KAPal Youth Day 2016

RADIO SUARA WAJAR – Keuskupan Agung Palembang mengadakan Keuskupan Agung Palembang Youth Day 2016 (KAPal Youth Day 2016) dimulai Senin hingga Jumat (20-24/6) di Stasi Keluarga Kudus Tegalarum, Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kegiatan empat  tahunan ini merupakan kegiatan perjumpaan antar OMK di Keuskupan Agung Palembang untuk saling mengenal dan menjaring teman-teman OMK yang belum aktif di gereja sendiri.

Rangkaian acara KYD 2016 ini dimulai dengan kegiatan pra-KYD berupa pertemuan katekese di masing-masing paroki di Keuskupan Agung Palembang. KYD 2016 ini menggunakan sistem live in, pertama kali dibuat, yaitu hidup bersama keluarga yang baru dikenal.

Persiapan tidak hanya dilakukan bagi Orang Muda Katolik (OMK). Keluarga-keluarga juga disiapkan melalui rekoleksi yang diberikan oleh RD Vinsensius Setiawan Triatmojo, Sabtu (18/6) lalu, di Stasi Tegalarum dan Paroki Batu Putih. Tujuannya agar KYD tahun ini, dengan sistem yang baru, berjalan dengan baik dan lancar.

KYD 2016 kali ini menggunakan sistem yang berbeda dari yang sebelumnya, yaitu peserta tinggal bersama dengan penduduk setempat (live in) dan ikut berproses selama berada di rumah penduduk. Peserta juga tinggal bersama teman-teman lainnya dari paroki yang berbeda-beda.

Empat tahun lalu, acara ini diberi nama Temu Akbar OMK KAPal. Lantas di-upgrade menjadi KAPal Youth Day menyesuaikan dengan pertemuan yang terjadi di tingkat nasional dan tingkat dunia.

Menurut Moderator Komisi Kepemudaan KAPal, romo Blasius Sukoto SCJ, temu akbar ini mengungkapkan kegembiraan dan syukur atas hadirnya orang muda. Keprihatinan diungkapkan dalam tema seperti orang muda belum siap menghadapi IT, bagaimana orang muda mengambil pilihan  hidup: prolife atauprochoice.

Tema KYD 2016 adalah Suka Cita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yang Majemuk. RP Sukoto memberikan alasan bahwa berbicara tentang kegembiraan, maka tema syukurnya adalah bersaksi tentang kegembiraan, suka cita Injil. “Kita tidak bisa berbicara tentang Injil, tanpa bicara tentang suka cita. Mengapa? Karena Injil sendiri adalah kabar gembira. Suka cita dibangun dari kesadaran pada hal-hal yang mau dicapai melalui hidup bermasyarakat yang lebih real, berani dan menjawab tantangan di tengah masyarakat yang majemuk. (sesawinet)

 

406 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *