Renungan Harian, Sabtu 30 Juli 2016

Sabtu Biasa XVII

Bacaan: Matius 14:1-12

Yohanes Pembaptis dibunuh

14:1 Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 14:2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” 14:3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 14:4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” 14:5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 14:6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 14:7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 14:8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” 14:9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 14:10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 14:11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 14:12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Renungan

Berkaitan dengan permainan Pokemon Go, ada banyak orang yang kencaduan dan lupa akan lingkungan sekitarnya. Salah satu bahaya terbesar dari permainan itu adalah sang pemain lupa akan lingkungan real yang ada di sekitarnya. Yang ada dipikirannya adalah layar dari permainan itu. Bahkan ada yang karena bermain game itu kemudian ditembak oleh seorang pemilik rumah karena disangka sebagai pencuri.

Permainan itu menyenangkan, membuat hati bisa bergembira. Permianan itu seolah membawa sang pemain pada dunia kayalan yang menjadi bayangannya. Maka dari itu game itu digemari banyak orang, dari yang tua sampai yang muda. Namun demikian, permainan itu juga membawa bahaya, tidak hanya mencelakakan diri sendiri, namun permaianan itu juga mencelakakan orang lain. Seorang pengendara mobil terpaksa harus banting setir dan mobilnya terguling gara-gara menghidari seorang anak muda yang berada ditengah jalan karena permainan pokemon go. Ternyata anak itu juga tidak sadar bahwa dirinya saat itu sedang berdiri ditengah jalan raya. Ia membahayakan dirinya sendiri dan membahayakan orang lain.

Ada film berjudul ‘hati-hatilah terhadap keinginanmu’. Dalam hal ini, kita dapat berkata ‘hati-hatilah terhadap kesenanganmu’. Kesenangan kita tidak jarang justru mencelakakan diri sendiri dan bahkan mencelakai orang lain. Karena kesenangannya, seorang yang bermain pokemon go membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Demikian yang kiranya terjadi pada Herodes. Kesenangannya justru menghancurkan dirinya sendiri. Kesenangannya membuat dirinya lupa diri. Pada akhirnya, apa yang sebenarnya ia segani, ia kagumi, justru harus hilang karena ulahnya sendiri. Karena kesenangannya Herodes kehilangan kesempatan untuk membabaskan Yohanes pebaptis. Ia justru memerintahkan prajurid untuk memenggal kepalanya demi seorang gadis yang membuatnya senang dengan tarian.

Bagi kita, tidak jarang karena kesenangan diri kita sendiri, orang lain sampai harus mengalami penderitaan. Karena kesenangan kita, orang lain sampai tega kita bunuh. Mungkin kita tidak membunuhnya dengan pisau atau pistol, namun kita membunuhnya dengan kata-kata dan  sikap kita.

Sebagai orang Kristiani, mari kita mengendalikan kesenangan kita untuk yang baik. Bukannya kita yang dikendalikan oleh kesenangan-kesenangan itu, namun kitalah yang mengendalikannya. Dengan demikian, kita mengalami kesenangan yang mendalam, kesenangan yang membuahkan hasil yang baik.

Mari kita belajar dari Herodes, seorang raja yang hanya dikuasai kesenganan belaka. Ia kehilangan kesempatan untuk belajar dan mendengarkan Yohanes pebaptis yang sebenarnya ia segani. Mari kita belajar untuk mengendalikan kesenangan diri. Jangan sampai karena kesenangan diri, justru membuat diri kita celaka.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu mengendalikan rasa gembira dan kesenangan kami. Semoga apa yang kami senangi tidak membuat kami lupa akan Engkau sendiri. Semoga kesenangan kami semakin membantu kami untuk semakin mencitai-Mu dalam diri sesame kami. Amin.

 

218 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *