Renungan Harian, Selasa 13 September 2016

Selasa Biasa XXIV

Bacaan: Lukas 7:11-17

Yesus membangkitkan anak muda di Nain

7:11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” 7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” 7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” 7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan

Bisa dibayangkan bagaimana orang banyak menjadi takut dan terheran-heran dengan kejadian seperti ini. Bagaimana tidak, di siang hari, orang sedang pada berkabung membawa usungan orang meninggal, di dekat pintu gerbang, tiba-tiba orang yang mati itu hidup kembali karena seorang Yesus. Bisa jadi banyak orang yang lari ketakutan juga. Namun yang jelas adalah bahwa ibu dari orang yang meninggal itu pasti akan lebih teringankan bebannya. Satu-satunya sumber harapan hidupnya telah kembali.

Seorang janda dalam konteks perikopa ini adalah orang yang sudah tidak mempunyai kesempatan untuk berkiprah dalam dunia sosial. Sumber-sumber penghasilannyapun juga sudah tidak ada jaminan lagi, seiring dengan meninggalnya sang suami. Maka jika ada anak laki-laki, dialah yang menjadi sumber hidup dari ibunya. Bisa kita bayangkan bagaimana situasi ibu janda itu, sudah janda, sekarang ditinggal meninggal anaknya laki-laki yang tunggal. Semakin besarlah kesedihan ibu janda itu, bagaimana ia akan hidup untuk hari-hari yang akan datang?

Kehadiran Yesus yang spontan membalikkan keadaan. Ia yang tadinya mati, sekarang hidup kembali. Mereka yang tadinya sedih, sekarang bersukacita kembali. Mereka yang tadinya tidak percaya, sekarang mulai terbuka matanya untuk melihat karya Allah. Kehadiran yang baik kiranya senantiasa membawa kebaikan pula bagi yang lain. Kehadiran yang kudus membawa sukacita dan harapan akan masa yang akan datang.

Bagi kita, kemanapun kita pergi, membawa dan menghadirkan kebaikan adalah nilai manusiawi yang seharusnya kita perjuangkan. Nilai manusiawi biasa itu menjadi semakin Kristiani jika kita membalut kebaikan itu dengan alasan karena kita adalah murid Kristus. Bukankah lebih baik membawa kedamaian dan kebaikan dari pada membawa perpecahan dan permusuhan?

Kita dipanggil untuk memberikan harapan dan sukacita bagi setiap orang. Untuk itu hidup kita juga seharusnya penuh pengharapan dan senantiasa bersukacita. Maka mari mohon rahmat Tuhan, agar kita dimampukan untuk menghidupi dan menghadirkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Semoga kehadiran kita senantiasa membawa kebaikan dan kedamaian.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu meneladan sikap kristiani dalam hidup kami. Ajarilah kami untuk lebih senang membawa kebaikan dan kedamaian, dari pada membawa permusuhan dan kebencian. Bantulah kami agar kami mampu menghidur orang lain yang sedang kesusahan dan menderita. Tuhan, tambahlah iman dan harapan kami. Amin.

 

251 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *