Renungan Harian, Sabtu 3 September 2016

Sabtu Biasa XXIII

Bacaan: Lukas 6:1-5

Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat

6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” 6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan

Rasa lapar kiranya senantiasa menjadi bagian dari hidup manusia yang pasti akan dialami setiap orang. Berbahagialah kita yang masih mampu dan mempunyai rasa lapar. Rasa lapar itu melatih kita untuk berjuangan dan menemukan pelepas lapar itu. Rasa lapar itu selalu ada sepanjang hidup ini. Maka sepanjang itu pula kita akan mempunyai semangat untuk hidup. Dengan rasa lapar, kita menjaga dan memelihara hidup supaya hidup ini terus berlangsung dan memberikan buah berlimpah.

Memperluar pengertian lapar, rasa lapar bisa kita mengerti dari perspektif hidup kita. Tidak jarang kita merasa haus dan lapar akan banyak hal, tidak hanya sekedar lapar akan makanan dan haus akan minuman. Kerinduan untuk merasakan kedamaian juga menjadi kelaparan yang kita miliki yang kita perjuangkan supaya itu terwujud dan memuaskan diri kita. Lapar akan penghasilan ekonomi yang semakin membuat kita terus menerus berjuang untuk mendapat sumber ekonomi yang kita perlukan.

Setiap rasa lapar kiranya perlu untuk diberi makan dan dikenyangkan. Lapar akan makanan bisa dengan mudah akan hilang ketika kita sudah makan dan menjadi kenyang. Namun kapar akan kedamaian, lapar akan rasa cinta, dan lapar-lapar yang lain tidak begitu saja mudah kita puaskan. Diperlukan perjuangan yang lebih panjang dan serius untuk memenuhi rasa lapar itu. Diperlukan juga kesetiaan untuk mencapainya.

Para murid yang lapar mengambil jalan memetik bulir gandung dan memakannya. Tindakan yang dilarang secara hukum taurat. Hukum itu seolah diabaikan oleh para murid Yesus. Melalui peristiwa itu kiranya Yesus hendak menjelaskan bahwa hukum itu penting. Namun ada nilai yang jauh lebih penting dari sekedar taat pada hukum, yakni pada nilai-nilai kemanusiaan. Dan lebih dari itu adalah hukum Allah jauh lebih penting dari pada hukum-hukum manusia. Yang dimaksud hukum Allah itu tentu saja adalah hukum kasih. Dan hukum kasih itulah sebenarnya adalah intisari dari Taurat. Maka, memetik bulir gandum, hari sabat, dan hukum taurat tidak bertentangan. Para pelaku hukumlah yang harus lebih mengerti arti terdalam dari hukum itu.

Hukum kasih itu ada dalam sabda-sabda dan tindakan Tuhan. Mari mohon rahmat Tuhan agar kita dimampukan untuk senantiasa merasa lapar dan haus akan sabda Tuhan. Rasa lapar itulah yang akan memelihara kita untuk setia mengunyah sabda Tuhan. Sabda Tuhan yang kita makan itu kemudian kita bagikan buahnya kepada orang lain, supaya orang lain juga merasakan Tuhan yang penuh kasih.

Doa

Ya Tuhan, anugerahilah kami dengan rasa lapar akan sabda-sabda-Mu. Semoga kami mampu untuk mengunyah sabda-sabda-Mu dalam hidup kami, agar hidup kami menjadi berkat bagi diri kami sendiri dan bagi sesama kami. Ajarilah kami juga untuk mampu mengerti secara mendalam  hukum-hukum yang kami jalankan dalam hidup kami. Amin.

 

323 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *