Renungan Harian, Sabtu 2 Juli 2016

Sabtu Biasa XIII

Bacaan: Matius 9:14-17

Hal berpuasa

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 9:15 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 9:16 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

Renungan

Laku puasa biasanya dilakukan oleh seseorang untuk menyambut rahmat yang besar yang akan datang. Menjelang idulfitri umat muslim mempunyai masa puasa selama satu bulan. Menyambut paskah kita mempunyai masa puasa juga. Menyambut natal kita juga mempunyai masa puasa. Tindakan puasa itu menjadi pertanda nyata dari kehendak yang kuat untuk mempunyai niat teguh untuk menanti sesuatu yang diharapkan. Apa yang diharapkan tentunya adalah sebuah berkat, bukan sebaliknya.

Namun demikian, tidak jarang tindakan puasa hanya berhenti pada rutinitas, pada ritual saja, misalnya tidak makan dan tidak minum. Makna terdalam dari tindakan itu tidak dimengerti dan tidak dihayati oleh yang melakukan, karena puasa dimengerti secara teknis saja. Demikian juga dengan murid-murid Yohanes dan orang Farisi yang melakukan laku puasa hanya karena hukum dan kebiasaan adat. Ketika mereka melihat ada ajaran baru, dan mungkin lebih enak, mereka menjadi gundah dan bertanya-tanya mengapa demikian. Maka kemudian murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya perihal ketidakpuasaan murid-murid-Nya.

Yesus menjawab pertanyaan itu dengan mengacu pada penantian kedatangan-Nya yang kedua. Yesus akan datang kembali dengan kemuliaan pada akhir jaman. Masa untuk menantikan kedatangan-Nya kembali itulah menjadi masa persiapan, masa puasa agung. Dalam pengertian ini kiranya puasa yang dimaksud Yesus bukan pengertian teknis, tapi masa puasa dimana isi dari puasa itu adalah menantikan keselamatan akhir jaman. Maka puasa bukan lagi dalam pengertian murid Yohanes dan orang Farisi, yakni tidak makan dan tidak minum seturut kebiasaan adat. Puasa menantikan kedatangan Yesus yang kedua adalah puasa dengan cara memasukkan hal-hal baru dalam diri manusia yang baru.

Kebaruan itu hanya terjadi dalam nama Yesus. Maka dalam masa puasa itu, apapun yang tidak berkaitan, apalagi bertentangan dengan Yesus, sudah selayaknya untuk dilepaskan. Kita yang bersatu dengan Yesus adalah kantung yang baru. Kantung baru sudah selayaknya diisi dengan anggur baru. Bersama dengan Yesus kita adalah selambar kain baru yang mesti ditembel dengan kain yang baru. Lubang-lubang dosa dalam hidup kita biarlah ditembel oleh Yesus sendiri, supaya lobang dosa itu tidak menjadi semakin besar dan menghancurkan hidup kita.

Sebagai orang beriman, saat ini kita dalam masa menantikan kedatangan Yesus yang kedua. Saat ini kita dalam masa puasa agung, seluruh hidup kita adalah bentuk dan isi dari puasa kita. Kita sudah dilahirkan dalam hidup yang baru. Maka sudah selayaknya diisi juga dengan anggur yang baru. Anggur lama jika tidak disingkirkan justru akan merusak hidup baru kita.

Mari mengisi hidup kita yang baru dengan anggur baru yang diberikan oleh Yesus sendiri. Kita buang kedengkian, keserakahan, ketamakan, caci maki, kebencian yang kita miliki dengan kasih sayang dan belas kasih dalam nama Yesus. Kita tinggalkan bermacam-macam persekutuan kita dan kita ganti hanya dengan persekutuan dalam nama Yesus. Semoga hidup kita menjadi jauh lebih damai dan tenang.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu untuk berlaku dalam hidup yang baru. Bantulah kami agar kami sanggup untuk membuang hidup lama yang membuat kami tersesat dan tidak selamat. Mampukan kami untuk hanya mengandalkan Engkau dalam hidup dan perjuangan kami. Tuhan, semoga anggur baru yang Engkau curahkan, mampu kami terima dan kami bagikan kepada sesame. Amin.

 

273 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *