Hati-hati, Di Jalan Lintas Sumatera Pungli Marak Terjadi

pungutan-sepihak-itu-pungli-dan-termasuk-dosa_1456743779RADIO SUARA WAJAR – Aksi pungutan liar (pungli) yang diduga dilakukan preman di jalan lintas Sumatera masih marak. Para sopir yang mengantar barang harus menyiapkan uang maksimal Rp 1 juta untuk jatah preman, dan “Pak Ogah” yang biasa mangkal di beberapa ruas jalur lintas lintas Sumatera.

Sejumlah sopir truk angkutan barang yang di temui Tribun akhir pekan lalu menjelaskan, aksi pungli sudah terjadi sejak mobil turun dari kapal di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan sampai akhir tujuan pengangkutan barang.

“Sekali jalan maksimal kita keluar Rp 1 juta biaya tak resmi, dan kebanyakan untuk preman di jalan-jalan. Turun dari kapal kita sudah disamperin anak-anak. Kalau gak dikasih kaca mobil dilempar. Mereka gak mau dikasih Rp 2.000 minimal Rp 5.000,” kata Ari salah satu sopir truk fuso yang biasa mengangkut barang bahan bangunan dan elektronik.

Seperti dilansir tribunnews.com, Senin (20/6), diungkapkan Ari, sejumlah titik-titik yang menjadi tempat pemalakan di ruas jalan lintas Sumatera. Di antaranya mulai pelabuhan Bakauheni, simpang dan jembatan Gayam, daerah Lampung Tengah, Simpang Meo, jembatan Mesuji, Lahat, Martapura, Jambi sampai Medan.

“Setiap daerah pasti ada preman jalan. Apalagi jalan rusak pasti mereka ada. Biasanya bukan satu dua orang tapi bisa sampai sepuluh, kadang bawa senjata tajam, kalau gak ngasih, kami disuruh balik, seperti di timbangan Martapura, sekali ngemel sampai Rp 200 ribu,” kata pria yang sudah 10 tahun menjadi sopir ini.

Sementara Yadi sopir lainnya mengaku punya cara khusus menghindari aksi preman di jalan yang dinilai rawan. Dia menggunakan jasa pengamanan lokal yang mudah ditemui di jalur yang mereka lintasi.

“Dari pada kita kena palak, lebih baik kita bayar jasa pengamanan. Paling kita kasih Rp 50 ribu. Biasanya ada yang mengawal untuk melintas di titik rawan,” ungkap Yadi saat ditemui di jalur Jalinpatim, Jumat (17/6).

Sopir angkutan barang yang sudah terbiasa mengantar barang ke Lampung ini mengungkapkan beberapa titik rawan di wilayah Kabupaten Lampung Timur.

“Kalau yang banyak rawan itu Lampung Timur, makanya kita biasa kalau lewat situ siang hari. Kami dari Jawa cuma antar ke Lampung. Jadi biaya tak resmi gak banyak paling Rp 300 sampai Rp 500 ribu,” ujar Yadi.

Hal yang sama diungkapkan Bambang, sopir truk asal Tangerang. Ia mengaku tak hanya jalur jalan lintas pantai timur yang rawan, tapi juga wilayah Mesuji. Menghindari pemalak, Bambang juga menggunakan jasa pengawalan tak resmi .

“Jasa pengamanan itu bukan pas kita lewat jalan rawan aja. Tapi kalau mobil rusak biasanya ada anak muda atau warga datang. Paling kita kasih Rp 150 ribu,” katanya.

Salah satu pengusaha ekspedisi di Lampung Halim membenarkan maraknya aksi pungli di jalinsum.

“Hampir semua wilayah ada pungli di jalan. Misalnya di Lampung timur kemudian di Mesuji minimal Rp 50 ribu. Sebenarnya kita tidak nyaman, tapi mau bagaimana,” kata pemilik CV Mutiara ini.

Halim menjelaskan, aksi pungli ini membuat tidak nyaman bagi pemilik ekpedisi karena mereka mengkhawatirkan keselamatan pengemudi dan barang yang diangkut.

“Sebenarnya ini membuat tidak nyaman khususnya sopir, dan barang-barang kita. Kalau mobil pecah kaca, barang dirampok kita sudah pernah ngalamin,” ujar Halim.

990 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *