Renungan Harian, Senin 19 September 2016

Senin Biasa XXV

Bacaan: Amsal 3:27-34

Anjuran untuk berbuat baik

3:27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. 3:28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu. 3:29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. 3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. 3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, 3:32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. 3:33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. 3:34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.

Renungan

Bacaan pertama dalam kalender liturgi hari ini mempunyai kesan menarik untuk direnungkan. Kiranya isi bacaan yang diambil dari kitab Amsal ini merupakan sebuah kebijaksanaan praktis yang dihadapi oleh semua orang dalam kehidupan harian. Setiap hari kita dihadapkan pada banyak pilihan, paling tidak ada dua pilihan besar, yakni berbuat baik atau tidak berbuat baik. Lawan dari perbuatan baik nampaknya paling pas jika dibandingkan dengan perbuatan tidak baik. Jika dibandingkan dengan perbuatan jahat, nampaknya tidak terlalu pas. Belum tentu lawan dari perbuatan baik adalah perbuatan jahat.

Berhadapan dengan pilihan konkret itu, kita diajak untuk memilih yang baik. Jika dihadapkan pada banyak pilihan yang semuanya tidak baik, maka kita diajak untuk memilih pilihan yang kadar tidak baiknya paling kecil. Ini merupkan prinsip minus malum. Namun kita juga dihadapkan pada pilihan-pilihan dimana semua kemungkinan itu baik adanya. Maka kita diajak untuk memilih pilihan yang kebaikannya paling besar. Ini namanya prinsip maximum bonum. Jika dihadapkan pada pilihan yang baik dan yang tidak baik, kita bisa mengambil keputusan dengan mudah. Dan tentu saja pilihan kita adalah memilih yang baik.

Dalam kehidupan ini, tidak mudah menjalankan apa yang disampaikan oleh Amsal hari ini. Hampir dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan, dibalik itu ada pengharapan-pengharapan tertentu yang kita nantikan. Yang tidak kelihatan dan otomatis muncul biasanya adalah rasa kecewa ketika sudah berbuat baik namun orang lain tidak mengucapkan terima kasih. Bisa jadi yang tadinya berbagi, namun justru akhirnya ngrasani. Sejak kecil kita diajari untuk mengucapkan terima kasih. Sejak itu pula kita diajari untuk selalu menerima ucapan terima kasih. Namun pengertian tentang perbuatan yang tulus belum sepuhnya menjadi bagian dari proses perjalanan hidup kita.

Hari ini kita diingatkan untuk mempunyai nilai ketulusan, nilai yang tidak semua orang bisa memahami. Artinya ketika kita berbuat baik, murni perbuatan itu dilandasi dengan niat untuk berbuat yang baik. Tidak lebih tidak kurang. Wajar-normal-standar jika kita mempunyai harapan kecil untuk diterimakasihi. Itu terjadi pada semua orang, dimana saja. Namun kita dipanggil untuk mengatasi kewajar-standaran hidup kita.

Kecewa dan sedih jika tidak mendapat balasan menandakan kita masih sungguh sebagai manusia. Yang kemudian menetukan kualitas mansuia kita adalah sikap apa yang kemudian kita ambil ketika berhadapan dengan kesedihan dan kekecewaan itu. Jika kecewa sedih itu menjadi perkara yang membebani diri kita terus menerus, apalagi merusak hubungan kita dengan orang lain, kita masih dalam taraf manusia instingtif.

Melalui Amsal hari ini, kita diingatkan bahwa Tuhan memanggil kita untuk menjadi manusia dengan nilai-nilai ilahi yang kita hidupi. Judul dari perikopa ini adalah ‘anjuran untuk berbuat baik’. Perbuatan baik adalah sebuah keputusan pilihan diri. Maka ini merupakan sebuah anjuran, bukan sebuah otomatisme praktis atau bahkan sebuah paksaan. Perbuatan yang baik bukan hasil dari paksaan, namun dari pilihan bebas kita sebagai murid Kristus.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas amsal yang boleh kami dengar hari ini. Ajarilah kami agar kami mampu untuk senantiasa berbuat yang baik dan benar. Semoga ketulusan kami mampu kami bagikan kepada sesama kami. Amin.

 

167 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *