Renungan Harian, Rabu 14 September 2016

Rabu Biasa XXIV, Pesta Salib Suci

Bacaan: Filipi 2:5-11

Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Renungan

Ada perasaan senang dan bangga ketika berada di suatu tempat melihat ada orang yang dengan berani mengenakan kalung salib. Paling tidak merasa bersaudara itu menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika berjumpa dengan mereka. Namun jika kita lihat bersama, ada begitu banyak orang yang memakai kalung salib atau pernak pernik lain yang ada salibnya, hanya dilihat dari segi aksesorisnya. Ada banyak artis yang memakai aksesoris salib, tatoo salib, atau dalam bentuk-bentuk lainnya. Akan sangat membanggakan apabila pernak pernik itu diketahui maknanya secara mendalam oleh siapa saja yang memakainya.

Bagi kita, memakai kalung salib mempunyai konsekuensi yang besar. Konsekuensi terbesar adalah kita harus berani memberi kesaksian tentang salib yang kita pakai. Salib itu bukan hanya sekedar hiasan, namun dengan memakai salib berarti kita hendak mengakui bahwa kita sebagai murid Kristus. Memakai salib berarti siap menjadi murid Kristus sampai pada kemartiran.

Bagi kita, umat Kristiani, salib merupakan tanda, tujuan, cara hidup, dan jaminan hidup kekal. Dengan mengenakan Salib dalam dirinya, seorang Kristiani berarti siap untuk mengikuti jejak Kristus. Dimanapun berada, jika sebelum makan membuat tanda salib, orang akan mengenal kita sebagai orang Kristiani. Salib adalah identitas kita.

Sebagai identitas, salib yang kita pakai tidak bisa lepas dari Pribadi yang tersalib. Pribadi itulah yang menjadi sumber dari salib itu sendiri, bukan salib palang yang terbuat dari kayu. Pribadi itu tentu saja adalah Yesus Kristus. Maka memakai salib berarti ‘memakai’ Kristus dalam hidup kita. Kristus yang kita imani adalah Kristus seperti yang direfleksikan dalam ‘madah Kristus’ dalam Filipi hari ini. Demi keselamatan manusia, Kristus yang adalah Putera Allah rela melepaskan status kesetaraan dengan Allah dan menjadi manusia. Bahkan Ia rela tergantung di salib. Ia telah merendahkan diri demi mengangkat manusia yang berdosa.

Tetapi persis karena kerendahan diri-Nya itulah kemudian Allah justru meninggikan diri-Nya. Karena kerendahan diri-Nya itulah pada akhirnya semua makhluk berlutut dihadapan-Nya, dan semua lidah mengaku ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’. Itulah yang menjadi identitas salib. Salib bukan sebagai ‘gagah-gagahan’, namun salib menjadi tanda yang jelas akan penebusan Kristus.

Bagi kita, ketika kita berani membuat atau memakai tanda salib, berarti kita juga berani untuk semakin rendah hati. Dengan salib, kita menyadari identitas diri kita, yakni Kristus yang hadir dan hidup dalam diri kita. Maka kebaikan dan keselamatan senantiasa menjadi perjuangan kita yang membawa salib.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami sanggup dan berani untuk senantiasa membawa salib dalam hidup kami. Semoga kami semakin beriman dan semakin rendah hati sebagai murid-Mu. Ajarilah kami untuk berani mengakui diri sebagai murid-Mu di dalam kehidupan harian kami. Tuhan, semoga dengan salib-Mu kami mampu memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Amin.

 

228 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *