Renungan Harian, Kamis 20 Oktober 2016

Kamis Biasa XXIX

Bacaan: Lukas 12:49-53

Yesus membawa pemisahan

12:49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! 12:50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. 12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. 12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Renungan

Perikopa hari ini agak sedikit keras dan mengerikan. Mengapa justru kedatangan-Nya membawa pertentangan? Bukankah damai dan keselamatan yang Yesus bawa? Seluruh misi dan hidup-Nya adalah warta keselamatan. Bahkan Ia rela mati untuk mengangkat kematian itu dalam kerangka keselamatan. Cukup keras dan mungkin membuat ada keraguan untuk sebagian orang membaca perikopa ini.

Dimanapun dan kapanpun, kebaikan dan kebenaran selalu akan mendapat perlawanan dari yang tidak baik dan tidak benar. Pemimpin yang berjuang untuk kebaikan, kebenaran, dan keadilan pasti akan mendapat banyak perlawanan sengit dari orang-orang yang merasa dirugikan. Akan selalu ada usaha seribu satu cara untuk menyingkirkan mereka yang berjuang untuk kebaikan dan kebenaran.

Demikian dengan Yesus dan para pengikutnya, selalu ada kekuatan-kekuatan yang menentangnya. Bahkan keselamatan yang Yesus bawa juga mendapat perlawanan yang luar biasa, bahkan sampai harus pada kematian di salib. Maka dalam konteks itu kita bisa mengerti mengapa Yesus sampai mengatakan bahwa Ia membawa pertentangan. Dalam arti itu, siapapun yang siap menjadi murid Kristus, berarti harus siap ditentang dan dilawan oleh siapapun, bahkan oleh orang-orang terdekat.

Jika hidup ini adalah pilihan, memilih menjadi murid Kristus berarti juga selain sebuah panggilan, merupakan sebuah pilihan. Pilihan itu selalu mengandung konsekuensi. Menjadi murid Kristus juga penuh dengan konsekuensi, bahkan konsekuensi yang tidak ringan. Seperti Yesus yang siap disalib, dalam konteks kita saat ini kita juga harus siap untuk disalib dalam bentuk-bentuk yang modern.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita siap untuk ditentang oleh orang-orang terdekat karena kita sebagai murid Kristus?

Salah satu penderitaan besar adalah apabila kita ditolak oleh orang-orang terdekat. Penolkan oleh orang terdekat itu sering kali mengubah hati kita untuk menuruti apa yang mereka harapkan. Sebagai orang Kristiani, siapkah kita mendapat penolakan-penolakan? Tidak dihormati dan tidak dihargai?

Dalam seluruh hidup kita, ujian selalu datang kapan saja. Kesetiaan dan ketekunan menjadi penentu kualitas keberimanan kita masing-masing. Dalam situasi krisis itulah kita akan melihat dengan jujur bagaimana kualitas keimanan. Satu hal penting bisa kita ingat adalah jika kita setia sampai pada kesudahannya, Tuhan menjamin kebahagiaan kekal bersama-Nya.

Doa

Ya Tuhan, bantulah kami agar kami berani dan siap menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dalam beriman. Semoga karena iman kami tidak takut untuk bertahan. Kuatkan dan teguhkan hati kami Tuhan, agar kami tetap mampu memberikan kesaksian yang benar sebagai seorang Kristiani. Amin.

 

184 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *