Renungan Harian, Rabu 13 April 2016

Rabu Paskah III

Injil: Yohanes 6:35-40

6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. 6:36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

Renungan

Perikopa ini masih merupakan kelanjutan dari perikopa hari kemarin dan kemarinnya. Kalau kita lihat secara berurutan, dalam minggu paskah ke tiga ini Gereja menampilkan bacaan Injil yang fokusnya tentang Ekaristi. Injil Yohanes bab enam secara keseluruhan banyak berbicara tentang roti hidup yang menjadi makanan rohani jaminan keselamatan kekal.

Secara lebih rinci Yesus menjelaskan tentang hubungan-Nya dengan Bapa yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Kedatangan Yesus dengan perutusan-Nya bukanlah sekedar kehendak-Nya sendiri, namun Yesus datang karena diutus Bapa. Seluruh perutusan Bapa itulah yang hendak dijalankan oleh Yesus. Perutusan ini secara jelas dikatakan oleh Yesus yakni supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.

Bagi kita, kepercayaan yang tulus dan menyeluruh menjadi syarat bagaimana kita bisa mengamini Yesus yang datang dengan membawa misi keselamatan kekal dari Bapa. Keselamatan itu ditawarkan kepada kita dengan cuma-cuma. Yesus tidak menuntut apapun dari kita supaya kita mampu menerima rahmat itu. Yesuslah yang justru menjadi tebusan dan jaminan keselamatan itu. Apa yang perlu kita lakukan adalah membangun sikap percaya yang mendalam.

Kepercayaan itu kita kerjakan dengan menerima Roti Hidup dalam perayaan Ekaristi. Roti yang putih dan kecil itu menjadi daya kekuatan penebusan yang luar biasa. Kesetiaan untuk mengikuti ekaristi dan menerima Roti Hidup menjadi salah satu tanda yang paling kelihatan bagaimana kita berusaha memelihara iman itu tetap tumbuh dalam diri kita. Tindakan yang sederhana dan tidak begitu terlihat, namun itu bisa menjadi berkat yang luar biasa. Semoga kita tidak jemu menyambut Ekaristi. Semoga Allah yang hendak hadir dalam diri kita melalui Ekaristi suci, tidak dihalangi oleh aturan-aturan yang sebenarnya tidak perlu.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas santapan Ekaristi yang boleh kami nikamti setiap hari. Mampukan kami untuk menerimanya dengan sepenuh hati agar kami juga mampu membagikan berkatnya kepada orang yang ada di sekitar kami. Tuhan, ajarilah kami untuk bersyukur dan berbagi atas hidup kami. Amin.

 

489 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *