Renungan Harian, Jumat 3 Juni 2016

HR Hati Kudus Yesus

Bacaan: Lukas 15:3-7

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Renungan

Perikopa hari ini berbicara tentang perumpamaan yang cukup popular. Perumpamaan yang ditampilkan Lukas pada hari ini merupakan perumpamaan yang menjadi fenomena kehidupan konkret. Seorang gembala akan begitu kehilangan jika salah satu dari dombanya hilang, meskipun ia masih mempunyai 99 ekor yang lain. Secara umum, seorang gembala pasti akan mencari yang hilang itu, dari pada menunggu yang 99 yang tidak hilang. Bandingannya menjadi jelas, 1 dibanding  99. Namun justru yang satu itulah yang menjadi perhatian pada saat itu. Harapan, kecemasan, dan sekaligus sumber kegembiraan tertumpu pada yang hanya satu itu.

Dalam konteks ini, satu merupakan bilangan yang kecil, namun tidak bisa begitu saja dengan mudah mengatakan ‘HANYA’ satu. Justru yang satu itulah yang menjadi fokus refleksi dari apa yang diajarkan Yesus. Apakah yang 99 menjadi tidak berarti? Ada kesan demikian, namun tidaklah begitu pemaknaan yang lebih jauh. Yang 99 ekor tetap menjadi begitu berharga dan tidak diharapkan untuk menghilang. Namun pada konteks ini, yang satu lah yang didahulukan karena itulah sumber ‘masalah’ bagi sang gembala. 99 ekor lainnya dalam kondisi aman, ditinggal untuk mencari yang satu tidak akan membuat masalah. Maka dari itu, yang satu itulah yang perlu menjadi perhatian.

Kehilangan merupakan situasi yang tidak mudah begitu saja diterima dengan sepenuh hati. Kehilangan sering kali membawa dampak pada keadaan seperti tanpa harapan, ada sesuatu yang berkurang. Namun apabila yang hilang itu kemudian ditemukan melalui proses pencarian, kebahagian yang lebih besar menanti di ujung jalan sana. Kebahagiaan itulah yang kemudian layak untuk dibagikan kepada orang lain, atau orang lain kemudian menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Maka orang lain diundang untuk turut merasakan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan semacam itulah yang dicari banyak orang. Sekecil apapun bentuk kehilangan kita, akan membawa pada kesedihan. Namun sekecil apapun penemuan yang kita dapat, membawa pada sukacita yang luar biasa. Dan sumber sukacita itu terletak di dalam hati. Kegembiraan yang hanya dipermukaan, akan dengan mudah luntur. Namun kegembiraan yang berasal dari hati, akan bertahan lama dan membawa dampak yang lebih dalam dan luas.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Hati Kudus Tuhan Yesus. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa dari hati-Nya, Yesus mengalirkan berbagai rahmat untuk Gereja. Dari lambungnya yang tertikam, keluarlah darah dan air yang menjadi lambang sakramen-sakramen dalam Gereja. ‘Hati’ lah yang menjadi sumber dan pusat dari apa yang diwartakan Yesus. Hati menjadi pusat karena dari sanalah mengalir kehidupan. Hati dalam pengertian ini adalah seluruh pusat hidup (heart), dengan itu manusia menjadi hidup. Apa yang menjadi sumber dan tujuan karya Yesus berkaitan erat dengan persoalan HATI.

Kasih yang Yesus ajarkan mempunyai relasi yang erat dengan hati. Kasih yang tulus dan total berasar dari hati, entah kasih kepada Tuhan Allah maupun kasih kepada sesama. Tanpa disertai dengan hati, kasih itu menjadi hanya sekedar senang. Jika ukurannya senang, maka tidak akan terjadi relasi yang lebih dalam.

Seorang gembala pasti akan lebih senang dengan yang 99 ekor. Namun karena ia mempunyai relasi hati yang mendalam dengan apa yang dimilikinya, seekor dombapun menjadi sumber kegembiraan yang mendalam baginya. Kehilangan satu ekor sama dengan kehilangan 100 ekor. Maka ia berusaha mencari yang seekor sampai ketemu dan dibawa pulang.

Kerahiman Tuhan tidak pernah memperhitungkan jumlah. Kerahiman Tuhan hanya mensyaratkan keterbukaan hati dan ketulusan. Kerahiman Tuhan senantiasa memperhitungkan dan memelihara segalanya, bahkan yang paling kecil sekalipun. Mungkin kita merasa sebagai yang satu ekor itu. Namun yakinlah, yang seekorpun dicari dari diselamatkan oleh Tuhan. Dari hati-Nya mengalir aliran kehidupan dan keselamatan.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas kasih hati kudus-Mu yang senantiasa mengalir dalam hidup kami. Ajarilah kami untuk mempunyai hati yang menyerupai hati-Mu sendiri. Ajarilah kami untuk mempunyai sikap kasih dan kerahiman yang tulus. Ajarilah kami supaya kami tidak mudah meninggalkan bagian yang terkecil. Semoga kami mempunyai kepekaan hati di dalam hidup dan perjuangan kami. Amin.

 

448 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *