Renungan Harian, Senin 13 Juni 2016

PW St. Antonius Padua, Senin Biasa XI

Bacaan: Matius 5:38-42

5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Renungan

Balas dendam menjadi hal yang biasa dan lumrah dalam kehidupan masyarakat. Bahkan itu sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pembalasan yang setimpal menjadi hukum yang berlaku secara umum. Jika belum ada pembalasan, masalah tidak pernah dianggap selesai, masih ada dendam yang harus dipenuhi demi rasa keadilan. Demikian terus menerus terjadi saling dendam dan merasa tidak pernah ada keadilan. Maka yang muncul adalah kebencian yang melahirkan cucu permusuhan dari generasi ke generasi.

Yesus datang membawa ajaran yang baru, kejahatan dibalas dengan kebaikan. Kebaikan itulah yang akan memutus rantai dendam. Kebaikan akan mengubah keadaan benci menjadi keadaan damai dan cinta. Kejahatan dibalas dengan kejahatan hanya akan melahirkan kejahatan berikutnya. Demikian terus menerus yang terjadi, sehingga damai tidak pernah terjadi.

Sikap balas dendam datang dengan otomatis. Tidak memerlukan usaha khusus untuk mempunyai sikap demikian, tidak diperlukan perjuangan yang berat untuk mendapatkan sikap ini. Namun untuk sampai pada sikap kebaikan, diperlukan perjuangan yang terus menerus. Tidak cukup sekali berbuat baik kemudian otomatis berikutnya berbuat baik. Perlu ada pemaksaan untuk berbuat baik, dan pemaksaan itulah yang nantinya akan menjadikan perbuatan baik sebagi sebuah habitus.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan merupakan hal yang wajar terjadi. Kejahatan dibalas dengan kejahatan merupakan bentuk hidup yang tak berpendidikan. Kebaikan dibalas dengan kejahatan atas bentuk hidup yang menakutkan. Bagi kita orang Kristiani, standar hidup kita adalah tetap berbuat kebaikan ketika yang kita terima sesuatu yang tidak baik atau bahkan jahat.

Sebagai orang Kristiani, kebaikan yang kita buat bukanlah sebagai perbuatan ‘membalas’, entah membalas yang jahat entah membalas yang baik. Namun kebaikan yang kita buat merupakan murni keluar dari dalam diri karena kita adalah murid-murid Kristus. Semoga sikap yang demikian senantiasa membawa kita untuk melahirkan kebaikan dan nilai-nilai luhur Kristiani.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas teladan ajaran-Mu yang menyadarkan kami bahwa kami dilahirkan amat baik adanya. Semoga kami juga mampu untuk melahirkan kebaikan-kebaikan dalam hidup kami sehari-hari. Sertai dan dampingilah kami didalam usaha untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani. Semoga dengan demikian, nama-Mu menjadi pujian hidup kami. Amin.

 

286 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *