Renungan Harian, Jumat 23 September 2016

 

Jumat Biasa XXIV

Bacaan: Lukas 9:18-22

Pengakuan Petrus

9:18 Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” 9:19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” 9:20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” 9:21 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun.

Renungan

Perikopa ini merupakan perikopa ungkapan iman yang mendasar dari para rasul. Demikian juga dengan Gereja. Gereja mempunyai iman pengakuan dari iman pengakuan para rasul bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup. Gereja didirikan diatas batu karang Petrus maksudnya adalah diatas iman pengakuan Petrus yang mewakili para rasul akan kemesiasan Yesus. Iman yang sama menjadi dasar iman Gereja sepanjang masa.

Pada hari ini kita diingatkan kembali akan bangunan pengakuan iman kita sebagai orang Kristiani. Tanpa pengakuan iman yang sama, kita terpisah dari kesatuan dengan Gereja. Gereja yang satu adalah Gereja yang mempunyai pengakuan iman sama dengan para rasul.  Dengan demikian, sebagai orang Kristiani, kita disatukan dengan pengakuan iman yang sama.

Seperti yang ditanyakan kepada para murid secara personal, kita diajak untuk merenungkan diri sejauh mana diri kita sudah mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Perjumpaan dengan Tuhan itu bukan dalam ranah kognitif tapi dalam pengalaman personal. Kita perlu mempunyai pengalaman ketersentuhan dengan Tuhan sendiri. Pengalaman itu kiranya yang akan menjadikan kita semakin lebih mengenal Tuhan yang hadir dalam diri kita.

Semakin kita merasakan Tuhan yang hadir dalam hidup kita, semakin kita mampu untuk membangun relasi personal dengan-Nya. Itulah pengenalan yang kita mampu lakukan. Kita tidak mungkin mampu mengenal Tuhan secara tuntas. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengenal Tuhan lewat pengalaman-pengalaman iman yang terjadi dalam diri kita. Untuk merasakan pengalaman itu diperlukan sebuah latihan yang terus menerus untuk mampu sampai pada pembedaan roh.

Karena kita tidak mampu sepenuhnya mengenal Tuhan, maka mari mohon rahmat Tuhan agar kita sedikit demi sedikit mampu merasakan kehadiran-Nya. Mungkin kita bisa berbicara tentang Tuhan secara panjang lebar, luas dan dalam. Namun lebih dari itu, mari kita secara personal berbicara dengan Tuhan dalam kemanusiaan kita yang konkret. Belajar dari para rasul, semakin mereka beriman, semakin rendah hati dan peduli pada sesama, terlebih mereka yang lemah.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami supaya peka akan kehadiran dan kasih-Mu dalam hidup kami. Kuatkan iman dan harapan kami, agar kami seperti para rasul yang setia sampai akhir hidup mereka dalam kemartiran. Semoga dengan demikian, kami mampu berbagi hidup dengan sesama karena Engkau sendiri yang hadir dalam hidup kami. Amin.

 

190 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *