Renungan Harian, Jumat 2 September 2016

Jumat Biasa XXIII

Bacaan: Matius 5:33-39

Hal berpuasa

5:33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” 5:34 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? 5:35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” 5:36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. 5:37 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. 5:38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. 5:39 Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

Renungan

Melalui bacaan hari ini, kita sebagai orang beriman diajak untuk (pertama) jika berpuasa atau melakukan tindakan luhur tertentu, lakukanlah itu dengan tulus hati. Sebagai orang Kristiani kita diajak untuk tidak melakukan sebuah kesalehan kemudian dengan kesalehan itu menilai orang lain, apalagi menegur orang lain yang tidak melakukan hal yang sama dengan yang kita buat. Jika tingkatnya adalah tingkat personal, maka pertama-tama apa yang kita lakukan adalah untuk perkembangan iman kita sendiri. Kita bukan mencari kesalehan untuk kemudian menghakimi atau menyalahkan orang lain.

Kedua, sebagai orang Kristiani kita diajak untuk melihat makna terdalam dari tindakan berpuasa. Bagi kita, berpuasa bukan pertama-tama hanya persoalan tidak makan dan tidak minum. Jauh lebih penting dari itu adalah dengan berpuasa kita diajak untuk sampai pada pengalaman akan Sang Mempelai, yakni mengalami Yesus yang hadir dalam hidup kita. Jika puasa kita justru menjauhkan kita dari sesama dan menjauhkan kita dari Sang Mempelai, maka puasa kita bukanlah puasa Kristiani. Puasa kita adalah menyantap sabda-sabda rohani dalam diri kita, serta mengunyah nilai-nilai luhur kemanusiaan yang mengangkat martabat luhur setiap pribadi.

Ketiga, kita diajak untuk senantiasa mempunyai semangat pembaruan diri. Kita juga diajak dan diingatkan untuk mempunyai hati dan budi yang terbuka untuk dibarui oleh sesama, dan terlebih dibarui oleh Roh Tuhan sendiri. Kemanusiaan kita membuat kita terbelenggu dalam banyak hal yang membuat kita tidak semalat. Maka pembaruan diri dan keterbukaan untuk dibarui menjadi samangat Kristiani yang sudah seharusnya kita miliki.

Dengan demikian, pada akhirnya ketika orang berjumpa dengan diri kita, mereka mengatakan “Anggur yang tua itu baik.” Semakin lama kita menjadi orang Kristiani, kita menjadi seperti anggur yang semakin tua semakin lezat. Bahkan dari aromanya saja orang sudah bisa merasakan kenikmatan dari anggur tua, apalagi ketika meminumnya. Semoga aroma kita sebagai orang Kristiani semakin lama semakin jelas. Dari aromanya saja orang sudah mengenal kita sebagai murid Kristus. Semakin tua usia kita, semakin dewasa iman kita, semakin nikmat aroma Kristiani kita.

Doa

Ya Tuhan, mampukan kami untuk senantiasa mempunyai semangat pembaruan diri. Bantulah kami agar kami mampu semakin memusatkan hidup kami hanya kepada-Mu. Semoga kami senantiasa terbuka untuk dibarui dalam roh dan kebenaran. Dan semoga hidup kami menjadi hidup yang semakin menyerupai anggur tua. Amin.

 

217 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *