Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah Asian Youth Day 2017

Para peserta Tanjungkarang Youth Day pada Juli 2015 lalu.

Para peserta Tanjungkarang Youth Day pada Juli 2015 lalu.

SEMARANG, RADIO SUARA WAJAR – Yogyakarta dipastikan menjadi tuan rumah Asian Youth Day yang digelar pada 30 Juli hingga 6 Agustus 2017. Kepastian pertemuan kaum muda Katolik se-Asia itu disampaikan oleh Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Pius Riana Prapdi, saat jumpa pers di wisma uskup komplek Katedral Semarang, Selasa 15 Maret 2016.

“Acara itu akan dihadiri 1500 orang dari perwakilan 29 negara Asia,” kata Pius Riana Prapdi.

Selain mempertemukan kaum muda lintas negara di Asia, acara itu juga diikuti oleh 1000 kaum muda Katolik Indonesia dari berbagai pulau dan keuskupan. “Kami berjumpa suka cita memperdalam imam,” kata Pius Riana Prapdi menambahkan.

Asian Youth Day 2017 di Yogyakarta membawa tema suka cita dalam kebhinekaaan. Acara yang diikuti para kaum muda pegiat gereja katolik itu akan memamerkan hidup dalam kebhinekaan, agama, budaya dan sosial.

Acara itu sebagai ajang perjumpaan kaum muda Katolik untuk meneguhkan dan mengimplementasikan kebhinekaan tantangan hidup yang beragam. Menurut Pius, pertemuan itu secara khusus akan belajar memahami mempraktekkan hidup dalam kebhinekaan, agama budaya dan sosial di Indonesia.

Kaum muda Katolik lintas negara di Asia itu akan berefleksi dan menemukan nilai iman serta budaya. Kegiatan yang dilakukan juga menjalin dialog berkomunikasi dengan keanekaragaman. “Dengan pertukaran itu orang muda Katolik mampu memaknai hidup dan perubahan semakin cepat,” katanya.

Asian Youth Day 2017 yang digelar setiap tiga tahunnya ini merupakan yang ke 7. Acara sebelumnya dilakukan di Korea Selatan pada tahun 2014 lalu. Setelah diselenggarakan di Filipina, Hong Kong, India, Taiwan dan Thailand.

Dikutip dari Tempo, Ketua Panitia pengarah Asian Youth Day 2017, Romo Yohanes Dwi Harsanto, agenda pertemuan kaum muda Katolik tingkat Asia itu sengaja membedah moralitas hidup keberagamaan sebagai isu utama.

“Dalam hal ini peserta mempelajari Pancasila sebagai rule of live yang dipamerkan di forum itu,” kata Yohanes Dwi Harsanto.

Menurut dia, perbedaan keyakinan dalam satu keluarga di Indonesia akan menjadi studi kaum muda Katolik lintas negara Asia. Ia mejelaskan, perbedaan yang ada itu justru satu kekuatan untuk membangun bangsa. “Karena kaum muda menjadi penentu bagaimana negara, gereja dan masyarakat maju,” katanya.***

Reporter : Robert

962 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *