Renungan Harian, Minggu 6 Maret 2016

Minggu Prapaskah IV

Injil: Lukas 15:1-3;11-32

15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Renungan

Kisah anak yang hilang senantiasa mengingatkan kita bahwa dosa dan kesalahan kita jauh lebih kecil dari pada kasih dan kebaikan Bapa. Dengan kata lain, kasil Allah Bapa jauh lebih besar mengatasi kesalahan-kesalahan kita. Pengampunan Bapa mengalahkan kedurhakaan kita. Anak yang sudah begitu dahsyat ‘membunuh’ ayahnya, diterima kembali tanpa syarat oleh sang ayah.

Dalam kisah ini, si bungsu meminta harta warisan dari ayahnya. Sebenar bukankah yang lebih berhak untuk meminta warisan adalah si sulung? Dalam budaya Yahudi, anak pertama mempunyai keistimewaan, lebih-lebih soal warisan, entah budaya maupun secara ekonomis. Namun dalam kisah ini, justru anak ke dua yang meminta warisan. Kesalahan yang fatal dilakukan berulang kali oleh si bungsu. Ia menganggap ayahnya mati, kemudian mengambil hak anak sulung dalam budaya Yahudi. Tidak hanya behenti di situ. Ia menjual harta warisan selama ayahnya masih hidup, bahkan ia pergi dari rumah ayahnya ke negeri asing dan menghabiskan harta itu tanpa ada manfaat yang jelas.

Dosa dan kesalahan si bungsu menjadikan dirinya terbuang dalam kehinaan, bahkan disamakan dengan babi-babi. Sepertinya lebih rendah dari pada babi, karena hendak makan ampas untuk makanan babi pun tidak ada yang memberi padanya. Seperti kita tahu, babi menjadi hewan najis yang menggambarkan kekotoran. Dalam perumpamaan orang Gerasa, babi menjadi tempat yang layak untuk setan-setan yang merasuki orang gerasa itu.

Dari bacaan hari ini, kita bisa mengerti bahwa dosa-dosa kita menjatuhkan martabat kita dari status sebagai anak menjadi budak yang bahkan makan makanan yang najispun tidak bisa. Situasi kedosaan kita tidak memampukan kita mendapat rahmat istimewa sebagai anak. Situasi kedosaan kita menjadikan kita tidak mampu melihat kebaikan dan kasih Allah. Dosa menjadikan kita buta terhadap situasi yang ada di sekitar, tidak lagi melihat sesama yang bisa membantu, bahkan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar pun kita tidak mampu. Si bungsu sampai pada situasi konkret kemanusiaan, yakni situasi kelaparan yang akut..

Rahmat dan kasih Allah tidak pernah meninggalkan kita. Situasi keberdosaan kitalah yang menjauhkan diri kita dari kasih dan rahmat Allah. Ketika si bungus kembali kepada ayahnya, sang ayah tidan menuntut apapun untuk menerima kembali anaknya. Ia tidak mensyaratkan apapun untuk mengangkat kembali martabat keputraan si bungsu.

Bagi kita, pertobatan yang tulus mengembalikan keluhuran martabat kita sebagai anak-anak Allah. Situasi dosa menjadikan kita kehilangan hak-hak atau rahmat yang selayaknya diterima sebagai anak. Dengan pertobatan, kita dipulihkan pada status keputraan.

Namun patut kita ingat, kita dipulihkan bukan pertama-tama karena usaha dan jasa kita. Kita dipulihkan karena Bapa yang murah hati, Bapa yang maha pengampun. Kerahiman Allah jauh lebih besar dari dosa dan kesalahan kita. Pertobatan kita tidak banyak membantu untuk melunasi hutang-hutang kita. Kasih dan kerahiman Bapa lah yang memampukan kita untuk memperoleh kembali status sebagai putera Allah. Namun demikian, sikap pertobatan yang diwujudkan dengan aksi nyata menjadi tanda yang jelas bahwa kita menyesali dosa-dosa dan kesalahan.

Doa

Ya Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa ini. Mampukan kami untuk senantiasa bersykur atas kasih dan kesetiaan-Mu dalam hidup kami. Bantulah kami untuk berani membangun sikap tobat yang tulus dan murni. Sertai perjalan kami dalam membangun sikap pertobatan, ya Tuhan. Semoga kami mampu untuk membagikan kebaikan-kebaikan yang kami terima dari-Mu sendiri. Sebab Engkaulah penyelamat kami, sepanjang masa. Amin.

 

521 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *