Renungan Harian, Jumat 22 April 2016

Jumat Paskah IV

Injil: 14:1-6

Rumah Bapa

14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” 14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Renungan

Hidup damai dan tenang menjadi impian bagi banyak orang. Damai dan tenang dalam arti kebutuhan hidup baik fisik maupun psikis terpenuhi. Cita-cita umum yang dimpikan oleh banyak orang adalah masa kecil yang penuh suka, dewasa yang kaya raya, tua bahagia, mati masuk surga. Apakah ini mungkin? Mungkin saja sejauh kita mau menghidupi hidup ini dengan tidak gelisah, atau berani mempunyai sikap berani mengatakan ‘cukup’.

Kegelisahan sering kali menjadi penyebab utama dimana seseorang tidak mengalami damai dan sukacita. Kegelisahan  menjadi penyakit sebagian besar manusia di dalam menghadapi kehidupannya. Kegelisahan sangat dekat kaitannya dengan persoalan kekuatiran. Hati yang kuatir menyebabkan hidup seseorang selalu berada dalam situasi bahaya. Ketika mengendari mobil atau motor, jika hatinya dipenuhi kekuatiran, ia berada di ambang bahaya.

Gelisah dan kuatir merupakan perosalan yang bersumber dari hati. Mungkin saja hati itu dipengaruhi oleh factor-faktor dari luar diri. Namun yang jauh lebih menentukan adalah dari dalam diri. Sama-sama seseorang menghadapi bahaya bencana alam, tetapi outputnya berbeda karena ada orang yang begitu kuatir atas bahaya itu, dan ada juga orang yang bisa menghadapi situasi itu dengan tenang. Orang yang begitu kuatir dan gelisah dalam menghadapi anjing yang galak, hampir bisa dipastikan dia malah justru akan digigit oleh anjing itu. Tetapi orang yang tenang, bisa dengan mudah mengatasi bahaya itu.

Demikian juga dengan hidup, kekuatiran dan kegelisahan akan membawa kita pada situasi bahaya yang lebih besar. Memang hidup kita penuh tantangan, namun Yesus mengingatkan kita supaya “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”. Yesus melihat kegelisahan menjadi masalah besar yang dialami oleh setiap orang. Masalah kecil jika disikapi dengan kegelisahan yang berlebihan justru akan menjadi masalah yang besar. Sebaliknya, masalah besar jika kita hadapi dengan ketenangan akan membawa kita pada solusi yang baik sehingga masalah itu seperti menjadi masalah kecil.

Dalam konteks perikopa hari ini, lebih dalam Yesus mengajak kita untuk tidak gelisah akan janji keselamatan yang kita terima. Janji keselamatan, yakni kehidupan kekal sudah diberikan kepada kita. Hanya saja sering kali kegelisahan hati kita menyebabkan kita malah justru menjauh dari pemenuhan janji itu. Kegelisahan itu justru menjauhkan diri kita dari rahmat Allah yang menyelamatkan. Kita tidak perlu gelisah jika kita “percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”. Karena kegelisahan, banyak orang yang mengandalkan keselamatan hidupnya pada benda-benda atau makhluk-makhluk yang sebenarnya sama sekali tidak bisa memberi keselamatan . Karena kuatir akan hidupnya, tidak sedikit orang yang mengumpulkan harta benda bagi dirinya sendiri namun lupa pada sesamanya yang memerlukan bantuan dan pertolongan.

Rasul Thomas menjadi salah satu gambaran sikap kegelisahan. Karena gelisah kemudian ia bertanya “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Dalam kisah kebangkitan, ia adalah murid yang tidak percaya sebelum melihat Yesus yang bangkit dengan mencucukkan tangan dibekas luka-luka Yesus. Namun pada akhirnya ia sampai pada sikap “ya Tuhanku, dan Allah ku”. Dan persis sikap itulah yang seperti dikehendaki Yesus, percaya pada Allah dan percaya pada-Nya.

Janji keselamatan kekal dari Bapa diberikan Yesus kepada kita. Yesus yang menjadi jaminan janji keselamatan itu. Ia sendirilah yang menyediakan kehidupan kekal bagi kita. Hanya sekarang yang kita perlukan adalah sikap percaya yang serius. Kegelisahan menunjukkan bahwa kepercayaan kita belum serius. Terlebih apabila kita masih mengandalkan benda-benda tertentu yang menjadi pegangan hidup kita. Sebagai orang beriman, kita mempunyai satu pegangan hidup, dan itu satu-satunya, tidak ada yang lain, yakni Yesus Kristus yang adalah jalan dan hidup dan kebenaran.

Doa

Ya Tuhan, bantulah kami untuk meninggalkan pegangan-pegangan hidup kami yang fana. Ajarilah kami untuk percaya sutuhnya pada kasih dan penyertaan-Mu. Ajarilah kami untuk tidak gelisah atas keselamatan hidup kami. Semoga kami semakin mampu membangun kepercayaan yang lebih sungguh di dalam nama-Mu. Tuhan, mampukan kami untuk lepas dari kelakatan-kelatan hidup kami yang tidak membuat kami sampai kepada-Mu. Amin.

 

972 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *