Renungan Harian, Selasa 24 Mei 2016

Selasa Biasa VIII

Bacaan: 1 Petrus 1:10-16

1:10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. 1:11 Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. 1:12 Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. 1:13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 1:15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 1:16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Renungan

Dalam kehidupan alam, seekor induk burung tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya sendirian ketika anak-anak itu sedang dalam masa untuk diberi makan. Sang induk pasti akan berusaha mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Anak-anak burung yang belum bisa berbuat apa-apa tidak mungkin terbang sendiri dan mencari makan. Induknyalah yang akan berjuang habis-habisan untuk memelihara anak-anaknya. Bahkan, induk burung pelican akan merelakan dadanya dipatuki anak-anaknya ketika mereka lapar dan sang induk tidak mampu menemukan makanan, sampai berdarah-darah sang induk seperti tidak peduli akan hidupnya sendiri. Yang terpenting adalah anak-anaknya mendapat makanan. Ketika sudah waktunya, anak-anak burung itu akan belajar terbang sendiri. Ketika sudah waktunya terbang itulah berarti anak-anak itu sudah siap untuk mencari makan sendiri. Saat itulah sang induk sudah tidak mencarikan makan untuk mereka. Saat itulah anak-anak menjadi mandiri dan mencari makanan mereka sendiri. Saat itulah sang induk melepaskan anak-anaknya untuk mampu berjuang hidup sendiri.

Secuil gambaran itu bisa menjadi sepotong gambaran berkaitan dengan proses kita dalam beriman. Iman Kristiani tidak datang sekali jadi. Dari pihak kita, proses saat dan waktu menjadi bagian yang tidak mungkin dipisahkan dalam refleksi iman. Ada saatnya kita seperti anak burung yang harus diloloh, disuapi oleh induk kita karena kita belum bisa berbuat apa-apa. Dan pada saat itu memang yang bisa bisa kita lakukan hanya menerima dan menerima. Ada waktunya kita sungguh seperti anakan burung yang seperti pasif menunggu suapan dari sang induk. Jika sang induk tidak datang dan memberi makan, matilah kita. Sesuai konteksnya, ada jaman atau masa dimana Gereja kita adalah gereja anak burung yang menunggu sang induk untuk memberikan suplay.

Hal itu terjadi dalam jemaat Petrus. Surat pertama Petrus mengingatkan pada jemaat bawa iman yang sampai pada mereka adalah iman hasil dari pendengaran. Petrus mengingatkan bahwa perjalanan iman adalah perjalanan yang panjang. Sejarah waktu mempunyai peran yang besar. Di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang mempunyai peran kunci dimana perkabaran keselamatan itu saat ini sampai pada kita. Tanpa mereka, kita saat ini tidak mendapat perkabaran yang otentik dan asali.

St Petrus mengingatkan kepada jemaatnya, kepada kita semua saat ini, “sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Lebih jauh st Petrus mengajak kita semua untuk “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.” Sekarang bukan saatnya untuk seperti anak burung, sekarang sudah saatnya menjadi induk burung, yang mampu terbang dan menghidupi diri sendiri, bukan saatnya lagi untuk disuapi. Sudah waktunya kita berperan menjadi pewarta kabar keselamatan.

Bagi kita, tidak jarang kita lupa akan sejarah waktu dalam beriman. St. Paulus kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. Meskipun sudah sekian lama, firman yang kita dengar dan kita perdengarkan adalah firman Kristus Yesus, yang telah sengsara, wafat dan dimakamkan, yang pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Itulah yang sepanjang masa menjadi perkabaran iman Gereja, bukan perkabaran yang pada jaman ini saja, apalagi perkabaran dari diri kita sendiri.

Tidak jarang karena lupa akan sejarah iman, kita saat ini memberi cap negatif atas perkabaran iman pada masa lampau tertentu. Penilaian masa kini jika diterapkan pada masa tertentu pada waktu lampau bisa menjadi jalan pikir sesat yang menjadikan masa lalu sebagai kesalahan total. Ada saatnya menjadi anak burung, ada saatnya menjadi burung yang bisa terbang dan mencari makan.

Untuk menilai masa, St. Petrus memberi patokan yakni “hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Di jaman apapun kita hidup, berkaitan dengan hidup Kristiani, kita diajak untuk mempunyai patokan kekudusan dalam Kristus Yesus.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas perkabaran iman yang boleh kami terima dari pada pendahulu kami. Ajarilah kami untuk mampu meneruskan tradisi iman dalam kehidupan kami. Semoga kami tidak mudah terlepas dari tradisi iman yang kami warisi dari masa ke masa. Ajarilah kami untuk menjadi orang beriman yang terbuka akan iman masa lampau. Semoga kami juga tidak pernah berhenti untuk meneruskan perkabaran itu dari masa ke masa. Amin.

 

344 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *