Renungan Harian, Selasa 26 Juli 2016

Selasa Biasa XVII

Bacaan: Matius 13:16-17

13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Renungan

Manusia hidup dengan pancara indera. Manusia yang biasa mempunyai lima panca indera pokok. Masing-masing mempunyai fungsi dan kepekaanya sendiri. Namun tidak jarang kita jumpai ada dari antara kita yang tidak mempunyai lengkap lima panca indera. Jika semua berfungsi, maka akan terjadi keseimbangan. Namun jika ada satu yang tidak berfungsi, rasanya keseimbangan itu menjadi goyah.

Menurut pengamatan dan sharing dari mereka yang sejak kecil tidak bisa melihat, mereka mempunyai kepekaan yang lebih dalam pendengaran atau dalam indera perasanya. Jika ada sesuatu yang tidak beres, atau akan terjadi sesuatu, mereka bisa merasakan meski tidak bisa melihatnya. Tuhan Allah mengatur segalanya dengan bijaksana, begitu yang satu tidak berfungsi dengan baik, indera yang lain akan melengkapi dan membantu.

Bagi yang lengkat inderanya, rasanya sulit membayangkan bagaimana rasanya seorang dewasa yang sejak lahirnya mengalami kebutaan misalnya. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah bagaimana dia membayangkan dunia ini? Karena kita sering kali menggunakan sudut pandang kita sendiri, tidak jarang orang-orang yang buta, bisu, tuli, seperti nampak disingkirkan, padahal mereka adalah bagian dari hidup ini. Dengan demikian, mereka adalah bagian dari hidup kita juga. Justru merekalah yang perlu mendapat perhatian dan perlindungan yang lebih dari kita. Merekalah yang rentan terhadap bahaya. Mereka menjadi bagian dari tanggung jawab kita.

Kiranya sangat humanis jika Yesus dalam bacaan hari ini mengajak kita untuk berbahagia karena bisa melihat dan mendengar. Dalam pengertian harafiah memang sudah selayaknya kita berbahagia dan bersyukur karena bisa melihat dengan mata kepala dan mendengar dengan telinga tubuh. Tidak ada kata lain selain bersyukur dan berbahagia. Namun justru sering kali yang terjadi sebaliknya, kita justru bersedih karena melihat dan mendengar yang tidak mengenakkan. Tidak jarang bahkan justru ada yang berdoa jika mungkin ambil saja penglihatan dengan pendengaran ini. Doa yang bertentangan dengan kasih Allah.

Pertanyaan kecil yang bisa kita renungkan adalah mengapa kok Yesus hanya mengatakan ‘melihat dan mendengar? Mengapa tidak sampai pada ‘berbahagialah mereka yang bisa bicara’?

Tuhan Allah menciptakan manusia dengan dua telinga, dengan dua mata, dengan dua lubang hidung, tetapi mulut hanya satu. Kiranya kita diajak untuk melihat dan mendengar lebih banyak dari pada lebih banyak bicara. Melihat dan mendengar lebih banyak adalah sumber pembelajaran yang bijaksana. Sementara berbicara banyak menjadikan seseorang tidak belajar untuk bijaksana dan rendah hati. Dengan satu mulut saja sudah lebih benyak bicaranya dari pada mendengarnya, apalagi dengan dua mulut. Hidup kita bisa menjadi mulut semua.

Kebahagiaan sejati timbul dari penglihatan dan pendengaran, bukan dari pembicaraan. Melihat dan mendengar berarti menerima apa yang dari luar. Sementara berbicara berarti mengeluarkan yang dari dalam. Ingat apa yang menajiskan dan tidak menajiskan?

Sebagai orang beriman, semoga kita mempunyai mata yang jeli untuk melihat dan telinga yang ajam untuk mendengar. Terlebih kita diajak untuk melihat dan mendengar karya agung Allah dalam hidup kita. Apa yang kita lihat dan kita dengan bisa jadi persis sama seperti orang lain, tetapi apa yang masuk ke dalam hati dan keluar dari diri kita bisa sangat berbeda karena kita melihat dengan iman.

Mari mohon rahmat Tuhan agar kita senantiasa dimampukan untuk melihat dan mendengar karya-karya Tuhan. Dari situ kita membagikan apa yang kita dengar dan lihat dalam tindakan dan perkataan kita yang medatangkan berkat bagi orang lain.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas diri dan hidup kami. Ajarilah kami untuk senantiasa mampu bersyukur atas keadaan hidup kami. Semoga kami tidak mudah putus asa jika mengalami keterbatasan fisik. Bantulah kami agar dengan apa yang kami miliki, kami tetap mampu mendengar dan melihat dengan mata dan teling-Mu sendiri. Semoga dengan demikian, hidup kami menjadi hidup yang semakin indah. Amin.

 

301 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *