Andreas Henrisoesanta (1935-2016): Uskup Pribumi Pertama Lampung

Mhr. Andreas Henrisoesanta, SCJ

Mgr. Dr. Andreas Henrisoesanta, SCJ

BANDAR LAMPUNG, RADIO SUARA WAJAR — KESAN sejuk dan bijaksana mulai terasa ketika pertama kali berbincang-bincang dengan rohaniwan murah senyum ini. Pada masa-masa awal setelah menjalani hidup membiara, di kalangan umat Katolik Lampung ia lebih akrab disapa dengan sebutan Romo Henri.

Setelah dilantik sebagai Uskup Tanjungkarang oleh Kardinal Mgr. Yustinus Darmojuwono umat Katolik menyebutnya dengan panggilan akrab Uskup Henri, Bapa Uskup atau Monsinyur (Monsignuer).

Henrisoesanta kecil diboyong ayahnya, Jacobus Samadi Kasandikrama, dari Jawa ke Metro tahun 1939. Di masa penjajahan Belanda saat itu kehidupan di Lampung tidak lebih baik ketimbang di Jawa.

Keadaan makin sulit ketika Jepang masuk. Orang-orang berkebangsaan Belanda ditawan, termasuk para pastor dan suster. Rumah sakit milik misi dikuasai Jepang dan sekolah-sekolah ditutup.

Kaum lelaki banyak yang diangkut menjadi tenaga romusa. Banyak orang Katolik dianggap sebagai penganut agama kolonial dan mereka diperlakukan sebagai orang asing di negeri sendiri. Selama penjajahan Jepang, Gereja Katolik kehilangan 9 imam, 2 bruder, 31 suster, dan seorang frater.

Namun, masa-masa sulit pendudukan Jepang tidak mengubah tekad Henrisoesanta untuk tetap bersekolah. Pendidikan menengah diselesaikannya melalui jalan berliku karena seringnya berpindah-pindah kota.

Sejak kecil, Henrisoesanta bercita-cita menjadi pastor yang arti harfiahnya adalah gembala. Ya, gembala yang menunjukkan jalan kebenaran bagi umatnya. Cita-cita ini mulai menemukan bentuknya saat ia lulus SMP.

Ia memulainya dengan langkah pasti, yakni dengan meneruskan sekolah ke Pendidikan Guru Atas (PGA) dan Seminari Menengah, Palembang. Jenjang pendidikan menengah diselesaikannya dalam waktu empat tahun sesuai dengan kurikulum pendidikan saat itu. Begitu lulus, Henrisoesanta langsung bergabung dengan novisiat SCJ di Bandar Agung, Lahat, dan kaul pertama berlangsung tanggal 8 September 1956.

Tidak lama setelah masuk novisiat Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ), Henrisoesanta tidak membuang-buang waktu dan segera meneruskan Sekolah Filsafat di Lahat dan Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan filsafat yang bakal menjadi basis pastoral, pada 1962 Henrisoesanta melanjutkan studi di Universitas Gregoriana, Roma, Italia. Di sentral pelayanan umat Katolik sedunia itu, Henrisoesanta meraih gelar doktor hukum gereja dengan disertasinya berjudul Probatione per Documente in Prisessu Camonico (10 Juli 1966).

Tiba di Tanah Air, selama sepuluh tahun Henrisoesanta dipercaya sebagai pastor paroki di Telukbetung, Kedaton, Metro, dan Kotabumi. Baru kemudian pada 1976, ia ditahbiskan sebagai uskup Tanjungkarang yang secara hierarkis melayani umat Katolik se-Lampung, menggantikan Mgr. A. Hermelink Gentiaras. Dengan demikian, Henrisoesanta adalah uskup pribumi pertama di Lampung.

Dalam catatan sejarah, Gereja Lampung berdiri pada 16 Desember 1928 saat Pastor H.J.D. Van Oort, S.C.J. mendirikan gedung gereja pertama di Tanjungkarang. Tetapi, gereja dalam pengertian umat diperkirakan sudah ada sejak 1926.

Selama 32 tahun menjadi uskup Lampung, tidak banyak yang tahu kalau Henrisoesanta adalah penulis produktif. Memang, tulisannya itu dipublikasikan untuk media tertentu yang masih berada dalam lingkungan Keuskupan Tanjungkarang. Pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi ketika menikmati tulisan rohaniwan yang menguasai 10 bahasa dunia itu; renyah, segar, dan komunikatif.

Kepada umat Katolik, dalam setiap kesempatan Bapa Uskup selalu mengingatkan agar tetap rendah hati dan berkarya melayani sesama manusia dengan segenap kasih. Ia pun selalu mewanti-wanti umat Katolik agar tidak mengklaim diri sebagai orang yang paling benar di hadapan Allah.

Sementara itu, kepada kaum muda yang bekerja di berbagai bidang kehidupan, ia senantiasa berpesan agar menggeluti pekerjaan dengan penuh kejujuran dan ketekunan. “Jangan terlalu cepat pindah walau mungkin tidak enak. Saya sering mengatakan tantangan jangan dihindari, tetapi dihadapi sekaligus diatasi. Kalau selalu menghindari tantangan apakah mau terus-menerus bertransmigrasi?” ujarnya.

Pada suatu kesempatan, Bapa Uskup pernah ditanya umatnya: “Siapakah orang Katolik itu, Monsinyur?” Hal itu dilontarkan setelah si penanya membaca sepotong ayat dalam Perjanjian Baru.

Jawaban yang disampaikan doktor hukum gereja itu sungguh di luar dugaan: “Kitab Suci perlu dimengerti dengan baik. Banyak yang harus diperhatikan, misalnya tujuan dan waktu penulisannya, sastra, budaya, dan sebagainya. Firman Allah harus dipahami secara utuh. Jangan terpotong-potong. Biasanya orang disebut Katolik jika mereka dibaptis. Tetapi perlu diingat, oleh Sakramen Baptis orang menjadi manusia baru. Kata ‘menjadi’ ini berarti masih dalam proses. Hidup Katolik menuntut penumbuhan cinta kasih yang terus-menerus.

Ini terjadi lewat pelayanan yang jujur kepada semua orang, melintasi batas-batas gereja sebagai institusi. Orang berlabel Katolik, Yahudi, Islam, Buddha, Hindu, Protestan, dan seterusnya yang berjuang bersama serta mendedikasikan diri untuk membangun dunia yang lebih baik dan adil, inilah pelayanan Kristiani yang autentik demi keselamatan bersama. Kiranya boleh mereka ini disebut orang Katolik, walau tak berlabelkan nama itu.” Demikian penjelasan Bapa Uskup mengenai makna orang Katolik.

Henrisoesanta memiliki kegemaran agak unik untuk menghabiskan waktu luangnya. Biasanya, ia mengajak sopir berkeliling ke daerah tertentu sambil mengamati perubahan situasi. Suatu ketika ia baru benar-benar menyadari keadaan sekarang jauh berbeda dari masal lalu dengan melihat lingkungan permukiman.

Setiap keluarga kini secara sadar membangun tembok pembatas dengan tetangga kiri-kanan. Pagar pemisah ini menghambat komunikasi sosial. Beberapa keluarga bahkan mengamankan rumahnya dengan memasang gembok besi di pintu masuk halaman. Ia melihat komunikasi yang tadinya berlangsung alami dan manusiawi hendak digantikan dengan “alat-alat” baru, tetapi kiranya hal ini belum tentu komunikatif. “Perlu digelorakan lagi semangat sadar lingkungan untuk membentuk seseorang menjadi manusia yang hidup lebih terbuka dan manusiawi,” ucap Henri. n

BIODATA

Nama: Andreas Henrisoesanta, S.C.J.

Lahir: Ngijorejo, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, 7 Juni 1935

Ayah: Jacobus Samadi Kasandikrama

Ibu: Jacoba Wasijem Kasandikrama

 

Pendidikan:

– Sekolah Rakyat (SR) 1941–1947 di Metro lampung Tengah

– Sekolah Menengah Katolik (SMK) Pringsewu (1948–1919)

– SMK Talang Jawa, Palembang (1949–1950)

– SMP St. Joseph, Lahat, Sumatera Selatan (1950–1951)

– Sekolah Guru Atas (SGA) dan Seminari Menengah Palembang (1951–1955)

– Pendidikan Filsafat di Lahat (1956–1957) dan di Yogyakarta, (1957–1958)

– Pendidikan Teologi dan Hukum Gereja

– Pendidikan Teologi dengan gelar Licentiate Theologi di Universitas Gregoriana, Roma (Juni 1962)

– Tahbisan Uskup: 11 Februari 1976 di halaman SMA Xaverius, Pahoman, Bandar Lampung oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono

Tugas/Pelayanan di Keuskupan Tanjungkarang:

Pastor Paroki di Telukbetung (1966–1971), Kedaton (1971–1974, 1976), Metro (1974–1975), Kotabumi (1975–1976), Tanjungkarang (1976–1977)

Pengalaman Bekerja:

  1. Guru Agama SD Sejahtera, Sidodadi, Kedaton
  2. Guru SMP Xaverius Teluk Betung dan Tanjungkarang
  3. Pimpinan SMA Xaverius Tanjungkarang
  4. Dosen Agama Katolik Universitas Lampung
  5. Pimpinan Yayasan Xaverius
  6. Pimpinan Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) Keuskupan Tanjungkarang

Tugas di Luar Keuskupan Tanjungkarang

  1. Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (1976–1985)
  2. Ketua Dana Nasional Pendidikan Mitra Pengembangan Pendidikan sejak 1980
  3. Ketua Komisi Komunikasi Sosial (1985–1988)
  4. Bendahara Konferensi Wali Gereja Indonesia (1988–1994)
  5. Anggota Dewan Moneter (1994–1997)

Sumber : 100 Tokoh Terkemuka Lampung

Editor  : Tim Redaksi Radio Suara Wajar

890 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *