untuk membangun kesadaran serta wawasan tentang keragaman dan kebinekaan Indonesia. Yang terakhir, terkait dengan fakta bahwa saat ini kita memasuki era global warming. Pembangunan yang berkesinambungan bisa terwujud jika kita peduli terhadap lingkungan hidup. PRSSNI ditantang untuk menjadi teladan dalam mewujudkan green society, green community. Radio yang peduli lingkungan alias green radio menjadi keharusan.

Green radio tidak boleh jadi slogan saja, tetapi harus dipahami dan dimanifestasikan sehingga mampu memberi contoh konkret bagi masyarakat. Efisiensi pemanfaatan energi harus menjadi etos penyelenggara radio siaran. Program siaran yang prolingkungan dan propola hidup hijau harus mendapat porsi yang memadai. Selain itu, anggota PRSSNI harus berperan aktif dalam sosialisasi pentingnya energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Kesadaran tentang hal itu di kalangan masyarakat relatif masih rendah. Dengan demikian, peran sebagai aggregator sekaligus motivator mewujudkan masyarakat peduli pemanasan global bisa dijalankan dengan sepenuh hati dan percaya diri, bukan sekadar gimmick untuk meraup pasar dan pangsa iklan.

Tiga agenda strategis itu hanya bisa dijalankan jika anggota PRSSNI paham dan bisa ambil bagian dalam tren yang tengah berkembang di era komunikasi dan informasi saat ini. Pola yang dikembangkan tidak bisa merujuk ke era pembacaan teks proklamasi. Setiap era mengharuskan pendekatan dan kemasan program yang berbeda. Di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi saat ini, tidak ada media yang mampu eksis dengan berdiri sendiri dan menutup diri. Ini era sinergi dan konvergensi, termasuk sinergi dan konvergensi dengan media sosial yang makin signifikan perannya di tengah masyarakat. Inilah game yang harus dimainkan agar eksistensi radio siaran tetap terjaga dan bermakna. Hanya dengan itu, slogan ‘Satu Suara Berjuta Telinga’ akan menemukan relevansinya.***

Penulis     : Rohmad Hadiwijoyo (Ketua Umum PRSSNI)

Editor       : Robert

102 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *