Pak Jum yang sederhana dan rendah hati

Matius Jumadi (57) di Biara SCJ di Jalan Cipto Mangunkusumo No. 14/16 Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu 02 April 2016.

Matius Jumadi (57) di Biara SCJ di Jalan Cipto Mangunkusumo No. 14/16 Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu 02 April 2016.

BANDAR LAMPUNG, POTRET SUARA WAJAR — Sederhana dan rendah hati, itulah yang dapat disimpulkan saat melihat kehidupan Matius Jumadi. Pria yang di kartu tanda penduduknya tertulis kelahiran Pringsewu 15 November 1959 ini, telah mengabdi selama dua puluh lima tahun sebagai driver pastor-pastor Sacerdotum a Sacro Corde Jesu (SCJ) di Lampung.

Pria yang kini menginjak usia kurang lebih 57 tahun ini, mengaku tidak habis memakan bangku Sekolah Dasar dan megalami perjuangan hidup yang berat sejak kecil.

“Serabutan ya di bangunan, kerja di toko juga pernah, terus ya merantau ke Tanjungkarang itu, tapi tahunnya aku lupa, yang jelas waktu pembangunan Wisma Albertus itu,” kata Matius Jumadi

Ketrampilan mengemudi mobil diakui Pak Jum – sapaan akrab Matius Jumadi – diperoleh saat masih kerja di Wisma Albertus Bandar Lampung. Ketika bekerja di wisma yang beralamat Jalan Way Lubuk 2 Pahoman, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung itu, Pak Jum berinisiatif belajar di bengkel mobil milik Keuskupan Tanjungkarang. Di Wisma Albertus inilah Pak Jum menemukan “tulang rusuknya”.

“Itu dulu masih ada bengkelnya keuskupan, yang dulu berada di Jalan Arjuna, nah itu dulu bengkel keuskupan (Tanjungkarang). Dulu aku dari Alberus jalan kaki kesana untuk belajar mobil di bengkel itu,” kenang Pak Jum.

Pak Jum merupakan anak pertama dari sepuluh bersaudara. Dari sembilan saudaranya hanya dia yang memeluk Katolik. Bagi dirinya semua agama mengajarkan kebaikan. Dia tak mempermasalahkan adik-adiknya memeluk agama lain. Tapi yang terpenting, mereka menjalankan apa yang diimani secara benar.

“Itu kan kepercayaan sendiri-sendiri, kalau saya sih situ (adik-adiknya) mau Islam, katolik sih no problem, yang penting arahnya benar,” pesannya pada adik-adiknya.

Sifat jujur, tekun, rendah hati dan memiliki kelebihan dapat memperbaiki mobil yang rusak, mungkin itu yang membuat para Superior SCJ wilayah Lampung dari masa ke masa mempertahankan Pak Jum sampai sekarang.

Kalau kerja ikut romo itu yang diutamakan adalah kejujuran. Apalagi kalau kayak gini kan (Biara SCJ) ditinggal romo-romo sepi. Nah kalau saya kan istilahnya yang punya rumah, kan tanggung jawab. Enggak berani itu harus ninggal-ninggal begtu saja kan,” ungkap Pak Jum sembari padangannya matanya menyapu sekeliling rumah.

Mengagumkan, ternyata satu dari tiga anak pasangan Matius Jumadi dan Kristina Sudariyanti (52) terpanggil menjadi biarawati. Anak pertamanya bernama Maria Widianti, saat ini menjadi biarawati di Kongregasi Suster Fransiskanes dari Santo Georgius Martir (FSGM). Menurut Pak Jum, benih-benih panggilan pada putrinya itu sudah terlihat saat masih kecil.

Suster maupun Romo itu harus ada generasi penerus. Nanti kalau susternya yang tua-tua habis yang meneruskan itu siapa? Nah itu kan gak ada. Maka yang keluarga katolik yang mempunyai lebih dari tiga anak atau berapala itu harus ada inisiatif untuk mendorong anaknya supaya masuk biara. Tapi dengan tidak dipaksa, nah itu,” ungkapnya semangat.

Seketika, angin bertiup lambat pagi itu, Sabtu 02 April 2016 saat Radio Suara Wajar mendegar isak tangis haru Pak Jum. Entah bagaimana alurnya, perbincangan kami mengarah pada mendiang RP Dani Hendro Aswardhani SCJ. Bagi Pak Jum, Eyang Hendro – pangilan akrab RP Dani Hendro Aswardhani SCJ – merupakan sosok imam baik.

Banyak marah, banyak lucu itu Romo Hendro itu. Itu orangnya gampang nesu, tapi pengetian, nah itu. Dia gampang marah itu tapi pengetian. Kalau marah sudah ya sudah. Itu banyak kelingan sing lucu-lucu nek karo Romo kui,” kenang Pak Jum sambil terisak.

Pak Jum beserta istrinya sekarang menunggu Biara SCJ di Jalan Cipto Mangunkusumo No. 14/16 Teluk Betung, Bandar Lampung. Pada Juni 2016, putra pertama pasangan Tukimin dan Tukijah ini, telah memasuki masa pensiun, tapi ada terselip harapan besar dirinya pada Superior SCJ Lampung.

“Sebetulnya sih masih ada tuntutan ya, karna anak saya yang nomor tiga itu belum selesai sekolah. Dia tuh masih mau mengharapkan kuliah. Kuliah itu perlu biaya. Kadang-kadang saya berpikir kalau mau pulang saya belum siap, kan anak saya perlu biaya? Pie? Kan repot juga,” ungkap Pak Jum sambil matanya terlihat berkaca-kaca.***

Reporter : Robert

954 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *