Renungan Harian, Selasa 29 November 2016

Selasa Adven I

Bacaan: Lukas 10:21-24

Ucapan syukur dan bahagia

10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” 10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Renungan

Melihat dan mendengar dalam konteksi para murid ini kiranya adalah melihat dan mendengar Anak Manusia sendiri, yakni Yesus Kristus. Sang Mesias selalu dinantikan oleh setiap orang Yahudi. Dia yang diurapi Allah menjadi sumber dan tumpuan harapan Israel untuk kembali kepada masa kejayaan. Orang-orang sebelum para murid tentu saja mentikan datangnya Sang Mesias. Demikian juga dengan para nabi dan para raja yang menantikan saat itu. Namun mereka semua tidak pernah berjumpa dan mendengar secara langung dari Mesias. Para rasul lah yang melihat itu.

Maka alasan berbahagai menjadi sangat komplit dan padar. Mereka tidak hanya membaca kisah, namun mereka mengalami Dia yang berkisah dan bersaksi. Para rasul bersentuhan langsung dengan Sang Mesias. Mereka medengarkan suaran-Nya, melihat mukjizat-mukjizat-Nya, mereka mengikuti-Nya kemana saja Ia pergi. Sampai dengan kematian-Nya disalib, beberapa dari mereka menyaksikan secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri.

Kita saat ini tidak mendengar dan melihat secara langsung Sang Mesias. Pengakuan Iman para rasul menjadi pengakuan iman kita. Pengalaman perjumpaan para rasul dengan Yesus yang bangkit menjadi dasar pengalaman iman kita juga. Kita akan melihatnya nanti ketika Ia datang sebagai raja. Saat ini adalah saat kita menantikan hari itu, persis tidak tahu kapan saat dan waktunya. Kita senantiasa diajak untuk berjaga dalam iman.

Masa adven ini sekaligus menjadi masa penegasan iman kita kembali. Melalui masa penantian ini, kita diajak untuk semakin serius dalam beriman. Serius berarti kita tahu dan mengerti bagaiman kita, kita berani dan siap untuk mempertanggungjawabkan iman kita. Iman kita bukanlah iman yang dibangun dari dasar kesemuan, namun justru dibangun dari pengalaman konkret perjumpaan dengan Dia yang bangkit dari antara orang mati.

Mari kita mengisi masa adven ini sebagai masa penantian dan pertobatan. Salah satu bentuk siap siaga dan kewaspadaan kita sebagai orang beriman adalah berani mengakui dan menyesali dosa-dosa dan kesalahan kita.

Doa

Ya Tuhan, bantulah kami agar kami mampu menghayati masa penantian ini dengan iman kami. Semoga masa ini menjadi masa yang berahmat bagi kami untuk semakin mengenal Engkau sebagai penyelamat kami. Bantulah kami agar kami mampu untuk senanti beraga dan waspada dalam iman. Amin.

 

166 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *