Renungan Harian, Sabtu 9 April 2016

Sabtu Paskah II

Injil: Yohanes 6:16-21

Yesus berjalan di atas air

6:16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu 6:17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, 6:18 sedang laut bergelora karena angin kencang. 6:19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. 6:20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” 6:21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Renungan

Kisah Yesus berjalan di atas air dalam Yohanes berbeda dengan injil lainnya. Di sini hanya dikisahkan singkat namun dengan penanda perpindahan waktu yang dalam maknanya. Pertama dikatakan bahwa hari sudah mulai malam. Ketika sudah malam, siapa yang bisa tahu dengan persis bagaimana situasi danau. Pandangan kedepan atau kearah manapun menjadi tidak jelas. Kemudian dikatakan lagi bahwa hari sudah gelap, Yesus belum juga datang. Yohanes dengan sangat indah menyatakan bagaimana malam dan kegelapan identik dengan absennya Yesus. Sejak awal mula Yohanes sudah mengatakan bahwa Firman itu adalah sumber terang. Ketika Terang itu datang, kegelapan menjadi hilang. Situasi malam dan gelap menjadikan para murid dalam kesusahan yang dahsyat, mereka diterpa laut yang bergelora dan angina kencang.

Kedua, perbuhan situasi dari badai yang dahsyat dan seketika itu ketika Yesus dalam perahu, mereka samapai ke pantai, situasi yang tenang. Yohanes memberikan setting perpindahan tempat dan situasi, dari tengah laut yang penuh badai menuju ke pantai yang tenang dan aman.

Ketiga, Yohanes memberikan gambaran kepada kita bagaimana situasi sebelum ada Yesus dan setelah Yesus hadir dan naik ke perahu para murid. Sebelum Yesus hadir, situasi gelap malam dialami para murid. Dalam situasi seperti itu, mereka tidak sanggup berlayar karena badai yang dahsyat. Hidup para murid diliputi dengan kekuatiran dan ketakutan, mereka tidak mempunyai pegangan keselamatan. Namun ketika Yesus hadir dan naik ke dalam perahu, situasi menjadi berubah.

Apakah hari menjadi siang? Yohanes tidak menjelaskan itu. Apakah badai menjadi reda? Yohanes juga tidak mengatakan itu. Yohanes hanya mengatakan bahwa ketika Yesus naik ke dalam perahu, seketika itu juga mereka sampai ke pantai. Yohanes hendak memberikan tanda bahwa kegelapan malam masih akan terus ada. Badai yang dahsyat tidak serta merta hilang sama sekali. Tetapi dalam kehadiran Yesus, kita akan mampu melewati kegelapan malam dan terjangan badai yang mengombang-ambingkan kehidupan kita. Yesus tidak menjanjikan kita terlepas dari dahsyatnya badai, tetapi Yesus memberi jaminan bahwa di dalam namanya kita akan mampu melewati gelapnya malam dan dahsyatnya gelombang badai.

Bagi kita, kegelapan malam dan terpaan gelombang kehidupan sering kali membuat hidup kita hanyut. Situasi dan keadaan sering kali membuat kita menjadi seperti tanpa harapan, hidup penuh kecemasan dan kekalutan. Ketika angina mengarah ke barat, kita ikut kebarat; ketika angina ke timur, kita ikut ke timur. Seolah-olah kita menjadi seperti tanpa pegangan yang kuat, kita tidak mempunyai penyangga yang menjadi andalan untuk tetap bertahan di jalur hidup kita.

Dalam situasi seberat apapun, Yesus senantiasa mau hadir dan masuk dalam bahtera kehidupan kita. Semakin besar gelombang kehidupan kita, semakin besar pula kuasa Yesus yang dianugerahkan bagi kita. Hanya saja yang sering kali terjadi adalah kita tidak mau menaikkan Yesus kedalam perahu kehidupan kita. Justru seperti para murid yang melihat Yesus seperti hantu dan ketakutan, kita juga sering berlaku demikian. Malahan bukan Yesus yang kita naikkan dalam perahu kita, tetapi justru kekuatan-kekuatan lain yang dapat membuat tenang sesaat namun tidak sampai pada pantai keselamatan yang kita tuju. Kekuatan-kekuatan lain yang kita bawa hanya sementara, bahkan yang sementara itu sering kali membuat hidup kita justru menjadi semakin buruk, bukan semakin baik.

Di dalam kehidupan ini, Yesus tidak serta merta memudahkan kita dengan menghilangkan kesusahan. Nyatanya hidup kita masih banyak susah dan deritanya. Berhadapan dengan itu sering kali kita seolah tidak bisa berbuat apa-apa, kita seperti terjebak dalam sempitnya perahu kita. Yesus tidak menghardik danau supaya tenang, tetapi Yesus naik keparahu dan mendampingi perjalanan kita. Kita akan tetap menghadapi tantangan hidup, tetapi di dalam nama Yesus, kita akan mampu untuk melewatinya dengan indah.

Doa

Ya Tuhan, kami bersyukur atas penyertaan-Mu yang tidak pernah lepas dari hidup kami. Jarilah kami untuk mampu melewati gelapnya malam dan dahsyatnya gelombang hidup kami. Ajarilah kami untuk mampu bertahan dengan penuh harapan akan penyertaan-Mu. Semoga kami semakin mampu memelihari sinar harapan dalam hidup kami, karena kami yakin akan kasih dan pendampingan-Mu. Amin.

 

1200 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *