Kisah Pembunuh Bayaran, Meminta Kepada Pastur Untuk Memberikan Pengampunan Dosa

pembunuh-bayaran_20160827_085252

Pembunuh bayaran

RADIO SUARA WAJAR – Filipina tengah melancarkan perang brutal terhadap perdagangan narkoba yang dikukuhkan melalui kebijakan kontroversial Presiden Rodrigo Duterte, hampir 2.000 orang tewas dalam waktu beberapa pekan. Wartawan BBC Jonathan Head menjelajahi sisi gelap para pengedar dan pembunuh melalui seorang perempuan yang terjebak dalam keadaan yang sulit.

Ketika Anda bertemu dengan pembunuh yang telah menewaskan enam orang, Anda tidak mengharapkan bertemu dengan seorang perempuan bertubuh kecil yang tampak gugup sambil menggendong bayinya.

“Pekerjaan saya yang pertama pada dua tahun lalu di provinsi di dekat sini. Saya merasa sangat takut dan gugup karena itu merupakan yang pertama bagi saya.”

Maria, bukan nama sebenarnya saat ini disewa untuk membunuh – sebagai bagian dari sanksi pemerintah dalam perang memberantas narkoba. Dia merupakan bagian dari sebuah tim pemburu yang terdiri dari tiga perempuan, yang berharga, karena mereka dapat mendekati korban mereka tanpa menimbulkan kecurigaan yang dialami laki-laki. Sejak Presiden Duterte terpilih, dan mendesak warga dan polisi untuk membunuh pengedar narkoba yang menolak ditahan, Maria telah menewaskan lima orang, menembak mereka semuanya di bagian kepala.

Saya bertanya kepada dia siapa yang memberikan perintah untuk pembunuhan ini: “Bos saya, seorang perwira polisi,” kata dia.

Di suatu sore ketika kami bertemu, dia dan suaminya diberitahu bahwa rumah aman mereka telah terbongkar. Mereka pun pindah dengan tergesa-gesa. Perang narkoba yang kontroversial telah memberinya lebih banyak pekerjaan, tetapi juga risiko. Dia menggambarkan bagaimana pekerjaan itu dimulai ketika suaminya ditugaskan untuk membunuh seorang debitur oleh petugas polisi – yang juga merupakan seorang penjual narkoba.

“Suami saya diperintahkan untuk membunuh orang yang tidak membayar utangnya.”

Ini menjadi sebuah tugas rutin bagi suaminya sampai terjadi situasi yang lebih menantang.

“Suatu waktu, mereka membutuhkan seorang perempuan…. suami saya memberi jalan kepada saya untuk melakukan pekerjaan ini. Ketika saya melihat orang yang seharusnya saya bunuh, saya mendekati dia dan saya menembaknya.”

Maria dan suaminya berasal dari lingkungan yang miskin di Manila dan tidak memiliki penghasilan tetap sebelum menyetujui untuk menjadi pembunuh bayaran. Mereka berpenghasilan lebih dari 20.000 peso Filipina atau Rp5,7 juta setiap membunuh, yang akan dibagi dengan tiga atau empat orang. Itu merupakan sebuah keuntungan bagi warga Filipina dengan penghasilan rendah, tetapi sekarang tampaknya tak ada jalan bagi Maria untuk keluar dari situasi itu.

Kontrak untuk membunuh bukan sesuatu yang baru di Filipina. Tetapi para pembunuh bayaran tak pernah sangat sibuk, seperti yang mereka alami saat ini. Presiden Duterte telah mengirimkan sebuah pesan yang jelas. Menjelang pemilihannya, dia berjanji akan membunuh 100.000 pelaku kriminal dalam enam bulan pertama masa pemerintahannya.

Dan terutama dia memperingatkan para pengedar narkoba: “Jangan menghancurkan negara kami, karena saya akan membunuh Anda.”

Akhir pekan lalu dia mengulangi pandangannya, untuk mempertahankan pembunuhan para tersangka kriminal tanpa diadili.

“Apakah hidup dari 10 orang pelaku kriminal ini benar-benar berarti? Jika saya merupakan salah seorang yang menghadapi penderitaan ini, apakah hidup 100 orang idiot ini akan berarti bagi saya?”

Apa yang diprovokasi melalui ucapan presiden untuk melancarkan kampanye tanpa belas kasihan terhadap penyebaran narkoba jenis kristal met atau “sabu” seperti yang dikenal di Filipina. Murah, mudah dibuat, dan menyebabkan ketagihan, dengan cepat membuat perasaan melayang, merupakan pelarian dari hidup di kawasan kumuh yang kotor dan membosankan, menyasar para buruh dengan pekerjaan yang melelahkan seperti supir truk untuk dapat menjalani hari mereka.

Apa itu Sabu?

Seringkali disebut “es” atau “crystal meth” di Barat, Sabu merupakan istilah yang digunakan untuk sebuah amfetamin yang murni dan ampuh di Filipina dan negara Asia lain. Sabu seharga 1. peso Filipina per gram atau Rp278ribu. Itu dapat dihisap, diinjeksi, endus atau dicampur dalam air. Filipina merupakan tempat yang dijadikan laboratorium industri rumah tangga yang memproduksi berton-ton narkoba – yang kemudian didistribusikan ke wilayah Asia.

Duterte menggambarkannya sebagai sebuah pandemi, yang menimpa jutaan warga negaranya. Ini juga sangat menguntungkan. Dia memiliki daftar 150 pejabat senior, perwira dan hakim terkait dengan perdagangan narkoba. Lima jenderal polisi, kata dia, merupakan raja dari bisnis ini. Tetapi mereka yang berada di tingkat bawah dalam peredaran ini yang menjadi target pasukan pembunuh.

Menurut polisi lebih dari 1.900 orang tewas dalam insiden yang terkait dengan narkoba sejak Duterte menduduki jabatannya pada 30 Juni lalu. Kata mereka 756 tewas oleh polisi, semuanya menolak ditahan. Jumlah orang yang tewas lainnya, secara resmi, masih diselidiki.

Dalam praktiknya tidak ada penjelasan untuk sebagian besar kasus. Hampir semua yang jasadnya ditemukan setiap malam di kawasan kumuh di Manila dan kota lain yang miskin – pengemudi becak, buruh rendahan, pengangguran.

Seringkali disebelah jasad mereka ditemukan kertas yang bertuliskan peringatan agar tidak terlibat dalam narkoba. Ini merupakan sebuah perang yang hampir secara ekslusif terjadi di bagian yang paling miskin di negara ini. Orang seperti Maria digunakan sebagai agen mereka. Tetapi ini merupakan perang yang populer. Di Tondo, sebuah kota di dekat pelabuhan Manila, sebagian besar penduduknya mendukung kampanye presiden. Mereka menuduh “sabu” meningkatkan kejahatan, menghancurkan hidup, meskipun beberapa khawatir kampanye itu semakin diluar kendali, dan korban yang tidak bersalah juga tertangkap.

Salah satu yang diburu oleh pasukan pembunuh adalah Roger – bukan nama sebenarnya.
Dia menjadi pecandu sabu sejak masih muda, kata dia, ketika bekerja sebagai buruh rendahan. Seperti banyak pecandu dia mulai berupaya untuk mendukung kebiasaannya, dan itu merupakan pekerjaan yang lebih nyaman dibandingkan menjadi buruh. Dia banyak bekerja dengan seorang polisi yang korup, kadang-kadang mengambil porsi dari sabu yang disita dalam penggerebekan untuk dijual.

Sekarang dia sedang melarikan diri, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya setiap beberapa hari agar tidak terlacak dan dibunuh.

“Setiap hari, setiap jam, saya tidak dapat menghilangkan rasa takut di dada saya. Itu sangat melelahkan dan menakutkan untuk bersembunyi sepanjang waktu. Anda tidak mengetahui jika orang itu benar-benar ada di depan Anda, atau jika orang yang Anda hadapi bisa jadi seorang pembunuh. Sangat sulit untuk tidur di malam hari. Bunyi yang sangat kecil pun dapat membangunkan saya. Dan bagian yang paling berat dari semuanya adalah saya tidak tahu siapa yang dapat saya percaya, saya tidak tahu arah tujuan saya setiap hari, serta mencari tempat untuk bersembunyi.”

Dia merasa bersalah atas perannya dalam peredaran narkoba yang destruktif.
“Saya benar-benar percaya bahwa saya telah melakukan dosa. Banyak sekali. Saya melakukan sesuatu yang buruk. Saya bersalah terhadap banyak orang karena mereka menjadi pecandu, karena saya salah satu dari banyak orang yang menjual narkoba kepada mereka. Tetapi apa yang bisa saya katakan bahwa tidak semua orang yang menggunakan narkoba melakukan tindakan kriminal, mencuri dan bahkan membunuh. Saya juga pecandu tetapi saya tidak membunuh. Saya seorang pecandu tetapi saya tidak mencuri.”

Dia telah mengirimkan anak-anaknya untuk tinggal bersama keluarga istrinya di pedesaan, sebagai upaya untuk menghentikan paparan epidemi narkoba terhadap mereka. Dia memperkirakan 30% dan 35% orang di lingkunganya merupakan pecandu.

Jadi ketika Presiden Duterte menyatakan beberapa kali dalam masa kampanye presidennya bahwa dia akan membunuh para pengedar narkoba, membuang mayat mereka ke Teluk Manila, apakah Roger menanggapnya serius?

“Ya, tetapi saya pikir dia akan menyasar sindikat yang besar pembuat narkoba, bukan pengedar kecil seperti saya. Saya berharap saya dapat memutar waktu kembali. Tetapi itu sudah terlambat bagi saya. Saya tidak dapat menyerah, karena jika saya melakukannya polisi mungkin akan membunuh saya.”

Maria juga menyesal atas pilihan yang telah dibuatnya.

“Saya merasa bersalah dan itu mengelisahkan saya. Saya tidak ingin keluarga dari orang yang saya bunuh mendatangi saya.”

Dia khawatir mengenai apa yang akan dipikirkan anaknya.

“Saya tidak ingin mereka datang kepada kami dan mengatakan bahwa mereka dapat hidup karena kami membunuh demi uang.” Anak laki-lakinya yang tertua bahkan sudah mulai bertanya bagaimana dia dan suaminya bisa mendapat begitu banyak uang.

Dia harus membunuh sekali lagi, untuk memenuhi kontraknya, dan ingin agar tindakan itu menjadi yang terakhir. Tetapi bosnya telah mengancam akan membunuh siapapun yang keluar dari tim. Dia merasa terjebak. Dia meminta kepada pasturnya untuk memberikan pengampunan dalam pengakuan dosa di gereja, tetapi dia tidak berani mengatakan kepadanya apa yang dia telah lakukan. Apakah dia merasa ada pembenaran menjalankan kampanye Presiden Duterte untuk menaklukan pengedar narkoba?

“Kami hanya berbicara mengenai misi, bagaimana menjalankannya,” kata dia. “Ketika itu selesai kami tak membicarakannya lagi.”

Tetapi dia meremas tangannya ketika berbicara dan menutup matanya, tampaknya dia tidak ingin memceritakannya. (BBC)

 

239 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *