Renungan Harian, Rabu 7 September 2016

Rabu Biasa XXIII

Bacaan: Lukas 6:20-26

Ucapan bahagia dan peringatan

6:20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. 6:21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. 6:22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. 6:23 Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. 6:24 Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. 6:25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. 6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Renungan

Hidup dalam Tuhan senantiasa membawa harapan akan hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Kemalangan hidup jika menjadi beban sendiri akan semakin membinasakan. Namun jika kemalangan itu dibawa dalam pengalaman bersama Allah, harapan kebebasan diberikan kepada kita oleh Allah. Demikian juga dengan keberuntungan hidup. Jika keberuntungan hidup disyukuri sebagai usaha sendiri tanpa melihat dan merasakan peran kasih Allah, keberuntungan itu justru akan membawa kita pada bencana celaka. Apapun keadaan kita, jika kita terbuka dan berpasrah pada rencana dan kehendak Allah, tidak mustahil bahwa yang tadinya mustahil bagi kita justru menjadi sumber berkat yang melimpah.

Injil hari ini memberi harapan kepada kita, terutama yang sedang mengalami persoalan-persoalan hidup, bahwa akan ada masanya kita mengalami sukacita. Tidak seluruhnya hidup kita mengalami kebuntungan dan kesusahan. Ada saatnya kemujuran dan segalanya baik menjadi bagian hidup kita. Tidak sepenuhnya juga seluruh hidup kita mengalami kesuksesan terus menerus. Ada saatnya kita diatas, namun ada juga saat-saat kita menjadi seperti tidak punya daya dan kekuatan. Hal-hal itu menjadi bagian dari hidup kita.

Maka ketika sedang kelaparan, ingatlah akan saat-saat kekenyangan. Ketika dalam kesedihan yang mendalam, ingatlah akan sukacita-sukacita yang pernah ada. Ketika sedang kaya raya, ingatlah saat-saat jatuh miskin dan tak berdaya. Ketika sedang sukses, ingatlah saat-saat bangkrut. Ingatan-ingatan itu akan menjadi penyeimbang hidup kita. Menghadapi kesedihan, kita tidak terlalu jatuh kedalam, namun ingat akan ada harapan yang baik. Ketika kaya, kita tidak menjadi begitu sombong dan angkuh. Ingatan akan kesusahan menjadikan kita orang yang bijaksana meskipun saat ini dalam kelimpahan harta.

Lebih dari itu, ingatlah Tuhan dalam semua peristiwa hidup yang kita alami. Ketika sedih maupun senang, ingatlah Tuhan. Ketika kaya atau miskin, tetap ingatlah Tuhan. Tuhan senantiasa hadir dalam hidup kita. Ketika jatuh, kita diingatkan untuk mampu bangun. Ketika berada dipuncak, kita diajak untuk turun supaya tidak jatuh dari ketinggian. Di dalam segalanya, Tuhan menyertai hidup kita. Di dalam segalanya, Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita. Mau dan mampukah kita mendengarkan suara-Nya dan merasakan peran serta-Nya dalam hidup kita?

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas segala berkat yang boleh kami terima dari kelimpahan kasih-Mu. Ajarilah kami agar kami mampu selalu menempatkan diri sebagai orang Kristiani, baik ketika kaya maupun ketika miskin. Semoga kami mampu menghayati iman kami dalam hidup kami masing-masing. Amin.

 

201 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *