Renungan Harian, Rabu 2 November 2016

Rabu Biasa XXXI, PW Arwah Orang Beriman

Bacaan: Yohanes 6:37-40

6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

Renungan

Hari ini Gereja semesta bersama-sama medoakan arwah orang beriman yang sudah meninggal. Dalam instruksi Ad resurgendum cum Christo , Gereja menjelaskan tentang bagaimana sikap kita terhadap orang yang sudah meninggal. Kebangkitan Yesus merupakan puncak kebenaran iman Kristen, yang diwartakan sebagai bagian hakiki dari Misteri Paskah sejak permulaan Kekristenan: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Kor 15:3-5).

Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus membebaskan kita dari dosa dan membukakan pintu bagi kehidupan yang baru, “supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Lebih lanjut, Kristus yang bangkit adalah prinsip dan sumber kebangkitan kita di masa depan: “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal… Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15:20-22).

Benar bahwa Kristus akan membangkitkan kita pada akhir zaman; tetapi benar juga bahwa, dalam cara tertentu, kita telah bangkit bersama Kristus. Dalam baptisan, sesungguhnya, kita dibenamkan ke dalam wafat dan kebangkitan Kristus dan secara sakramental disatukan dengan-Nya: “karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Disatukan dengan Kristus oleh baptisan, kita telah sungguh berpartisipasi dalam hidup Kristus yang bangkit (bdk. Ef 2:6).

Karena Kristus, kematian Kristiani memiliki makna positif. Visi kematian Kristiani menerima ungkapan istimewa dalam liturgi Gereja: “Sungguh, bagi umat berimanmu, Tuhan, hidup diubah, tidak diakhiri, dan, ketika kediaman duniawi ini berubah menjadi debu, kediaman abadi disiapkan bagi mereka di surga”. Melalui kematian jiwa dipisahkan dari tubuh, tetapi dalam kebangkitan Allah akan memberikan kehidupan yang tak dapat rusak (incorruptible) kepada tubuh kita, yang diubah melalui persatuan kembali dengan jiwa kita. Di masa kini juga, Gereja dipanggil untuk mewartakan imannya dalam kebangkitan: “Keyakinan orang Kristen adalah kebangkitan orang mati; dengan mempercayai ini kita hidup”.

Dengan mengikuti tradisi Kristen yang paling purba, Gereja bersikeras dalam menganjurkan bahwa jenazah umat beriman dikuburkan di pemakaman atau tempat-tempat suci lainnya. Dalam kenangan akan wafat, pemakaman dan kebangkitan Tuhan, misteri yang menerangi makna kematian Kristiani, pengebumian terutama merupakan cara yang paling pantas dalam mengungkapkan iman dan harapan akan kebangkitan badan. Gereja, sebagai Ibu, telah menemani umat Kristen selama peziarahan duniawinya, mempersembahkan kepada Bapa, dalam Kristus, anak-anak rahmatnya, dan ia mempercayakan kepada bumi, dalam pengharapan, benih badan yang akan bangkit dalam kemuliaan.

Dengan menguburkan jenazah umat beriman, Gereja menegaskan imannya akan kebangkitan badan, dan bermaksud menunjukkan martabat agung tubuh manusia sebagai bagian integral dari pribadi manusia, yang tubuhnya membentuk bagian identitas mereka.Oleh sebab itu, ia tidak bisa membenarkan atau mengizinkan ritus-ritus yang melibatkan gagasan keliru mengenai kematian, seperti menganggap kematian sebagai pemusnahan pribadi secara definitif, atau momen peleburan dengan Ibu Pertiwi atau alam semesta, atau sebagai tahap dalam siklus regenerasi, atau sebagai pembebasan definitif dari “penjara” tubuh.

Lebih lanjut, penguburan di pemakaman atau tempat suci lainnya, secara memadai berhubungan dengan kesalehan dan penghormatan yang diberikan kepada jenazah umat beriman, yang melalui baptisannya telah menjadi bait Roh kudus dan  yang mana “sebagai instrumen dan cawan Roh yang telah melaksanakan begitu banyak perbuatan baik”. Tobias, orang benar, dipuji atas jasa yang ia peroleh di hadapan Allah karena menguburkan orang mati, dan Gereja menganggap penguburan orang mati merupakan salah satu karya belas kasih jasmani.

Terakhir, penguburan umat beriman yang telah meninggal di pemakaman atau tempat suci lainnya mendorong anggota keluarga dan seluruh komunitas Kristiani untuk berdoa dan mengenang mereka yang dipanggil Tuhan, sembari pada saat yang sama memelihara penghormata kepada para martir dan orang kudus.

Doa

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. (Amin.)

 

200 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *