Komitmen Bersama Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya

Penutupan Acara Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya. (Dok. Noel Photo Studio)

RADIO SUARA WAJAR – Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia, Penggerak aktivitas lintas iman dan budaya se-Indonesia menggelar Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya di Rumah Retret Panti Semedi Sangkalputung, Klaten, Jawa Tengah dan Monumen Joang 45 pada Sabtu-Rabu, 12-16/11. Tema acara ini adalah “Menyemai Perdamaian & Merajut Kebhinekaan Untuk Indonesia Yang Semakin Beradab & Berkeadilan Melalui Kearifan Budaya Lokal.”

Acara ini diawali dengan karnaval yang melibatkan 1.200 peserta dari enam identitas keagamaan. Karnaval ini menempuh rute dari Alun-alun Klaten sampai Monumen Joang 45. Seusai acara pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi dan talkshow di Rumah Retret Panti Semedi. Selain diskusi dan talkshow, acara ini diisi dengan aneka lomba untuk siswa TK – SMA di Monumen Joeng 45 Klaten. Aneka tampilan budaya dan seni di Monumen Joang 45, Selasa (15/11) menjadi penutup seluruh rangkaian acara.

Dalam penutupan acara ini, para peserta Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya menyerukan Pernyataan Bersama yang dibacakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sunan At Mutaqien, Klaten, Jawa Tengah, KH Jazuli Kasmani. Berikut pernyataan mereka:

Pertama, kami mengajak setiap umat beragama perlu untuk senantiasa mawas diri dalam menjalani kehidupan keberagamaan. Dalam konteks interaksi dengan umat beragama lain, hendaknya setiap umat beragama mengedepankan nilai saling memahami demi terciptanya keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara

Kedua, kami menyadari bahwa penyiaran agama merupakan panggilan setiap beragama. Meski demikian kami menghimbau umat beragama melakukan penyebaran agama itu dengan cara yang sejuk dengan mempertimbangkan aspek keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara

Ketiga, kami mendesak kepada pemerintah untuk bersikap tegas dan tidak diskriminatif, sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku, terhadap pihak-pihak yang berusaha merusak kerukunan antar umat dan mengancam keberlangsungan NKRI.

Keempat, kami mendesak pemerintah agar menghargai kearifan lokal, nilai budaya dan agama dalam membuat perumusan kebijakan. Dalam penerapan kebijakan, pemerintah hendaknya tidak menghambat partisipasi masyarakat dan mengikis keberagaman serta potensi-potensi lokal.

Kelima, kami merasa prihatin dengan semakin rusaknya kondisi lingkungan hidup Indonesia. Untuk itu kami mengajak pemerintah dan umat beragama untuk bersama-sama lebih aktif dalam menjaga dan memulihkan kelestarian lingkungan hidup sebagai rumah bersama bagi semua makhluk dan keutuhan ciptaan.

Keenam, kami mengajak tokoh-tokoh untuk mengembangkan dan menyebarkan ajaran/teologi agama yang menghargai kemajemukan, perdamaian, dan menghargai lingkungan hidup.

Ketujuh, kami mendesak pemerintah mewaspadai penyusupan ideologi radikal yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal lka dan NKRI serta yang berusaha mempengaruhi pelajar, mahasiswa, dan kaum muda pada umumnya.

Kedelapan, kami mengajak kaum muda untuk proaktif merawat perdamaian secara kreatif, inovatif, dan sesuai dengan karakter anak muda. (HIDUPKATOLIK.com)

 

159 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *