Sr. Theresia, HK

Sr. Theresia, HK di kebun kesayangan miliknya, di Susteran Induk Hati Kudus, Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu 20 Februari 2016.

Sr. Theresia, HK di kebun kesayangan miliknya, di Susteran Induk Hati Kudus, Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu 20 Februari 2016. Foto : Robert.

Masih terngiang jelas di benak Suster (Sr) Theresia, HK, 74 tahun, keteladanan dari seorang biarawanti bernama Sr. Clementina, HK hingga menumbuhkan benih-benih panggilan terhadap dirinya.

BANDAR LAMPUNG, POTRET SUARA WAJAR — Harum wewangian bunga dari taman kecil di tengah-tengah biara Susteran Hati Kudus (HK) Induk di Jalan Hasanuddin No. 27 Teluk Betung Bandar Lampung begitu menyengat. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa lambat wewangian bunga itu, sehingga tercium hampir di seluruh sudut ruangan yang ada disana. Walaupun mungil, tapi taman itu menjadi magnet tersendiri bagi siapaun yang masuk sampai di dalam biara. Siapakah yang merawat taman itu? Pertanyaan di benak Suara Wajar tak serta merta terjawab.

Pagi itu, Sabtu 20 Februari 2016 Sr. Theresia, HK terlihat canggung saat ditemui. Untunglah Sr. Magda, HK yang dari awal bersama, berhasil sedikit mencairkan suasana. Suara Wajar dibawa pada sebuah ruangan tamu kecil yang terletak di bagian belakang biara. Di ruangan inilah Sr. Theresia yang dikenal “pendiam” ini menjawab satu per satu pertanyan demi pertanyaan yang dilontarkan padanya. Mungkin karena bangunan ini diisi oleh para biarawati, sehingga auranya terasa asri, walau di luar sana matahari begitu bengis bersinar.

Anak dari pasangan Nitireja dan Surtinah mulai “jatuh cinta” pada ajaran Kristus saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dia dan kedua orang tuanya merupakan pemeluk muslim. Walaupun ditentang oleh keluarganya, tak membuat dorongan dari hatinya untuk memeluk Katolik pudar. Tanpa sepengetahuan Ibu dan keluarganya dia memeluk Katolik.

Ayahnya yang seorang tentara het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda meninggal saat dia masuk kecil. Sehingga ibunya meminta bantuan kakak iparanya di Palembang, Sumatera Selatan untuk membesarkan anak tunggalnya itu. Di kota inilah, benih-benih panggilan pada dirinya mulai tumbuh. Dia tak bisa ia pungkiri, pertemuannya dengan Sr. Clementina membuatnya bersikeras untuk “menjadi sepertinya”. Sr. Clementina merupakan kepala sekolah SMP Xaverius Palembang, tempat dirinya menempa pendidikan.

Awalnya keluarga terutama ibunya menentang keras akan langkah yang diambil anaknya yang bercita-cita menjadi seorang biarawati. Namun seiring berjalannya waktu, Sr. Theresia dapat diterima baik oleh ibu dan keluarganya, sampai dengan sekarang.

Sebagian besar pelayanan Sr. Theresia setelah Profesi pada tahun 1975, dihabiskan pada bangku sekolah sebagai pengajar. Aljabar, Pendidikan Moral Pancasila (PMP), dan Agama menjadi keahlian Sr. Theresia dalam mengajar. Selain mengajar, diapun turut ambil bagian dalam “kerja sosial” di daerah-daerah terpencil di Lampung melalui Yayasan Pembina Sosial Katolik (YPSK) Keuskupan Tanjungkarang. Tak disangka, Sr. Theresia juga pernah menduduki jabatan penting di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada bagian sosial selama tujuh tahun lamanya.

Sr. Theresia, HK. Foto : Robert

Sr. Theresia, HK. Foto : Robert

Lantunan lagu anak-anak yang terdengar keras sampai ruangan tempat kami berbincang sedikit menggangu. Tapi walau terdengar gaduh, Sr. Theresia tak membuat terus cerita tentang karya dan tugasnya sebelum pensiun terhenti. Tanpa disadarinya, ada beberapa peristiwa yang diceritakannya secara berulang-upang dalam hitungan menit. Ini sesuatu yang lumrah untuk wanita seusianya.

Dari berbagai karya dan tugas yang pernah dilakukannya, pelayanan di Seputih Banyak, Lampung Tengah menjadi tempat favorit. Menurutnya di tempat ini banyak sekali tantangannya. Bagaimana tidak, saat bertugas di tempat ini dia pernah ditolak oleh pemerintah setempat akibat pelayanan sosial yang dilakukannya. Karena memberikan sejumlah bantuan makanan, pemerintah kabupaten setempat, menganggap sebagai ajang “mengkatolikan” masyarakat. Tidak hanya itu, saat mengajar di salah satu sekolah negri disana, Sr. Theresia sampai tidak diperkenankan memakai jubahnya. “Saya walaupun di bawah kain baju yang preman ini, saya tetap seorang suster,” kenang Sr Theresia.

Mendapat cacian karena jubah yang dikenakannya bukan “hal asing” dalam tugas pelayanannya sebagai seorang biarawati. Dia hanya tersenyum sembari mendoakan orang yang mencacinya agar segera menjadi orang baik sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

Sr. Tehresia dikenal tidak banyak bicara, dengan keteladanan yang diberikan, menurutnya menjadi cara ampuh untuk mengajarkan bagaimana hidup yang benar sebagai seorang biarawati, terutama bagi para suster muda.***

Reporter : Robert

1104 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *