Renungan Harian, Senin 12 September 2016

Senin Biasa XXIV

Bacaan: Lukas 7:1-10

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum

7:1 Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. 7:2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. 7:3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. 7:4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, 7:5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” 7:6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; 7:7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 7:8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” 7:9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” 7:10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Renungan

Dalam pengertian biasa, perwira dalam perikopa hari ini adalah seorang perwira yang tidak berani menghadapi Yesus secara personal. Mengapa? Pertama, karena perwira itu meminta orang lain untuk menyampaikan apa yang ia inginkan dari Yesus. Kedua, ia mengirim utusan lagi untuk menemui Yesus ketika Ia dan rombongan sudah hampir tiba di rumah perwira itu. Semestinya seorang perwira berani langsung berhadapan dengan Yesus dan mengutarakan apa yang ia inginkan. Namun justru dalam kisah ini ia selalu melalui perantara untuk berbicara pada Yesus. Hingga akhir kisah, perwira itu tidak berjumpa dengan Yesus.

Namun yang mengagumkan adalah bahwa dengan apa yang ia buat, perwira itu menunjukkan rasa percaya dan rendah hati yang luar biasa. Dalam pengertian Kristiani, perwira itu adalah berwira yang beriman. Ia yakin dan percaya bahwa Yesus adalah utusan Allah yang mampu menyembuhkan salah seorang hambanya. Ia juga yakin dan percaya bahwa kata-kata Yesus mempunyai daya yang luar biasa, hanya dengan perkataan saja Yesus mampu memberi kesembuhan. Perwira yang harusnya rasional, ini justru mengatasi rasionalitasnya, perwira yang seharusnya taktis, ini menjadi perwira yang liturgis.

Perkara beriman bukanlah melulu perkara personal, antara diri sendiri dengan Allah, yang lain tidak bisa turut campur tangan. Dalam pengertian tertentu, iman seseorang mempunyai dimensi sosial. Artinya iman personal itu mempunyai dampak sosial, bahkan bisa mengubah orang lain. Iman perwira dan orang-orang tua yang memohon kepada Yesus, mempunyai daya yang efektif untuk membawa sang hamba pada kesembuhan. Yesus tidak mengabulkan permohonan si sakit, tetapi Ia memperhitungkan iman dan permohonan dari orang-orang yang ada di sekitar si sakit.

Demikianlah kiranya Gereja hingga saat ini tetap memelihara pentingnya mendoakan orang yang sakit, dan bahkan tetap mendoakan orang yang sudah meninggal. Gereja yakin dan percaya, satu dua orang yang berkumpul dalam nama Tuhan, Ia hadir dan berkaraya atas nama orang-orang itu. Kesatuan hati banyak orang dalam satu doa membawa daya ilahi yang mampu mengubah keadaan. Tuhan pasti tidak akan begitu saja tinggal diam sementara umat-Nya memanjatkan doa-doa yang tulus murni.

Mendoakan orang lain, terlebih mendoakan mereka yang sakit dan menderita, adalah sebuah keutamaan Kristiani yang patut senantiasa kita pelihara. Iman kita adalah iman yang hidup. Maka, kita yang hiduplah yang bersatu hati dalam doa, mendoakan orang yang perlu kita doakan; kita yang masih hidup dan sehatlah yang mengunjungi mereka yang sakit; kita yang masih hiduplah yang mendoakan mereka yang sudah meninggal.

Mari mohon rahmat Tuhan supaya kita dimampukan belajar dari sang perwira, mohon rahmat Tuhan agar kita mempunyai iman seperti perwira itu, dan mohon rahmat Tuhan supa hidup kita menjadi hidup yang berguna bagi sesama kita. Orang-orang yang memberilah yang akan menerima. Sementara orang yang tidak pernah memberi, juga tidak akan menerima.

Doa

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk mempunyai iman dan harapan seperti perwira itu. Semoga jabatan dan kedudukan tidak menghilangkan iman kami kepada-Mu. Semoga kami Engkau dapati setia sampai akhir hidup kami. Amin.

 

232 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *