Renungan Harian, Sabtu 4 Juni 2016

PW Hati Tersuci SP Maria

Bacaan: Mrk 12:38-44

12:38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, 12:39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, 12:40 yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” 12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Renungan

Bagi sebagian orang, apa yang dikatakan oleh Yesus pada hari menjadi pukulan yang berat. Bisa jadi mereka yang menjadi ‘bahan’ pembicaraan Yesus tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Yesus. Seorang ahli taurat pasti tidak akan terima dengan apa yang diidentifikasikan oleh Yesus kepada diri mereka. Seolah semuanya menjadi salah dalam diri mereka. Demikian juga dengan mereka yang memberi dana persembahan yang besar, pasti tidak akan mudah menerima apa yang dikatakan oleh Yesus, terlebih apabila bandingannya adalah dengan seorang janda.

Akhir-akhir ini ada begitu banyak berita yang memberi informasi berkaitan dengan pembunuhan dengan motif karena dendam dan sakit hati. Sebuah keluarga petani dihabisi oleh tiga pelaku karena merasa dipermainkan oleh keluarga itu. Seorang anak perempuan diperkosa dan dimutilasi karena sakit hati cintanya ditolak dan merasa dihina. Seorang balita diculik karena pelaku penculikan merasa sakit hati kepada orang tua balita itu. Betapa mudahnya dendam dan emosi mengendalikan seseorang sehingga martabat hidup seseorang menjadi sangat rendah dan dengan mudahnya dibunuh dan dimutilasi.

Demikian juga dengan apa yang terjadi pada Yesus dalam peristiwa salib. Dalam pengertian politik, penyaliban Yesus merupakan kulminasi dari dendam orang-orang atau kelompok-kelompok yang merasa terancam dengan kehadiran-Nya. Yesus menjadi ancaman nyata bagi sebagian orang yang mempunyai posisi jabatan dalam masyarakat. Pengajaran Yesus yang cenderung berbeda dengan orang-orang pada umumnya menjadi salah satu sebab mengapa Yesus sampai pada peristiwa penyaliban.

Lebih dari semuanya itu, apa yang disampaikan Yesus hari ini merupakan bahan refleksi bagi kita masing-masing. Identifikasi yang paling konkret untuk kita adalah pada tokoh mana kita berada? Ahli taurat? Orang yang memberi persembahan banyak? Atau dalam posisi jandi miskin? Masing-masing dari kita yang bisa mengidentifikasinya. Mengapa? Karena semuanya itu terletak di dalam kedalaman hati.

Dengan kata lain, motivasi terdalam lah yang menentukan bagaimana diri kita. Apakah yang dilakukan ahli taurat sepenuhnya salah? Apakah yang dilakukan orang yang memberi persembahan banyak juga salah? Rasanya tidak salah, mereka melakukan sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Namun persoalannya bukan hanya disitu, tetapi terletak di dalam hati. Janda miskin tidak berpikir tentang hukum dan ketentuan yang berlaku. Ia hanya berpikir dan melihat dengan hati. Ketulusan menjadi modal utama janda miskin itu sehingga mempunyai sikap yang sedemikian sederhana: memberi dengan tulus. Siapa yang berani mempercayakan diri sepenuhnya hanya pada penyelenggaraan ilahi? Mungkin dari kita ada yang sering mengatakan ‘saya percaya pada penyelenggaraan ilahi’, tetapi dibelakang itu masih ada jaminan bahwa sampai besok masih ada stok makanan. Sementara yang terjadi pada janda itu adalah ia benar-benar mempercayakan apa yang akan terjadi menit berikutnya hanya kepada Tuhan. Ia sudah tidak memiliki harta apapun, bahkan untuk makan selanjutnya, yang akan menjamin dirinya. Hanya Tuhanlah yang menjadi andalannya.

Menerima dan memberi dengan tulus menjadi point penting dari apa yang diajarkan Yesus hari ini. Jika seorang ahli taurat mampu memberi dengan tulus tanpa modus, nilainya akan sama luhurnya dengan janda miskin itu. Jika janda itu memberi dengan modus, nilainya sama dengan ahli taurat yang menelan rumah janda-janda.

Semoga ketulusan menjadi bagian dari hidup kita di dalam nama Yesus.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu sampai pada pengalaman seperti janda miskin itu. Semoga apa yang kami miliki mampu kami pergunakan sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Ajarilah kami supaya kami mampu melakukan apapun dengan setulus hati. Tuhan, kedalam kasih-Mu kami persembahkan diri kami seutuhnya.  Amin.

 

507 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *