Renungan Harian, Sabtu 9 Juli 2016

Sabtu Biasa XIV

Bacaan: Matius 10:24-33

10:24 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. 10:25 Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. 10:26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 10:27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. 10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. 10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 10:30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. 10:31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Renungan

Dalam kehidupan harian, tidak jarang kita menjumpai kenyataan bahwa orang yang dulunya tidak pernah kita perhitungkan, kini menjadi orang yang hebat dalam bidangnya. Bisa jadi teman sekolah SD dulu sama sekali tidak dipandang, apalagi diperhitung, namun justru sekarang menjadi seorang pemimpin perusahaan yang sukses, usahanya berkembang dengan baik, ia mampu memanage karyawan dengan baik, semuanya berjalan dengan baik dan sukses. Ia yang dulunya hanya diam pasif ketika pelajaran sekolah, kini menjadi orang yang sungguh luat biasa dalam memimpin rapat. Ia yang dulunya seperti tidak mempunyai cahaya hidup, kini ia menjadi seperti berkobar-kobar. Ia yang dulu penampilannya tidak menarik, kini menjadi orang yang dikagumi banyak orang, berpenampilan bersih dan anggun.

Hal demikian sering kali tidak terduga dalam hidup kita. Setelah sekian lama tidak berjumpa, ketika sekarang berjumpa kita hanya bisa berdecak kagum atas apa yang dicapainya. Dalam pengertian rohani, hal ini bisa kita katakan sebagai penyingkapan rahasia. Apa yang dulunya tersembunyi, kini terungkap dengan jelas; apa yang dulu hanya berbisik-bisik, kini diwartakan dengan loud speaker. Semuanya terbuka dengan jelas, setiap orang mengetahui dan mengamini. Apa yang dulu tidak masuk dalam pandangan, kini menjadi jelas terlihat dan membuat terpana.

Siapa yang dapat menghitung rambut di tubuh kita? Tidak terhitung namun semuanya diperhitungkan oleh Tuhan. Tak ada satu titikpun dalam tubuh kita yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada satu waktupun dalam hidup kita yang Tuhan lewatkan, seolah Ia sedang tidur. Dia senantiasa mempunyai kepentingan dengan kita, dia selalu berurusan dengan kita. Dengan kata lain, kita selalu berharga dimata-Nya. Tuhan selalu memelihara dan memperhatikan kita, dimanapun dan kapanpun. Mengandalkan Tuhan dalam hidup kita menjadi jalan hidup yang paling mungkin bisa kita lakukan.

Mengandalkan Tuhan tidak berarti bahwa segala sesuatu kita berikan kepada Tuhan, dan kita tidak berbuat apa-apa. Mengandalkan Tuhan berarti di dalam setiap keputusan benar yang kita buat, kita membuatnya dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyempurnakan apa yang tidak bisa kita lakukan. Apa yang diluar kendali diri kita, biarlah Tuhan yang menyelesaikan. Tidak semua hal bisa kita kendalikan, tidak semua hal mampu kita mengerti, tidak semua hal mampu kita terima. Apa yang diluar batas diri, mari kita serahkan kepada Dia yang mempunyai hidup ini.

Sebagai orang beriman, sedianya kita mampu untuk melihar orang lain sebagai yang berharga. Memandang sebelah mata terhadap orang lain bukanlah tindakan kristiani, apalagi merendahkan orang lain. Merendahkan dengan kata-kata mungkin akan lebih ringan dan mudah dimengerti. Namun merendahkan dengan sikap dan hati akan menjadi siksaan yang luar biasa, bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Jangan sampai kita menjadi begitu malu karena merendahkan orang lain namun justru orang itu menjadi orang hebat. Akibat dari perendahan itu, kita tidak mampu menerima keberadaan orang tersebut.

Kita semua berharga di mata Tuhan. Demikian juga seharusnya pandangan kita terhadap sesama. Janganlah menghargai dan menghormati orang lain hanya karena dia seorang pastor atau suster, atau karena dia punya jabatan tinggi, atau hanya karena ia berjasa dalam hidup kita. Jangan pula merendahkan orang lain karena ia lebih miskin, tidak berpendidikan, tidak bekerja sesuai yang kita harapkan, berasal dari golongan tertentu.

Sebagai orang beriman, hargailah orang lain karena memang orang lain sudah dari dirinya sendiri berharga, sama dengan kita mempunyai nilai internal yang luhur dan mulia. Merendahkan orang lain berarti merendahkan Ia yang menciptakan kita, menyangkal orang lain berarti juga menyangkal Ia yang memberia hidup pada kita. Tegurlah sesama yang bersalah dengan teguran yang membangun, teguran yang kristiani.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu untuk senantiasa melihat orang lain sebagai yang berharga. Ajarilah kami agar kami mampu untuk mencintai orang lain karena ia memang layak dicintai, menghargai orang lain karena ia memang berharga. Semoga amarah dan ego kami tidak menutup hati kami untuk melihat Engkau dalam sesama kami. Amin.

 

225 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *