Bahaya, Gunung Anak Krakatau Bertatus Waspada, Wisatawan Dilarang Mendekati Kawah

Gunung Anak Krakatau. Foto : Robert
Gunung Anak Krakatau. Foto : Robert

LAMPUNG SELATAN, RADIO SUARA WAJAR — Gunung Anak Krakatau (GAK) yang muncul pada tanggal 11 Juni 1927 hingga saat ini sedang “tumbuh” membangun diri.

Sampai dengan tahun 2011 telah mengalami erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat ekplosif maupun efusif, dengan waktu istirahat berkisar antara 1-6 tahun.

Demikian diterangkan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI Ego Syahrial.

Menurut Ego Syahrial, berdasarkan pemantauan aktivitas GAK secara visual maupun seistemik dilakukan dari pos pengamatan GAK di Desa Pasaruan Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang Provinsi Banten dan Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

“Kegempaan GAK secara umum masih didominasi oleh gempa vulkanik dangkal. Secara umum kegempaan masih fluktuasi. Pada bulan Oktober 2016 tercatat 72 kejadian/hari. Sedangkan pada November rata-rata tercatat 88 kejadian/hari,” terangnya.

Dijelaskan Ego Syahrial, GAK merupakan gunung berapi yang aktif sehingga berpotensi terjadinya bencana erupsi. Erupsi yang terjadi selama ini adalah erupsi magmatik bertipe strombolian yaitu erupsi elsplosif yang menghasilkan material vulkanik yang berukuran bongkah, bomb, lapilli dan abu yang tersebar disekitar “tubuh” GAK.

“Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan hampir seluruh tubuh GAK yang berdiameter sekitar 2 Km merupakan kawasan rawan bencana”, jelasnya

Oleh karena itu mengingat hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga minggu ke 3 bulan November 2016 tingkat aktivitas GAK masih tetap Level II (Waspada).

Sehubungan dengan status pada Level II, Ego Syahrial merekomendasikan bahwa masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan “kawah” GAK dalam radius 1 km dari bawah.

“Masyarakat yang tinggal di wilayah pantai Banten maupun Lampung diharap tenang dan jangan mempercayai isu-isu terjadinya erupsi yang berpotensi tsunami,” imbunya.

“Apabila mendapatkan isu tentang GAK agar dikonfirmasikan via telpun (022) 72722626 atau (0254) 651449.” tutur Ego Syahrial.

Pada tempat berbeda, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Lampung Sumarju Saeni mengingatkan bahwa berdasarkan beberapa sumber Gunung Krakatau yang meletus pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

“Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia,” paparnya.

Bahkan menurut Sumarju, suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.***

Reporter : Robert

172 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *