Renungan Harian, Sabtu 9 Desember 2016

Sabtu Adven II

Bacaan: Matius 17:10-13

17:10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” 17:11 Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu 17:12 dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” 17:13 Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Renungan

Dibanyak tempat, pembaharu tidak begitu saja mudah diterima dan dimengerti oleh orang lain. Mereka yang sudah nyaman dengan situasi mereka saat ini akan merasa terusik apabila adalah orang-orang yang akan mengadakan pembaruan. Jika sudah nyaman dengan kebobrokan hidup, maka sudah pasti akan menolak dengan keras jika ada yang hendak memperbaiki apa yang buruk. Kebaikan justru akan menjadi musuh terbesarnya, kebaikan justru akan mengancam dirinya. Maka segala daya upaya akan ia kerahkan supaya sang pembaharu tidak jadi mengbubah hidupnya.

Sebagai seorang nabi, Elia teguh menjadi ‘corong’ kebenaran. Ia tidak ragu mengkritik bobroknya kehidupan sosial jamannya. Ia tidak ragu menyuarakan kebenaran, ia mengingatkan para penguasa bahwa hidup mereka menjauh dari perintah Allah. Mereka perlu mengadakan pertobatan dan perbaikan hidup. Ia selalu membawa kabar bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Mereka yang merasa diuntungkan dengan situasi yang sudah nyaman begitu tidak menerima warta kenabian yang dibawa Elia.

Demikian juga dengan warta kenabian Yohanes Pembaptis. Justru ia ditangkap, dipenjara, dan mati dengan cara dipenggal kepalanya. Ia ‘berbeda’ dengan orang-orang jamannya, dan perbedaan itu justru dianggap sebagai ancaman para penguasa. Maka bagi mereka lebih baik ia ditenggelamkan dan tidak bersuara lagi. Namun ia meninggalkan warisan yang berharaga bagi para pengikutnya, yakni ia menunjukkan Sang Anak Domba kepada mereka semua. Yohanes Pembaptis membawa harapan keselamatan Allah.

Bagi kita, pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah kita berani menjadi seperti mereka, membawa warta kenabian. Resiko yang sudah hampir pasti kita terima adalah kita dianggap ‘aneh’ oleh orang-orang sejaman kita. Namun demikian, kita tetap layak bahwa di dalam Tuhan selalu ada harapan akan kebaharuan. Dunia lama akan diubah ke dalam dunia baru. Hidup kita yang lama kita tinggalkan dan masuk dalam hidup baru di dalam Tuhan.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berani menjadi nabi cinta kasih dan pelayan perdamaian di jaman ini. Bantulah kami agar kami tidak takut membawa kebenaran dan keadilan di dalam hidup kami. Semoga kami mampu menjadi pewarta sabda-Mu yang membawa harapan keselamatan dan sukacita. Amin.

 

189 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *