Pengembangan KIE Kreatif Melalui Seni Budaya Provinsi Lampung

Bunda Paud Provinsi Lampung Yustin Ridho Ficardo bersama pada acara Jambore Kader POKTAN "KB" di Kampung Tabek Indah Natar, Lampung Selatan, Senin 22 Agustus 2016.

Bunda Paud Provinsi Lampung Yustin Ridho Ficardo bersama pada acara Jambore Kader POKTAN “KB” di Kampung Tabek Indah Natar, Lampung Selatan, Senin 22 Agustus 2016.

LAMPUNG SELATAN, RADIO SUARA WAJAR — Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung Yustin Ridho Ficardo, menghadiri Jambore Kader POKTAN “KB” di Kampung Tabek Indah Natar, Lampung Selatan, Senin 22 Agustus 2016.

Kegiatan ini mengambil tema “Pengembangan KIE Kreatif Melalui Seni Budaya Provinsi Lampung”. Acara dihadiri 300 kader Poktan KB dari 13 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung ini memperoleh Penghargaan MURI, yakni sulam usus dengan peserta terbanyak.

Yustin Ridho Ficardo menghimbau para kader untuk terus bersemangat dalam menjalankan amanah tugas.

“Ketulusan dan keikhlasan Bapak ibu dalam menyukseskan Program KKBPK bernilai ibadah disisi Tuhan. Kita ketahui bersama, keluarga mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter bangsa. Yakni melalui gerakan revolusi mental, yang harus dimulai dari unsur terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga,” ujarnya.

Lebih lanjut diungkapkan, keluarga merupakan lingkungan pembentukan watak, dan pendidikan karakter yang pertama, dan yang utama.

“Oleh karena itu, mari kita wujudkan keluarga kecil berkualitas. Keluarga yang lebih maju, mandiri, berkepribadian melalui revolusi mental berbasis keluarga,” ajak Istri Gubernur Lampung.

Ia juga berharap melalui pelaksanaan jambore ini, selain dijadikan wadah memupuk kebersamaan dan ajang silaturahmi, sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan, motivasi dan peran serta kader dalam menyukseskan program keluarga berencana.

Ketua Tim Penggerak PKK juga mengatakan, kader poktan KB merupakan salah satu ujung tombak yang mempunyai peran penting. Yakni sebagai pelaku yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dalam menyukseskan program Keluarga Berencana. Para kader telah bergerak, mulai dari kota hingga pelosok desa untuk mensosialisasikannya.

“Tentunya banyak tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari minimnya kesadaran masyarakat, kondisi geografis letak daerah yang sulit dijangkau, keterbatasan fasilitas, hingga perbedaan pandangan agama, adat dan budaya,” kata Yustin Ridho Ficardo.***

Reporter : Robert

203 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *