Renungan Harian, Jumat 2 Desember 2016

Jumat Adven I

Bacaan: Matius 9:27-31

Yesus menyembuhkan mata dua orang buta

9:27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” 9:28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” 9:29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” 9:30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.” 9:31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Renungan

Kisah penyembuhan dua orang buta ini semakin meneguhkan tentang keselamatan oleh karena iman. Yesus yang adalah keturunan Daud tidak menyembuhkan dengan ‘jampi-jampi’ atau mantra tertentu seperti yang dilakukan oleh ‘dukun-dukun’ yang lain. Ia menyembuhkan dengan iman yang dimiliki oleh kedua orang buta itu. Ia juga menyembuhkan bukan supaya dilihat oleh orang atau sekedar show akan kehebatannya. Sampai akhir pun Yesus meminta supaya mereka tidak menceritakan apa yang terjadi kepada seorangpun.

Kedua orang buta itu merupakan salah satu dari bagian masyarakat Yahudi yang percaya betul akan datangnya Mesias. Dalam pengertian itu, mereka memahami tentang Mesias yang adalah keturunan raja Daud. Seruan mereka mewakili seruan bangsa Yahudi akan penantian mereka atas raja yang berkuasa seperti raja Daud. Hanya keturunan Daudlah yang akan mengembalikan kejayaan mereka. Mesias keturunan Daud lah yang akan mempimpin bangsa mereka kembali untuk memerintah dengan  kekuasaan sang raja.

Demikian kiranya mengapa Yesus ‘tidak mau’ seketika itu juga menyembuhkan mereka ketika masih berada di tengah jalan, artinya dilihat begitu banyak orang. Yesus justru mengambil tindakan ketika sudah berada di dalam rumah, artinya tidak ada orang yang melihatnya. Ia bukanlah Mesias seperti yang dibayangkan oleh orang-orang pada umumnya. Ia bukan Mesias keturunan Daud yang akan memimpin mereka melawan penjajah, atau mengadakan pemberontakan.

Tidak jarang kita mempunyai pengharapan seperti apa yang dialami oleh dua orang buta itu. Kebutaan memang menjadi penghalang bagi kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Memang kita tidak buta secara fisik, namun sering kali kita justru tidak melihat dengan benar meskipun kedua mata kita semuanya baik. Tidak jarang kita justru mengalami kebutaan sementara kita masih bisa melihat dengan terang benderang. Kebutaan semacam ini yang justru lebih parah dan lebih berbahaya untuk keselamatan kita.

Apa obatnya?

Seperti yang Yesus katakan kepada kedua orang buta itu, imanlah yang menjadi daya peyembuh yang total. Obat-obat yang lain hanya bersifat sementara, tidak memulihkan secara total, bisa jadi kambuh lagi atau justru merusak bagian tubuh yang lain. Tetapi obat iman menjadi daya penyembuh utama, iman menjadi obat utama yang akan mampu menyembuhkan dari akar kebutaan itu. Tanpa itu, kebutaan justru akan semakin menjadi-jadi, meskipun kita bisa melihat dengan jelas.

Dengan iman, orang buta bisa kembali melihat, apalagi orang yang tidak buta. Dengan iman kita akan melihat dengan jauh lebih jelas dari pada hanya melihat dengan mata kepala. Dengan kacamata iman, kita selalu mempunyai pengharapan, apapun situasi dan kondisi kita. Iman itu berarti taat pada apa yang disabdakan Tuhan, mendengarkan sabda-Nya dan melaksanakannya. Itulah orang bijaksana yang membangun rumah diatas batu.

Namun tidak jarang justru kita menjadi seperti dua orang buta itu yang tidak taat pada sabda-Nya. Diminta untuk diam, justru dua orang itu mewartakan apa yang terjadi kesegala penjuru. Ketaatan iman berarti juga menuntut kita untuk bisa hening dan merenungkan apa yang terjadi dari dalam hati kita, bukan justru mengumbarnya kepada orang lain. Dan persis itulah kecenderungan kemanusiaan kita. Ketika mendapat sedikit ‘mukjizat’ justru kita menjadi semakin ‘ember’, mengiklankannya kepada setiap orang yang kita jumpai.

Kita perlu mengadakan pertobatan yang sejati terus menerus.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami agar mampu beriman dengan benar. Semoga kami dengan iman kepada-Mu mampu melihat dunia dengan lebih baik. Semoga kami mampu selalu menemukan harapan di dalam setiap situasi sulit hidup kami. Tuhan, ajarilah kami untuk mampu melihat hidup kami dengan mata iman. Amin.

 

164 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *