HY Suwarno Sabda : Pandanglah orang lain seperti halnya diri sendiri

Hiasintus Yohanes Suwarno Sabda merupakan salah satu tokoh umat Katolik Stasi Panjang, Paroki Ratu Damai Teluk Betung, Keuskupan Tanjungkarang.

Hiasintus Yohanes Suwarno Sabda (71), tokoh umat Katolik Stasi Panjang, Paroki Ratu Damai Teluk Betung, Keuskupan Tanjungkarang.

BANDAR LAMPUNG, POTRET SUARA WAJAR – Bising suara knalpot dari berbagai jenis kendaraan bermotor roda dua dan empat bertalu-talu memecah suasana pagi. Sadar atau tidak, lengkingan suara pedagang sayur keliling saat menawarkan barang dagangannya termasuk penyumbang warna pagi pada komplek rumah di perkotaan. Suara-suara dengan kontribusinya masing-masing menghampiri pendengaran kita bergantian, tanda dimulainya hari, Sabtu 06 Februari 2016.

Suara Wajar melenggang santai saat memasuki kediaman Hiasintus Yohanes Suwarno Sabda (71) di Jalan Selat Malaka 5 No. 11 Kampung Teluk Jaya, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Lokasi rumahnya tidak jauh dari seorang terduga teroris yang beberapa hari lalu digerebek Densus 88 Anti Teror.

Saat tiba disana, Warno begitu panggilan akrabnya, masih sibuk membersihkan rumahnya. Warno hanya tinggal berdua dengan Theresia Marsinah (65), istrinya, yang hampir genap 40 tahun menemani hidupnya. Ketiga anaknya telah “mentas” hidup berumah tangga dan tinggal di luar kota.

Karna lantai rumah masih basah dan perabotan di dalamnya terlihat berantakan, Warno pun menemui Suara Wajar di teras depan. Teras ini membujur lurus menghadap gang masuk kediamannya. Akses satu-satunya mencapai rumah Warno ialah gang selebar satu meter yang berjarak sekira sepuluh meret dari jalan utama.

Hiasintus Yohanes Suwarno Sabda merupakan salah satu tokoh umat Stasi Panjang, Paroki Ratu Damai Teluk Betung, Keuskupan Tanjungkarang. Siapa umat stasi setempat yang tidak mengenalnya?

Pria yang lahir bersamaan dengan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 memutuskan memilih jalan berbeda dari orang tua dan sepuluh saudaranya. Saat mengambil keputusan yang berani untuk mengikuti Yesus, Warno masih duduk di bangku SMP. Hatinya semakin mantap untuk mengikuti jalan Sang Mesias, saat melihat umat katolik di gereja di kampungnya, Cirebon, Jawa Barat, sedang sembah sujud di hadapan Sakreman Maha Kudus. Warno mengistilahkan seperti ada daya magnet hebat saat melihat itu, yang seolah menyedotnya dan semakin memantapkan hatinya mengikuti Yesus.

Saat mengutarakan panggilan hatinya untuk memeluk Katolik pada kedua orang tuanya, Bapaknya hanya berpesan satu hal, yakni agar Warno menjadi seorang Katolik yang baik. Menurut orangtuanya, semua agama itu baik, tapi tergantung individunya. Sejak saat itulah, Warno menjadi seorang Katolik yang taat, hingga sekarang.

Beberapa jabatan penting pada Stasi Santo Petrus Panjang pernah diemban Warno, termasuk Ketua. Dalam karier pun putra dari Jawahir Sabda dan Nyi Tasih ini menduduki jabatan penting, baik di perusahaan maupun di sekolah tempat dia mengabdi, Xaverius, hingga pensiun tahun 2000-an lalu.

Keasyikan perbincangan kami dikejutkan dengan teriakan ibu suara pedagang sayur dari ujung gang menawarkan barang daganannya. Warno dengan aba-aba singkatnya, mematahkan harapan si tukang sayur, hingga berlalu gontai mendorong kembali gerobaknya ke gang berikutnya.

Menyoroti dunia pendidikan bapak tiga anak ini begitu prihatin dengan kondisi sekarang. Maraknya tindak kriminalitas adalah akibat rendahnya “kadar” sopan-santun. Menurut kacamatanya ini adalah dampak dari dihapusnya mata pelajaran budi pekerti pada waktu itu. Walau sekarang di beberapa sekolah sudah kembali memberikan pelajaran budi pekerti, tapi itu belum membuahkan hasil signifikan bagi pembentukan karakter anak. Selain sekolah, orang tua menjadi penentu terbentukya karakter pada anak.

Rosario terlihat melingkar di leher Warno, sepintas kami berasumsi bahwa Warno sosok yang begitu religius. Ternyata dugaan kami tak meleset, mungkin karena aura positif nama belakang pria kelahiran Cirebon ini yakni Sabdo (sabda). Warno bersama keluarganya tak lepas dari ritual doa bersama setiap hari. Salah satu yang dilakukan secara besama-sama selain di meja makan ialah doa bersama yang mereka namai “Doa Magriban”. Ini ternyata adalah Doa Kerahiman Tuhan. Walaupun tidak ada tempat khusus untuk berdoa di rumahnya, tapi Doa Magriban ini telah menjadi bagian hidup dalam keluarga Warno.

Menjadi seorang pendidik baginya merupakan anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan padanya. Tedapat kebahagian tersendiri diakui warga Lingkungan Stasi Panjang ini.

Pada akhir perbincangan Warno berpesan untuk senantiasa hidup sesuai ajaran Kristus serta menikmati pekerjaan yang kita emban, apapun itu.***

Reporter : Robert

759 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *