Renungan Harian, Kamis 1 Desember 2016

Kamis Adven I

Bacaan: Matius 7:21,24-27

Dua macam dasar

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Renungan

Apa ukuran menjadi orang bijaksana atau justru menjadi orang bodoh? Dalam konteks injil hari ini, ukurannya adalah kualitas dari apa yang dikerjakan. Secara kuantitas, orang bijak dan orang bodoh sama-sama menghasilkan sebuah rumah. Bahkan bisa jadi persis sama rumah yang mereka berdua dirikan. Tetapi meskipun kelihatan sama, ternyata ada perbedaan yang besar dan itu menetukan seberapa tahan dan lama rumah itu bisa berdiri. Letak perbedaan itu adalah diatas apa rumah itu dibangun.

Demikian juga dalam beriman. Setiap orang bisa berseru Tuhan-tuhan, namun tidak semuanya mempunyai kualitas yang sama. Seruannya sama persis, namun hatinya pasti berbeda-beda. Bahkan sama-sama satu kepercayaan, namun pasti yang satu berbeda dengan yang lainnya soal kualitas yang dihasilkannya. Sama-sama berseru kepada Tuhan yang sama, ditempat yang sama persis, beribadah pada waktu yang sama, mendengarkan kitab suci yang sama. Semuanya sama, namun kebodohan dan kebijaksanaan berperan di sana.

Seorang Farisi dan seorang pemungut cukai bersama-sama berdoa, di rumah ibadah yang sama, agamanya sama, Tuhannya juga sama, namun mereka keluar dari tempat itu dengan ‘hasil’ yang bebeda. Apa yang menentukan adalah hati kita, bukan mulut kita yang berucap.

Mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya adalah jalan menjadi orang bijaksana. Hanya mendengarkan sabda-Nya adalah tindakan baik tapi tidak berdampak. Mengaku melaksankan kehendak Tuhan namun tidak membaca sabda-Nya adalah omong kosong. Mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan berarti kita membangun diri kita diatas Batu Karang yang kokoh, badai dan gelombang akan berlalu, kita tetap bisa berdiri kokoh kuat.

Mari mengisi bangunan diri kita dengan sabda Tuhan. Mari menyadari tindakan dan perbuatan kita dalam dasarnya Sabda Tuhan, bukan dasar yang lain. Semoga dengan demikian, penantian kita menjadi penantian yang membawa keselamatan saat ini dan keselamatan kekal.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami agar kami mampu berseru kepada-Mu tidak hanya dengan mulut kami, namun kami mampu berseru dengan hati kami. Buatlah kami berani membaca sabda-sabda-Mu dan melaksanakannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Semoga kami Kau mampukan untuk hidup dengan dasar sabda-sabda-Mu. Amin.

 

207 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *