Renungan Harian, Rabu 28 Desember 2016

Rabu Oktav Natal, Pesta Kanak-Kanak Suci, Martir

Bacaan: Lukas 2: 13-18

2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” 2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” 2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. 2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

Renungan

Sementara para gembala cepat-cepat pergi ke Yerusalem untuk mewartakan kehidupan baru, Herodes memerintahkan pasukannya cepat-cepat ke Yerusalem untuk membinasakan kehidupan baru. Demikianlah yang terjadi pada Herodes, ketakutan dirinya justru ditutupi dengan membinasakan anak-anak yang tidak mampu membela diri mereka sendiri. Jalan seperti ini dianggap sebagai jalan yang paling mungkin agar ‘raja’ yang baru dilahirkan tidak mengusik kekuasaannya.

Kita bisa membayangkan bagaimana kejinya Herodes dengan perintahnya ini. Anak-anak yang tidak bisa berbuat banyak hal, justru dihancurkan oleh mereka yang seharusnya melindungi mereka dari bahaya. Bukan perlindungan yang mereka dapat namun justru pedang. Kejahatan kemanusiaan yang tak terampuni apa yang dilakukan Herodes. Hewan pun mengerti jika harus melindungi bayinya, sementara Herodes justru memerintahkan pembunuhan. Merasa terancam dengan kabar yang ia dengar menjadikan jalan pikirannya sempit. Ia mengambil jalan pintas dengan mengendepankan kekuasaannya.

Pembunuhan itu terjadi pada jamannya. Gereja menjadikan moment ini sebagai sebuah kenangan iman. Gereja menjadikan anak-anak yang mati dibantai sebagai martir, mereka adalah anak-anak suci yang menerima kebengisan dunia. Tanpa tahu apapun, mereka justru menerima ‘hukuman’ sang penguasa. Jalan memburu Sang bayi Yesus tidak berjalan dengan mulus. Kanak-kanak mati suci karena ‘menyelamatkan’ bayi Yesus. Yesus dan keluarganya sudah pergi ke Mesir ketika peristiwa itu terjadi. Herodes merasa sudah berhasil dan aman, sampai Tuhan sendiri yang mengambil hidupnya. Namun saatnya belum tiba bagi Yesus. Herodes tidak mampu membinasakan Sang Bayi karena kuasa Allah Bapa menyertai-Nya.

Pembunuhan semacam ini sudah berlangsung hampir sepanjang masa. Diberbagai belahan dunia terjadi banyak pembunuhan masal dengan atas nama memperjuangkan kebenaran. Masing-masing mengklaim sebagai pihak yang benar dan sah, yang lain harus disingkirkan. Di Jakarta kamaren ditemukan anggota keluarga yang mati masal di kamar mandi karena disekap perampok. Karena harta benda semata, orang menganggap nyawa orang lain tidak berharga, seolah mereka bisa secara sah membunuh orang lain.

Berbagai bentuk perang juga semakin merendahkan nilai kehidupan manusia. Percobaan senjata-senjata pemusnah masal menjadi indikasi jelas bahwa semakin nilai hidup itu menjadi sangat relative. Padahal Tuhan menghendaki kehidupan itu bagi setiap ciptaan-Nya. Ia sama sekali tidak menghendakai adanya kebinasaan. Manusialah yang justru menciptakan kebinasaan, manusia yang diajak memelihara hidup justru menghancurkannya.

Praktek aborsi yang sudah jamak terjadi di dalam masyarakat mendukung upaya Herodes membinasakan anak-anak. Ada begitu banyak herodes di jaman ini yang menghendaki kematian. Prilaku koruptif dan penyebar zat aditif menjadi bagian dari herodes jaman ini.

Dimanakah posisi kita saat ini?

Doa

Ya Tuhan, ampuni dosa-dosa kami yang tidak mencintai kehidupan. Bantulah kami untuk mempunyai sikap tobat yang serius. Doronglah kami untuk semakin mencitai hidup kami dan hidup sesama kami. Semoga kekuasaan dan keegosian tidak memenjarakan diri kami sendiri dalam kebinasaan. Bantulah banyak orang tua yang tidak begitu saja mudah untuk melakukan aborsi. Tuhan, kami berdoa bagi banyak bayi yang tidak bersalah namun harus mati karena tindakan kami. Semoga mereka behagia dalam kerajaan surga. Amin.

 

138 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *