Harga Singkong Rendah, Gubernur Lampung Layangkan Surat ke Presiden Jokowi

Ubi kayu. Foto : https://www.google.co.id
Ubi kayu. Foto : https://www.google.co.id

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR — Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo terkait dengan rendahnya harga ubi kayu saat ini.

Surat bernomor 525.28/1904/04/2016 tanggal 16 September 2016 ini menyampaikan sejumlah usulan serta upaya untuk mengatasi merosotnya harga ubi kayu.

Demikian disampaikan Kabag Humas Heriyansyah, Senin 19 September 2016 di Bandar Lampung.

Meurut Heriyansyah, dalam surat tersebut Gubernur menyampaikan tiga usulan.

“Pertama, meminta Presiden menghentikan/mengurangi Kuota Import tepung tapioka guna menjaga stabilitas harga ubi kayu dan tapioka dalam negeri,” katanya.

Kedua, lanjut Heriyansyah, memberikan wewenang kepada Pemerintah Provinsi Lampung agar dapat membuat kebijakan penentuan harga dasar (Floor Price) ubi kayu yang layak bagi petani khususnya di Lampung.

“Ketiga, dukungan dari Pemerintah Pusat dalam pengembangan diversifikasi olahan hasil ubi kayu melalui sentuhan teknologi. Seperti olahan ubi kayu menjadi beras, keripik atau olahan pangan lainnya,” jelas Heriyansyah.

Menurut Heriyansyah, harga ubi kayu saat ini mencapai harga terendah yaitu Rp 500/kg. Sedangkan harga yang layak diterima petani Rp 800/kg.

“Hal ini menyebabkan petani merugi. Jika dibiarkan, maka akan berdampak meningkatnya angka kemiskinan dan rendahnya kesejahteraan petani,” jelas Kabag.

Untuk diketahui, salah satu penyebab merosotnya harga ubi kayu yaitu masuknya impor tapioka dalam jumlah besar. Berdasarkan data Impor Tepung Tapioka Nasional BPS, sampai bulan Juni 2016 Indonesia masih mengimpor tepung tapioka sebesar 415.253 ton (US$154.157.928).

Harga ini lebih murah jika dibandingkan produksi dalam negeri. Sehingga berpengaruh langsung terhadap harga dan permintaan produksi tapioka, khususnya di Provinsi Lampung.

Sementara itu berdasarkan Data BPS 2015, produksi ubi kayu sebesar 7,38 juta ton. Angka Ramalan I (ARAM) 2016 sebesar 7,82 juta ton. Produksi ini menempati peringkat pertama Nasional dengan luas panen 298.299 hektar. Rata-rata kepemilikan yaitu 0,6 hektar.***

Reporter : Robert

354 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *