Polda Lampung Menggelar Prarekonstruksi Jilid II Dalam Kasus Mutilasi M. Pansor

M. Pansor

M. Pansor anggota DPRD Bandarlampung semasa hidup. (foto sumatera ekspres/jpg

RADIO SUARA WAJAR – Rangkaian bukti-bukti yang dimilik penyidik Polda Lampung mulai terekspose lewat prarekonstruksi. Kamis (5/8) kemarin, Polda Lampung menggelar prarekonstruksi jilid II dalam kasus mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung M. Pansor.

Prarekonstruksi lanjutan ini menggambarkan kronologi pascapembuangan mayat Pansor. Pansor ditemukan dengan tubuh tidak utuh pada 19 April 2016 di sungai Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan. Polisi sudah menetapkan dua tersangka dalam kasus ini, yakni oknum anggota Polresta Bandar Lampung Brigadir Medi Andika, dan Tarmizi, warga Aceh.

Prarekonstruksi jilid I kasus mutilasi Pansor digelar di tiga lokasi di Bandar Lampung dan dilanjutkan di lokasi penemuan jenazah di OKU Timur, Sumsel, pada Senin (1/8) lalu.

Di Bandar Lampung, sedikitnya ada 13 adegan yang diperagakan. Sementara pada prarekonstruksi jilid II terdapat 50 adegan yang diperagakan. Semua adegan diperagakan oleh tersangka Tarmidi (sebelumnya ditulis Tarmizi). Sedangkan tersangka Brigadir Medi Andika tidak ikut memeragakan adegan.

Penyidik Polda Lampung membawa Medi ke lokasi prarekonstruksi. Namun, Medi hanya berada di dalam mobil. Peran Medi digantikan oleh anggota polisi. Selain penyidik, prarekonstruksi juga dihadiri tim kuasa hukum Medi, yaitu Budiono.

Ada 10 tempat yang dijadikan lokasi prarekonstruksi. Dimulai dari Polresta Bandar Lampung, Rumah Sakit Advent, cucian mobil Soponyono, jalan dekat SMAN 5 Bandar Lampung, perempatan lampu merah cucian Andre, pinggir Jalan Urip Sumoharjo.

Lalu berlanjut ke rumah kakak tersangka Tarmidi di Perumahan BTN 3 Way Halim, pinggir jalan dekat kafe Babe Way Halim, konter HP Cinta Cell di Jalan Ki Maja, dan terakhir di tempat pembuatan pelat nomor kendaraan di Jalan Teuku Umar depan kantor PT KAI.

Pada prarekonstruksi ini tergambar cara Medi menghilangkan jejak usai membuang mayat Pansor di OKU Timur, Sumsel.

Kronologi bermula ketika Medi dan Tarmidi membuang mayat Pansor. Dalam perjalanan pulang mengendarai mobil Pansor, tepatnya di daerah Bukit Kemuning, Lampung Utara, Medi menanyakan ke Tarmidi apakah ingin tahu yang dibuang olehnya.

Ketika itu, Tarmidi menjawab ingin tahu. Namun, Medi tidak memberitahu dengan alasan nanti Tarmidi takut kalau tahu. Sampai di Gunung Sugih, Lampung Tengah, Medi akhirnya memberitahu kepada Tarmidi bahwa yang dibuangnya adalah mayat orang.

Tarmidi sempat menanyakan siapa orang tersebut, namun Medi enggan memberitahukannya. Medi mengatakan, Tarmidi tak usah banyak tahu soal mayat yang dibuang tersebut.

Kedua tersangka yang diancam hukuman mati tersebut, lalu sampai di depan markas Polresta Bandar Lampung. Medi turun dari mobil lalu meminta Tarmidi mencuci mobil Pansor.

Medi lantas masuk ke dalam kamar mandi masjid samping Polresta Bandar Lampung untuk berganti pakaian dan kemudian mengikuti apel pagi.

Lubang Peluru di Mobil

Dari Mapolresta Bandar Lampung, Tarmidi membawa mobil Pansor ke cucian mobil Soponyono di Jalan Soekarno Hatta. Pada saat di tempat cucian mobil, Medi menelepon Tarmidi meminta mengecek apakah ada peluru atau lubang bekas peluru di mobil tersebut. Tarmidi melihat lubang sebesar ujung jari telunjuk di kursi samping sopir.

Di mobil itu juga, terdapat bercak darah di rem tangan, jok sebelah kiri sopir, perseneling, pintu kiri dekat speaker, dan di bagian bawah karpet. Namun, tidak ditemukan peluru atau proyektil di dalam mobil.

Tarmidi kemudian menghubungi Medi untuk memberitahu tidak ada peluru atau proyektil di dalam mobil. Saat itulah, Medi berpesan kepada Tarmidi jika ada yang menanyakan darah di mobil, bilang saja habis dipakai anggota polisi.

Pada adegan prarekonstruksi itu, ada seorang saksi pencuci mobil yang menanyakan tentang darah di mobil. Sesuai arahan Medi, Tarmidi pun menjawab bahwa mobil tersebut habis dipakai anggota polisi.

Parkir di RS Advent

Usai cuci mobil, Medi kemudian menyuruh Tarmidi memarkirkan mobil Pansor di Rumah Sakit Advent. Tarmidi pun melaksanakan perintah tersebut. Usai memarkirkan mobil Pansor di lantai paling atas Rumah Sakit Advent, Tarmidi pulang ke rumah kakaknya naik mobil angkot.

Siang harinya, Medi kembali menelepon Tarmidi meminta datang ke Polresta Bandar Lampung. Medi juga menyuruh Tarmidi membeli telepon seluler yang harganya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Tarmidi membeli ponsel Nokia di Cinta Cell.

Sampai di Polresta Bandar Lampung, kedua tersangka bertemu di depan ruang Unit Laka Lantas. Pada saat itu ada saksi Fahrizal yang melihat Tarmidi dan Medi. Medi meminjam helm Fahrizal. Setelah itu, Medi dan Tarmidi pergi mengendarai sepeda motor Honda Beat milik Medi.

Kedua tersangka menuju sebuah tempat pembuatan pelat nomor kendaraan di Jalan Teuku Umar. Pelat palsu tersebut digunakan untuk mengganti pelat yang ada di mobil Pansor. Setelah mendapatkan pelat palsu, keduanya menuju Jalan Soekarno Hatta, tepatnya depan SMAN 5 Bandar Lampung. Di tempat itulah Medi menghancurkan ponsel BlackBerry milik Pansor menggunakan batu. Sedangkan sim card milik Pansor tidak ikut dihancurkan. Sim card tersebut ditaruh Medi di ponsel Nokia yang dibeli Tarmidi.

Mereka lalu menuju ke perempatan lampu merah cucian Andre, Tanjungkarang Timur. Medi turun dari motor berjalan menuju lampu merah. Medi lalu membuang ponsel Nokia yang berisi sim card Pansor ke bak mobil truk yang melintas di jalan tersebut.

Medi dan Tarmidi pulang ke rumah Medi. Tarmidi lalu pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, di Jalan Urip Sumoharjo, Tarmidi membuang sim card miliknya.

Beberapa hari berselang, Tarmidi membuat rekening di Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang terletak di Polresta Bandar Lampung. Rekening itu dipakai untuk menampung uang hasil penjualan mobil Pansor. Tarmidi dan Medi pergi ke Jakarta untuk menjual mobil Pansor. Selama dalam perjalanan, mereka menggunakan pelat nomor kendaraan palsu.

Alibi di Rumah Mertua

Sementara itu, Sopian Sitepu, pengacara Brigadir Medi, mengatakan, prarekonstruksi yang digelar merupakan hak penyidik. Ia mengatakan, prarekonstruksi adalah upaya penyidik untuk membuat terang perkara tersebut. Namun, Sopian menekankan bahwa pada prarekonstruksi tersebut, kliennya menolak semua adegan yang diperagakan.

“Klien saya tidak mau memperagakan prarekonstruksi karena dia merasa tidak terlibat kasus ini,” ujar Sopian, Kamis.

Menurut Sopian, kliennya memiliki alibi kuat pada saat pembuangan mayat Pansor di Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.

“Pada saat itu klien saya ada di rumah mertuanya di Kemiling,” ucap Sopian.

“Ini didukung dengan keterangan istri Medi yang menyatakan Medi ada di rumah mertua bersama istrinya,” terang Sopian.

Mengenai gugatan praperadilan, Sopian mengaku belum mau mengambil langkah tersebut sampai saat ini. Ini dikarenakan, menurut Sopian, penyidik sudah memenuhi syarat formal penahanan terhadap Medi. Namun, untuk syarat materiil, Sopian mengatakan, perlu dibuktikan di pengadilan.

“Nanti alat bukti penyidik biar dibuktikan saja di pengadilan,” ujar Sopian.

Sementara itu, Kejaksaan Tinggi Lampung sudah menerima Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus mutilasi Pansor. Dua tersangka, Medi dan Tarmizi, dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Sub Pasal 338 KUHP, Sub Pasal 365 KUHP jo Pasal 55 dan 56 KUHP. Di dalam Pasal 340 KUHP, ancaman hukuman maksimal adalah pidana mati atau pidana seumur hidup.(lampung.tribunnews.com)

 

453 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *