Renungan Harian, Kamis 7 Juli 2016

Kamis Biasa XIV

Bacaan: Matius 10:7-15

10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. 10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. 10:9 Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. 10:10 Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. 10:11 Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. 10:12 Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. 10:13 Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 10:14 Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Renungan

Melanjutkan permenungan perikopa sebelumnya, perikopa hari ini masih dalam kerangka Yesus mengutus para murid pergi berdua-dua untuk mewartakan Kerajaan Sorga. Yesus mengutus para murid dengan kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan mereka yang sakit, bahkan membangkitkan orang mati juga. Dengan kata lain, para murid dibekali dengan rahmat kebaikan, diutus untuk membawa kebaikan dan kegembiraan kepada setiap orang. Dengan modal itulah mereka diutus untuk pergi dan berkarya. Dengan modal itu pula mereka tidak diperkenan merepotkan diri dengan banyak hal yang akan mengaburkan perkabaran Kerajaan Sorga.

Hari ini Yesus memberi arahan bagaimana para murid harus bekerja. Kode etik yang diberikan oleh Yesus berlaku bagi para murid dalam seluruh misinya, yakni tidak membawa harta kekayaan, tidak kuatir dengan makan minum serta pakaian, serta tidak kuatir dengan tempat tinggal yang akan menjadi tempat berteduh. Kekuatiran akan hal-hal itu hanya membuat warta kerajaan sorga menjadi kabur, tugas perutusan mereka menjadi tidak fokus dan terpecah belah. Apakah hal-hal itu tidak penting? Yesus tidak menjelaskan penting atau tidak, namun yang hendak ditekankan oleh Yesus pada para murid-Nya adalah perkara untuk fokus pada pewartaan kabar sukacita.

Harta kekayaan, pakaian, makanan minuman, dan tempat tinggal menjadi unsur yang penting dan mendukung dalam proses pewartaan Kerajaan Allah. Namun demikian, hal itu menjadi relative  karena yang paling utama adalah “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Maka ukuran ‘keberhasilan’ perutusan kita dapat diukur dengan pertanyaan apakah orang-orang yang sakit bisa sembuh? Apakah yang menderita menjadi semakin ringan? Apakah orang yang kita temui berani bangkit dari kematian-kematian hidupnya?

Ukuran ini bisa kita lihat secara personal, namun orang lain juga bisa dengan lebih jelas. Maka keterbukaan terhadap orang lain menjadi ciri dari utusan-utusan Yesus yang mewartakan kabar sukacita.

Secara sederhana, sebagai orang Kristiani, kita semua adalah para murid yang diutus untuk mewartakan kerajaan Sorga dalam kehidupan kita masing-masing. Tentu saja kebiasaan dan kearifan budaya setempat menjadi kebijaksanaan kita masing-masig dalam proses itu. Maka satu tempat dengan tempat lain mempunyai cirinya masing-masing.

Meski demikian, tetap ada garis lurus benang merah yang bisa kita pakai sebagai prinsip untuk mewartakaan Kerajaan Soraga, yakni senyum-sapa-salam. Pertama kali bertemu orang atau hendak masuk rumah orang, senyuman menjadi bahasa kristiani yang mampu diterima semua orang dengan pandangan yang positif. Setelah saling tersenyum barulah kemudia menyapa. Sapaan itu kemudian baru diikuti dengan tindakan menyalami.

Kiranya tiga proses ini senyum-sapa-salam tidak bisa dibalik urutannya. Dari jauh orang sudah akan merasa aman dan nyaman jika ada senyuman. Aman dan nyaman itu kemudian baru sapa dan salam.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu setia untuk menjadi murid yang mewartakaan kabara sukacita dalam hidup kami. Semoga kami mampu menjadi penyalur berkat-Mu. Ajarilah kami agar kami membawa berkat bagi orang lain, bukan justru menjauhkan orang dari pada-Mu. Semoga kehadiran kami ditengah masyarakat senantiasa membawa kabar sukacita. Amin.

 

342 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *