Renungan Harian, Kamis 7 April 2016

Kamis Paskah II

Injil: Yohanes 3:31-36

3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. 3:32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. 3:33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. 3:34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. 3:35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. 3:36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Renungan

Rangkaian Yohanes bab 3 ini merupakan sebuah pengajaran yang panjang dan tidak mudah dimengerti. Setelah pengajaran dengan Nikodemus, perikopa ini berbicara tentang kesaksian Yohanes Pebaptis akan Yesus. Konteks pengajaran Yohanes ini adalah ketika berhadapan dengan orang-orang yang mengikutinya dan bertanya tentang tokoh lain yang isu-isunya sama besar dengan Yohanes. Dalam masyarakat umum pada waktu itu, setiap guru mempunyai pengikut. Yohanes mempunyai murid-murid, demikian juga dengan Yesus. Mereka adalah sama-sama tokoh besar bagi murid masing-masing. Maka ada sedikit pertentangan atau perdebatan, atau lebih tepatnya persaingan diantara para murid menjadi fenomena yang lumrah terjadi.

Namun justru disinilah Yohanes mempunyai kesempatan untuk mengajar murid-muridnya tentang kedatangan Mesias. Yohanes percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari Allah. Pada perikopa sebelumnya bahkan Yohanes mengungkapkan bahwa Yesus harus semakin besar, sementara dirinya semakin kecil. Yohanes paham betul tentang janji Mesianik yang mendapat kepenuhannya dalam Yesus. Yesus yang telah ia baptis adalah Anak Domba Allah, Ia yang berkuasa membawa manusia pada keselamatan.

Pengajaran Yohanes kepada murid-murid menjadi pengajaran bagi kita juga. Yohanes menjelaskan siapa itu Yesus dan bagaimana seharusnya murid-muridnya mengimani Mesias yang datang ke dunia. Yohanes percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah. Meskipun ia mempunyai banyak pengikut, namun Yohanes sadar betul bahwa tujuan dari para muridnya bukanlah dirinya. Para murid harus sampai pada Sang Anak Domba Allah. Ia hanya pembuka jalan untuk mengarahkan orang pada sang Mesias.

Jika kita lihat dalam perjalanan Yohanes, sebenarnya ia bisa saja mengaku diri sebagai utusan Allah. Ia mampu membuat orang-orang tertarik padanya karena semua pengajaran dan tindakannya. Ia bisa saja membuat dirinya menjadi orang besar dan menyingkirkan orang lain. Ia bisa saja menjadi yang lebih tenar dan mempunyai banyak pengikut dari pada Yesus. Tetapi hal itu tidak ia lakukan. Justru ia membesarkan nama Yesus dan memberi kesaksian yang ilahi bagi Yesus. Yohanes tidak haus kekuasaan, ia juga tidak mengagungkan diri dengan pujian. Ia tahu dan sadar betul siapa dirinyaa. Ia menjawab apa yang menjadi kegelisahan murid-muridnya. Ia memberi kesaksian yang benar tentang Yesus. Yohanes rela menenggelamkan diri karena kebenaran ilahi sudah datang, ia mengarahkan dirinya sendiri dan juga mengarhkan murid-muridnya pada Sang Mesias.

Bagi kita, kesaksian Yohanes ini semakin menambah iman dan kepercayaan kita akan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup. Ia yang datang menebus dan menyelamatkan kita dari kematian kekal, kita dibawa pada kehidupan kekal. Yesus yang datang dari sorga adalah Anak Tunggal Bapa yang menjadi manusia demi keselamatan manusia. Ia kembali ke sorga dengan membawa orang-orang yang percaya kepada-Nya. Janji keselamatan diberikan oleh Dia yang berasala dari dan adalah sumber keselamatan itu sendiri.

Selain itu, Yohanes menjadi gambaran kehidupan kita yang sering kali tidak kita lakukan. Yohanes berani membesarkan nama orang lain, ia memberi kesaksian yang baik tentang orang lain, ia ‘memasarkan’ orang lain supaya mempunyai ‘daya jual’ yang tinggi. Apa yang sering kita lakukan sepertinya justru kebalikan dari apa yang dilakukan Yohanes. Jika ada orang yang kita anggap saingan, justru yang paling sering kita lakukan adalah berusaha untuk ‘membunuhnya’, membuatnya tidak lagi menjadi tenar melebihi kita. Dalam percakapan harian misalnya, tidak jarang orang justru memberi kesaksian yang mematikan tentang orang lain.

Bersama Yohanes, mari kita memberi kesaksian yang menghidupkan tentang orang lain. Memberi kesaksian yang tidak baik, bahkan tidak sesuai dengan kenyataan, itu sama saja kita membunuh orang yang tidak bisa membela diri dihadapan kita. Semoga kita berani meneladan Yohanes karena kita adalah murid-murid Kristus yang sudah ditebus dari kematian kekal.

Doa

Ya Tuhan, semoga kami mampu mempromosikan kebaikan orang lain. Semoga kami juga mampu untuk semakin rendah hati dan mengakui keunggulan orang lain. Ajarilah kami untuk berani membesarkan orang lain, ajarilah kami untuk tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri. Semoga kami semakin mampu beriman dengan benar dan berbuat dengan kebaikan yang tulus.  Amin.

 

1504 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *