Komisi HAK Keuskupan Tanjungkarang ambil bagian dalam acara Nusantara Bersatu

Ketua Komisi HAK Keuskupan Tanjungkarang RD Philipus Suroyo.
Ketua Komisi HAK Keuskupan Tanjungkarang RD Philipus Suroyo.

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR – Keuskupan Tanjungkarang melalui Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) turut ambil bagian dalam acara Nusantara Bersatu, Rabu 30 November 2016.

Acara yang dipusatkan di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung ini, sebagai bentuk ikrar setia kepada Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia (NKRI). Ribuan orang dari berbagai suku, agama dan organisasi kemasyarakatan di Lampung turut dalam kegian ini. Mereka mengikrarkan seruan untuk bersatu dan menghormati keberagaman yang ada di bumi ruwa jurai.

Ketua Komisi HAK Keuskupan Tanjungkarang RD Philipus Suroyo dalam wawancaranya dengan Radio Suara Wajar sangat mengapresisi kegiatan Nusantara Bersatu yang diiniasi oleh Korem/043 Gatam dan Pemerintah Provinsi Lampung.

“Ini menjadi satu momentum emas bagi ummat Katolik untuk mengingat kembali akan tugas pangulan, perutusan sebagai ummat beriman. Lebih-lebih orang beriman Katolik, dipanggil untuk hidup bersama dengan orang lain, yang merupakan saudara, siapapun itu,” kata Romo Roy — panggilan akrab RD Philipus Suroyo — .

Romo Roy berharap kegiatan ini tidak berakhir hingga di sini saja, melainkan menjadi agenda rutin yang terus ditindaklanjuti oleh semua yang hadir.

“Supaya semangat nasionalisme, kebersamaan, jiwa korsa itu tumbuh berkembang menjadi roh dalam kehidupan, kapan dan dimanapun berada. Sehingga kita nyaman tinggal di dalam NKRI yang mempunyai pesona sendiri,” tutupnya.

Di tempat terpisah, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo meminta para tokoh agama untuk menjadi “garda terdepan” dalam meredam berbagai permasalahan keagamaan yang muncul dalam masyarakat.

“Saya mengharapkan kepada para tokoh agama sebagai pemimpin informal di masyarakat mampu menjadi ujung tombak dalam mengatasi dan meredam berbagai permasalahan keagamaan,” katanya.

Menurutnya sikap toleransi dan pemahaman terhadap kebhinnekaan serta pluralisme begitu terasa. Ada sebagian yang mulai mengingkari cita-cita luhur perjuangan para pendahulu bangsa dalam mempersatukan wilayah Nusantara yang sarat keberagaman.

“Seharusnya kita belajar dari para pejuang bangsa dan para pendahulu, yang meletakkan sikap toleransi antar pemeluk agama dengan begitu kokoh dan kuat,” paparnya.

Menurut Ridho, keberagaman budaya, suku, agama serta adat istiadat masyarakat merupakan modal untuk mempererat dan menyatukan bangsa yang merupakan anugerah Tuhan yang tiada ternilai harganya.

“Disinilah makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai bentuk kesadaran kultural diaplikasikan, diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Gubernur Lampung.

Pada tempat yang sama Ketua Komda Pemuda Katolik Lampung Marcus Budi yang juga turut dalam aksi ini, mengajak seluruh elemen masyarakat di Lampung untuk bersatu padu.

“Kami ingin penguatan kebangsaan dan kebersamaan. Kita tetap ingin bahwa semua elemen bersatu padu, berhimpun bersama, menyadari bersama bahwa kita ini adalah satu bangsa dan negara. Kita tetap mempunyai kewajiban dan hak yang sama sebagai warga negara Indonesia,” pungkasnya.

Hal senada diutarakan Laurensius Wendi, Ketua Pemuda Katolik Komcab Bandar Lampung.

“Dengan acara ini semoga setiap orang sadar bahwa kita memang diciptakan berbeda, tetapi kita bisa menjadi satu menciptakan harmonisasi seperti pelangi,” kata Laurensius Wendi.

Sebagai informasi turut hadir pada acara itu Kapolda Lampung Brigjen (Pol) Sujarno, Komandan Korem 043/Gatam Kolonel Kav Supriyatna, tokoh agama dan berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang ada di Lampung.***

Reporter : Robert

108 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *